Paus Fransiskus bandingkan para pengungsi dengan Maria dan Yusuf

Pope Francis prays during a Christmas Eve Mass at St Peter's Basilica in the Vatican. Photo: 24 December 2017 Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Paus mengatakan bahwa banyak yang dipaksa menjadi pengungsi karena melarikan diri dari para pemimpin yang "tidak menganggap ada masalah dalam menumpahkan darah orang-orang tidak berdosa".

Paus Fransiskus, dalam Misa Malam Natal, mendesak dunia untuk tidak mengabaikan nasib jutaan migran dan pengungsi "yang diusir dari tanah air mereka."

Sri Paus membandingkan para migran dan pengungsi itu dengan Maria dan Yusuf: ia mencuplik kisah Alkitab tentang bagaimana keduanya harus melakukan perjalanan dari Nazaret ke Betlehem namun tidak menemukan penampungan.

Banyak migran dan pengungsi, katanya, dipaksa melarikan diri dari para pemimpin yang "tidak menganggap ada masalah dalam menumpahkan darah orang-orang tidak berdosa".

Sri Paus akan memberikan pidato tradisional Natal "Urbi et Orbi" pada hari Senin (25/12) ini.

"Begitu banyak jejak lain yang tersembunyi dalam jejak Yusuf dan Maria," kata paus asal Argentina berusia 81 tahun itu, kepada para jemaat di Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan pada Minggu malam.

"Kita melihat jejak jutaan orang yang tidak memilih untuk pergi tapi diusir dari tanah air mereka, meninggalkan orang-orang yang mereka sayangi."

Pemimpin 1,2 miliar umat Katolik Roma ini juga menekankan bahwa iman Kristiani menuntut bahwa orang asing disambut di mana pun.

Paus Fransiskus sendiri merupakan cucu dari seorang migran Italia di Argentina. Ia menjadikan pembelaan dan perlindungan bagi kaum migran di seluruh dunia sebagai tema utama kepausannya.

Saat ini jumlah migran dan pengungsi di seluruh dunia melebihi 22 juta. Arus lintas perbatasan terakhir adalah kaum Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan yang mereka derita di Myanmar.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Pramuka Palestina memainkan musik saat Malam Natal.

Di Bethlehem, Palestina, orang-orang berkumpul di alun-alun Manger untuk mengikuti parade tahunan pramuka di dekat Gereja Nativitas, yang dibangun di tempat yang diyakini orang Kristen sebagai tempat lahirnya Yesus.

Namun jumlah peziarah Kristen di kota yang terletak Tepi Barat itu karena meningkatnya ketegangan antara orang-orang Palestina dan tentara Israel sejak Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Berita terkait