Negara-negara Arab kecam pengakuan Trump 'Yerusalem ibukota Israel'

Palestina Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Muslim Palestina melakukan salat Jumat di depan Masjid Kubah Batu di komplek masjid al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem pada 8 Desember lalu.

Menteri luar negeri negara-negara Arab mengatakan pengakuan Presiden AS Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel berisiko menyebabkan Timur Tengah ke dalam "kekerasan dan kerusuhan" yang lebih buruk.

Pernyataan disampaikan para menteri luar negeri yang tergabung dalam Liga Arab itu menyebutkan pengakuan AS itu juga mengakhiri netralitas AS dalam masalah yang paling sensitif di kawasan tersebut.

Liga Arab mengatakan bahwa saat ini AS tidak dapat diandalkan sebagai penengah dalam perdamaian di Timur Tengah.

Pernyataan 22 negara itu, termasuk sekutu dekat AS, disampaikan setelah kekerasan dan protes di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang telat berlangsung selama tiga hari.

Israel selalu menganggap Yerusalem sebagai ibukotanya, sementara Palestina mengklaim Yerusalem Timur - yang dikuasai Israel pada perang 1967 - sebagai ibukota masa depan negara Palestina.

Bagi Trump keputusan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel adalah untuk memenuhi janji kampanye dan dia mengatakan "tidak lebih dan tidak kurang merupakan pengakuan atas realitas".

Namun, pengakuan itu telah memicu kritik keras, termasuk dari berbagai negara termasuk Indonesia.

Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES
Image caption Bentrokan terjadi di Nablus Tepi Barat pada Sabtu (09/12).

Resolusi Liga Arab disepakati pada Minggu (10/12) pukul 03.00 waktu Kairo, didukung oleh sejumlah negara sekutu AS, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania, yang telah menyuarakan kekhawatiran mereka.

Resolusi menyebutkan :

  • AS telah "menarik diri sebagai sponsor dan perantara" dalam proses perdamaian Israel-Palestina melalui keputusannya.
  • Langkah Trump "meningkatkan ketegangan, memicu kemarahan dan mengancam kawasan ke dalam kekerasan dan kerusuhan"
  • Akan meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengecam langkah tersebut

Dewan keamanan PBB melakukan pertemuan darurat pada Jumat (08/12), dengan 14 negara anggota yang mengecam keputusan Trump.

Tetapi duta besar AS Nikki Haley menuduh PBB telah bias, dengan mengatakan itu "telah menjadi salah satu yang paling memusuhi Israel di dunia," dan AS masih berkomitmen untuk menemukan perdamaian.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Seorang pria berjalan di depan mural Trump di Tepi Barat.

Pada Sabtu (09/12) Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan telah mendengar "suara-suara yang mengecam pengumuman Presiden Trump yang bersejarah" tetapi "belum mendengar kecaman atas penembakan roket terhadap Israel dan hasutan yang mengerikan terhadap kami".

Tiga roket telah ditembakkan dari Gaza ke Israel pada Jumat lalu, yang menyebabkan Israel melakukan serangan udara sebagai balasan. Serangan udara Israel itu disebutkan menimpa situs militer milik kelompok Islamis Hamas, dan menewaskan dua anggotanya.

Ratusan orang melancarkan protes di Tepi Barat dan Gaza pada Sabtu (09/12) lalu, dengan jumlah pemrotes yang lebih sedikit dibandingkan hari sebelumnya.

Di bagian utara Israel, sebuah bus dilempari dengan batu ketika melintas di daerah yang dihuni komunitas Arab, dan menyebabkan tiga warga Israel terluka, seperti dilaporkan Haaretz.

Ribuan orang warga Palestina menggelar protes pada Jumat (08/12), dan sejumlah unjuk rasa sebagai solidaritas untuk Palestina juga dilakukan di negara-negara Arab dan negara mayoritas Muslim.

Berita terkait