Kapal selam Argentina hilang sejak pekan lalu, keluarga korban 'mulai pasrah'

kapal selam argentina Hak atas foto ALFONSINA TAIN/AFP
Image caption Seorang anggota keluarga awak kapal selam Argentina yang dinyatakan hilang berdoa di antara keluarga lainnya.

Para keluarga awak kapal selam Argentina yang hilang di dasar laut, dua pekan lalu, mulai khawatir upaya pencarian yang melibatkan banyak pihak itu tidak akan membuahkan hasil.

Di antara mereka terlihat berdoa di pangkalan Angkatan Laut (AL) Argentina di Mar del Plata, Sabtu (25/11), sambil menunggu perkembangan terbaru upaya pencarian kapal selam beserta 44 orang awak di dalamnya.

Beberapa orang dari keluarga awak kapal selam itu mulai khawatir upaya pencarian itu akan memakan waktu lama sehingga mustahil orang-orang yang dicintainya dapat diselamatkan dalam kondisi hidup.

Mereka juga merasa frustrasi terhadap proses pencarian yang mereka anggap berjalan lamban.

Awak kapal selam itu terakhir melakukan kontak dengan otoritas AL Argentina pada 15 November lalu, karena mengaku ada "gangguan daya listrik".

Kapal selam bernama ARA San Juan itu dinyatakan hilang saat dalam perjalanan kembali ke pangkalannya setelah mengikuti misi latihan rutin di wilayah Ushuaia, di ujung selatan negara itu.

Hak atas foto LEO CORREA/AFP
Image caption Seorang awak kapal selam AL Brasil yang akan dilibatkan dalam pencarian kapal selam Argentina yang hilang.

Kapal selam naas itu itu mengangkut 44 orang awak kapal yang dipimpin komandannya, Pedro Martín Fernández.

Dari 44 orang awaknya, hanya satu berjenis kelamin perempuan, yaitu Eliana María Krawczyk, yang berusia 35 tahun. Dia adalah perwira perempuan pertama di Argentina yang bertugas di kapal selam.

Sejumlah laporan menyebutkan salah-satu calon awak kapal selam itu lolos dari tragedi itu karena dia tengah mengunjungi ibunya yang sakit, dan posisinya digantikan oleh orang lain.

Gangguan arus pendek?

Angkatan Laut (AL) Argentina menegaskan kapal selam yang hilang itu dalam kondisi baik dan telah melewati sistem pemeriksaan keamanan sebelum mengikuti misi pelatihan pada 10 hari lalu.

Hak atas foto EITAN ABRAMOVICH/AFP
Image caption Beberapa orang dari keluarga awak kapal selam itu mulai khawatir upaya pencarian itu akan memakan waktu lama sehingga mustahil orang-orang yang dicintainya dapat diselamatkan dalam kondisi hidup.

Sejumlah keluarga dari 44 orang awak kapal selam yang hilang menganggap kapal selam berusia 34 tahun itu dalam keadaan rusak parah.

Hari Jumat lalu, pimpinan negara itu menyatakan akan membentuk tim penyelidik untuk mengungkap "kebenaran" di balik hilangnya kapal selam tersebut setelah dalam sepekan ini diwarnai ketidakpastian dan spekulasi.

Seorang komandan angkatan laut mengatakan awak kapal selam itu sempat melaporkan adanya kerusakan yang digambarkan sebagai "gangguan arus pendek" di dalam baterainya.

Dalam kontak berikutnya, awak kapal selam itu mengatakan bahwa gangguan itu berhasil diperbaiki dan kapal selam kemudian melanjutkan perjalanan ke pangkalan.

Bagaimanapun, harapan untuk menemukan korban dalam kondisi selamat semakin memudar di kalangan keluarga, walaupun sudah ada upaya pencarian yang melibatkan berbagai negara.

"Secara bersamaan, kami seperti berada antara harapan dan putus asa," kata juru bicara Angkatan Laut, Enrique Balbi.

"Untuk mendeteksi keberadan kapal selam itu, kami harus melangkah dengan pijakan bukit-bukti yang kuat," katanya.

Di hadapan wartawan, Balbi mengatakan bahwa sistem keamanan kapal selam itu telah diperiksa dua hari sebelum berlayar.

Hak atas foto EPA
Image caption "Secara bersamaan, kami seperti berada antara harapan dan putus asa," kata juru bicara Angkatan Laut Argentina, Enrique Balbi.

Pada Sabtu, Rusia bergabung dalam operasi pencarian bersama kapal selam naas tersebut. Mereka mengirim peralatan khusus yang diangkut salah satu pesawat terbesarnya.

Mereka membawa kapal selam tak berawak, dikenal dengan nama Pantera Plus, yang dapat menyelam hingga kedalaman 1.000 meter.

Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) juga mengerahkan kapal sellam tak berawak untuk bergabung dalam proses pencarian.

Inggris, Brasil, Cile, Norwegia, Jerman, Kanada, Prancis, Peru, Kolombia dan Uruguay juga membantu untuk menemukan kapal selam tersebut.

Image caption 44 awak kapal selam yang diantaranya adalah seorang perempuan.

Pada Kamis lalu, Organisasi Perjanjian Pelarangan Uji coba Nuklir Komprehensif (CTBTO) mengaku tekah mendeteksi "sinyal yang tidak biasa" di dekat lokasi kapal selam Argentina yang hilang tersebut.

Organisasi yang berbasis di Wina itu mengoperasikan stasiun pemantauan yang dilengkapi dengan perangkat termasuk hidrofon - mikrofon bawah air yang memindai samudra untuk gelombang suara.

"Dua dari stasiun pemantauan mendeteksi sinyal yang tidak biasa," ungkap CTBTO, Jumat (24/11) lalu.

AS juga melaporkan adanya "anomali hidro-akustik" beberapa jam setelah kapal selam itu dinyatakan hilang, di dekat dengan lokasi terakhir yang diketahui.

Informasi ini telah didengar keluarga awak kapal selam, sehingga sempat menurunkan harapan mereka, walaupun sejauh ini tim pencari belum menemukan puing-puing.

Berita terkait