Di balik gelombang protes di Iran: Pemicu ketidakpuasan terhadap pemerintahan mullah

Demonstran di Teheran Hak atas foto EPA
Image caption Unjuk rasa berlangsung di sekitar Universitas Teheran meskipun tidak jelas apakah semua peserta adalah mahasiswa.

Televisi pemerintah Iran melaporkan sembilan orang lagi terbunuh dalam bentrokan pada Senin malam (01/01) antara pasukan keamanan dan pemrotes sehingga jumlah orang yang meninggal dunia dalam kekerasan selama enam hari terakhir menjadi 22 orang.

Pihak berwenang mengatakan di antara sembilan orang yang terbunuh pada Senin malam terdapat enam orang di Qahdarijan, Provinsi Isfahan, ketika demonstran berusaha mencuri senjata dari kantor polisi setempat.

Korban yang lain meliputi anggota Garda Revolusi dan kepolisian.

Sejauh ini 450 pemrotes ditangkap di ibu kota Iran, Teheran, sejak Sabtu. Unjuk rasa kali tercatat sebagai aksi terbesar sejak pemilihan presiden tahun 2009 yang hasilnya dipersoalkan.

Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan musuh-musuh Iran menghasut kekacauan di negaranya.

Pemicu demonstrasi

Unjuk rasa bermula Kamis pekan lalu (28/12) di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran, dan sejak itu protes menyebar ke sejumlah kota, termasuk di Teheran.

Kelompok pengunjuk rasa tidak puas dengan kondisi perekonomian, pengangguran dan inflasi di dalam negeri. Namun pada satu sisi, Iran mengeluarkan uang dalam jumlah besar karena keterlibatannya dalam perang di Suriah dan Yaman untuk menyebut sebagian.

Jadi sebagian warga Iran meminta pemerintah menggunakan dana itu untuk mengurus rakyatnya sendiri, bukan untuk membiayai konflik di kawasan.

"Ekonomi di sini semakin memburuk, salah satunya karena ada rencana untuk menaikan harga bahan bakar di Iran. Selain itu, sebagian warga tidak puas karena tidak semua warga menerima subsidi yang seharusnya diberikan oleh pemerintah," papar Asep Nasrullah, ketua Ikatan Pelajar Indonesia di Iran.

Hak atas foto Asep Nasrullah
Image caption Asep Nasrullah mengatakan harga cabai pedas, yang juga sulit didapat, melonjak belakangan.

Kenaikan biaya hidup kian menjepit rakyat, terutama kalangan bawah. Asep Nasrullah, yang baru saja pulang dari pasar ketika memberikan wawancara kepada BBC Indonesia, memberikan contoh kenaikan harga kebutuhan.

"Saya tadi membeli cabai pedas. Biasanya minggu-minggu sebelumnya harganya 60.000-70.000 real atau sekitar Rp15.000/kg, tadi menjadi 110.000-120.000/kg. Akhirnya saya tawar dan harganya menjadi 90.000/kg."

Masuk ke politik

Meskipun awalnya demonstrasi mengangkat isu-isu ekonomi, aksi lantas merambah ke masalah politik.

Kelompok pengunjuk rasa mengecam sosok-sosok penting yang berkuasa di Republik Islam dan sebagian bahkan menyerukan kembalinya ke pemerintahan monarki yang digulingkan dalam revolusi tahun 1979, lapor redaktur masalah Timur Tengah BBC, Jeremy Bowen.

Hak atas foto EPA
Image caption Ayatollah Ali Khamenei menemui anggota keluarga aparat keamanan yang terbunuh dalam aksi demonstrasi, di Teheran, Selasa (02/01).

Dalam komentar pertamanya sejak pecah kerusuhan, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan musuh-musuh Iran adalah pihak-pihak yang menghasut kekacauan.

Ditegaskan oleh Khamenei bahwa musuh-musuh itulah yang menyediakan dana tunai, senjata dan agen intelijen bagi kelompok demonstran.

