Unjuk rasa antipemerintah di Iran tewaskan 14 orang, termasuk seorang anggota polisi

Iran, Teheran, unjuk rasa Hak atas foto AFP
Image caption Selain di ibu kota Teheran, unjuk rasa juga berlangsung di beberapa kota lain.

Unjuk rasa di Iran hingga Senin (01/01) malam telah menewaskan 14 orang, termasuk seorang anggota polisi.

Polisi Iran mengatakan salah satu anggota mereka tewas tertembak dalam aksi unjuk rasa antipemerintah yang berlangsung di sejumlah kota.

Juru bicara polisi mengatakan seorang pengunjuk rasa 'bersenjatakan senapan berburu' mengeluarkan tembakan di kota Najafabad di Iran tengah.

Ini diyakini sebagai kematian pertama di pihak aparat keamanan, sejak demonstrasi pecah pada Kamis (28/12) pekan lalu. Tadi malam digelar lebih banyak aksi di sejumlah kota, termasuk ibu kota Teheran dan Kermanshah.

Presiden Hassan Rouhani pada hari Minggu -dalam komentar pertamanya tentang protes yang menentang pemerintah itu- memperingatkan bahwa kekerasan tidak akan ditolerir.

Bagaimanapun Presiden Rouhani menyadari adanya keluhan atas situasi ekonomi, kurangnya transparansi maupun korupsi sambil sekaligus membela kebijakannya.

Rakyat, menurutnya, sepenuhnya bebas untuk mengungkapkan kritik atas pemerintah atau menggelar aksu unjuk rasa... dengan 'cara yang bisa mengarah pada peningkatan kondisi negara' dan memperingatkan penentangan atas aksi kekerasan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Rouhani mengaku hak mengkritik rakyat Iran namun memperingatkan tidak akan mentolerir kekerasan.

Namun protes berlanjut sepanjag malam dan polisi menggunakan gas air mata serta meriam air untuk membubarkan unjuk rasa di Alun-alun Engheleb di ibu kota Teheran.

Unjuk rasa juga dilaporkan berlangsung di Kermanshah dan Khorramabad di sebelah barat Iran, Shahinshahr di barat daya, dan kota di Iran utara, Zanjan.

Berawal di kota terbesar kedua Iran, Mashhad, pada Kamis pekan lalu, unjuk rasa ini merupakan ungkapan penentangan atas pemerintah yang terbesar setelah protes untuk menentang hasil pemilihan presiden 2009 lalu, yang kemudian dibungkam dengan tindakan kekerasan aparat.

_________________________________________________________________________

Ke mana arah dari unjuk rasa?

oleh Kasra Naji, BBC Persia

Ada kemarahan yang meluas dan bergelora di Iran, di bawah penindasan dan memburuknya perekonomian. Sebuah kajian oleh BBC Persia menemukan secara rata-rata orang Iran lebih miskin 15% selama 10 tahun belakangan.

Unjuk rasa tetap terbatas dalam kantong-kantong kecil dan sebagian besar pengunjuk rasa adalah kaum muda pria yang menuntut mundurnya rezim ulama.

Hak atas foto EPA
Image caption Banyak kaum muda yang turun dalam unjuk rasa terbesar sejak protes menentang hasil pemilu 2009 lalu.

Namun aksi menyebar ke kota-kota kecil di seluruh negeri dan memiliki potensi untuk berkembang menjadi besar.

Bagaimanapun tidak ada kepemimpinan yang jelas. Tokoh-tokoh oposisi sudah lama dibungkam atau dibuang ke pengasingan dan tidak ada tokoh yang kuat di pengasingan yang bisa memiliki pengikut yang besar.

Beberapa pengunjuk rasa menyerukan kembalinya sistem kerajaan dan putra mantan Syah Iran, Reza Pahlevi, yang mengasingkan diri ke Amerika Serika sudah mengeluarkan pernyataan mendukung pengunjuk rasa.

Akan tetapi tanda-tandanya memperlihatkan bahwa dia, sama seperti orang-orang lainnya, tidak mengetahui ke mana arahnya unjuk rasa ini.

________________________________________________________________________

Sementara itu Garda Revolusioner Iran, IRGC, sudah memperingatkan bahwa para pengunjuk rasa akan menghadapi 'tangan besi' bangsa jika kerusuhan politik terus berlangsung.

IRGC merupakan badan yang berpengaruh yang berhubungan langsung dengan pemimpin agung Ayatullah Ali Khamenei dan bertujuan untuk melindung sistem Islam di negara itu.

Para wartawan melaporkan bahwa keterlibatan mereka secara resmi untuk menghadapi unjuk rasa akan merupakan eskalasi yang signifikan.

Hak atas foto EPA
Image caption Berawa dari ketidakpuasan atas perekonomian Iran, unjuk rasa berkembang menjadi ungkapan antipemerintah.

Hingga saat ini sekitar 400 orang dilaporkan sudah ditangkap, termasuk 200 orang yang berunjuk rasa di Teheran pada Sabtu (30/12) lalu.

Pihak berwenang juga sudah melakukan pembatasan atas media sosial -yaitu Telegram dan Instagram- karena kekhawatiran digunakan untuk menjalin unjuk rasa.

Media pemerintah mulai menyiarkan beberapa rekaman gambar tentang unjuk rasa ini namun terfokus pada kaum muda yang menyerang bank-bank dan kendaraan bermotor serta bendera Iran yang dibakar, seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Sementara rekaman video yang diperoleh BBC Persia memperlihatkan polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa di sebuah persimpangan besar di Teheran.

Unjuk rasa ini awalnya memprotes meningkatnya harga-harga dan kesulitan ekonomi namun kemudian berkembang menjadi ungkapan politik di beberapa tempat dengan seruan menentang Pemimpin Agung Ayatullah Ali Khamenei, Presiden Hassan Rouhani, dan campur tangan Iran dalam politik kawasan.

Topik terkait

Berita terkait