Jatuh 12 korban jiwa sejak Trump tetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel

Palestina, Mohammad Sami al-Dahduh, Gaza Hak atas foto EPA
Image caption Mohammad Sami al-Dahduh merupakan korban jiwa yang ke-12 dalam aksi menentang kebijakan Presiden Trump atas Yerusalem.

Kementrian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengukuhkan dua pria tewas setelah menderita cedera dalam bentrokan dengan tentara Israel di kawasan perbatasan.

Keduanya adalah Mohammad Sami al-Dahduh, remaja berusia 19 tahun yang kena tembak dalam aksi unjuk rasa 15 Desember lalu, dan Sharif Shalash, pria 28 tahun yang juga menderita luka tembak saat ikut protes Minggu (17/12) lalu.

Tewasnya kedua warga Palestina itu membuat jumlah korban mencapai 12 jiwa di Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak Presiden Donald Trump menyatakan Yerusalam sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember.

Sejak masih berupa wacana, kebijakan itu sudah ditentang dunia internasional dan belakangan memicu unjuk rasa di berbagai tempat, termasuk di Jakarta.

Salah satu korban jiwa dalam aksi unjuk rasa 15 Desember di Jalur Gaza untuk menentang kebijakan Presiden Trump adalah Ibrahim Abu Thurayeh, yang kehilangan kedua kakinya dalam serangan Israel satu dekade lalu, seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Kementrian Kesehatan Gaza menyatakan Abu Thurayeh meninggal karena tembakan di bagian kepala oleh seorang penembak jitu.

Komisi hak asasi manusia PBB sudah mendesak agar dilakukan penyelidikan yang 'mandiri dan tidak berpihak' atas kematiannya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Abu Thurayeh -yang kehilangan kaki dalam serangan Israel satu dekade lalu- tewas dalam aksi pada 15 Desember.

Namun tentara Israel, tiga hari setelah insiden itu, mengaku sudah melakukan penyelidikan dan menyatakan 'tidak mungkin memastikan apakah Abu Thurayeh tewas sebagai akibat dari cara-cara membubarkan kerusuhan atau apa yang menyebabkan kematiannya."

"Tidak ada peluru api yang diarahkan pada Abu Thurayeh," tulis pernyataan militer Israel.

Kebijakan Trump menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel memicu unjuk rasa di Jalur Gaza dan Tepi Barat dengan beberapa diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan Israel.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Aksi unjuk rasa menentang kebijakan Trump juga berlangsung di Jakarta, antara lain pada Minggu 17 Desember.

Sebuah resolusi PBB yang meminta Amerika Serikat mencabut keputusan itu sudah disahkan lewat pemungutan suara Majelis Umum PBB dengan 128 mendukung, sembilan menentang, dan 35 abstain.

Sehari sebelumnya penghitungan suara, Presiden Trump mengancam akan memutus bantuan keuangan atas negara-negara pendukung resolusi namun tetap saja resolusi yang tidak mengikat itu -yang juga didukung Indonesia- berhasil disahkan dengan suara mayoritas.

Bagaimanapun keputusan itu langsung didukung penuh oleh Guatemala, yang sudah menyatakan akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem, sejalan dengan kebijakan Trump.

Presiden Jimmy Morales, Minggu (24/12) mengatakan sudah menginstruksikan untuk memulai 'koordinasi yang diperlukan' sebelum memindahkan kedutaannya.

Berita terkait