"Melihat peristiwa-peristiwa selama beberapa hari terakhir, mereka semua yang menentang Republik Islam, mereka semua yang mempunyai uang, mereka yang berada di dunia politik, mereka yang mempunyai senjata, mereka yang menjalankan lembaga-lembaga keamanan, mereka semua bekerja sama untuk menimbulkan masalah bagi kemapanan Islam, Republik Islam dan Revolusi Islam," kata Ayatollah Ali Khamenei dalam situs resminya, Selasa (02/01).

Ia tak sampai merinci pihak-pihak yang dituding terlibat. Lebih jauh ia akan menyampaikan pidato nasional tentang situasi terbaru ketika waktunya tepat.

"Saya mempunyai penilaian sendiri tentang kejadian-kejadian selama beberapa hari terakhir dan Insya Allah, saya akan menyampaikannya kepada rakyat tercinta kita."

Siapakah penggerak demonstrasi?

Redaktur masalah Timur Tengah BBC, Jeremy Bowen, melaporkan gerakan yang muncul di Iran saat ini bukanlah revolusi baru, "tetapi protes-protes ini merupakan yang terbesar di Iran sejak pemilihan presiden yang disengketakan tahun 2009".

"Bagaimanapun, kali ini gerakan ini tampaknya tanpa pemimpin nasional," tambahnya.

Dalam aksi unjuk rasa di sejumlah kota, kelompok yang tampak menonjol adalah mereka yang menentang pemerintah, sedangkan mahasiswa belum banyak yang terlibat.

"Kalau yang saya amati, pertama-tama yang mengadakan demonstrasi kebanyakan adalah kelompok Zidde Daulath, yaitu orang-orang yang kontra akan pemerintah di sini," kata Asep Nasrullah.

Dikatakannya, mereka pada umumnya anak-anak muda yang menentang pemerintahan pimpinan para mullah atau ulama.

Hak atas foto KBRI Teheran
Image caption Dubes Octavino Alimudin (kedua dari kiri) dalam pertemuan Komite Konsultasi Bilateral Indonesia-Iran di Teheran pada September 2017. Menurut Dubes Octavino Alimudin, para diplomat asing belum diberi briefing mengenai perkembangan terbaru di Iran.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran merangkap Turkmenistan, Octavino Alimudin, menjelaskan di antara kerumunan demonstran terdapat banyak anak muda.

"Saya sendiri tidak melihat mereka dari mana karena umumnya mereka tidak memakai seragam, jadi memang mereka masyarakat setempat. Dan kalaupun mereka berkumpul di depan universitas, itupun tidak kemudian itu adalah dari mahasiswa universitas terkait," katanya.

Modus unjuk rasa

Presiden Hassan Rouhani sebelumnya mengatakan rakyat Iran bebas untuk memprotes pemerintah namun tidak boleh membahayakan keamanan seraya menambahkan kekerasan tidak akan ditoleransi.

Meski dari jumlah kota dan peserta unjuk rasa kini berkurang, kata Dubes Octavino Alimudin, aksi ini masih mungkin berlanjut.

"Aksi unjuk rasa ini mungkin diawali dengan kerumunan massa, kemudian mereka bergerak ke taman atau ke depan universitas. Dari pergerakan tersebut semakin banyak massa yang ada dan apabila kondisinya tidak kondusif, memang dibubarkan oleh aparat keamanan."

Keamanan

Situasi keamanan di Iran secara umum dilaporkan lebih baik pada Selasa (02/01, meskipun aparat keamanan tampak berjaga-jaga di titik-titik penting.

Di Gorgan, misalnya, sekitar 400 km dari Teheran, polisi dapat dilihat di jalan-jalan.

"Saya waktu pergi ke pasar melihat banyak polisi mengamankan di titik-titik kota. Polisi banyak mengadakan pengamanan mungkin karena takut terjadi demonstrasi," jelas Asep Nasrullah, seorang mahasiswa Indonesia di Gorgan.

Hak atas foto HAMED MALEKPOUR/AFP
Image caption Aksi unjuk rasa dilatarbelakangi kemarahan warga atas kenaikan biaya hidup di Iran.

Adapun di ibu kota Iran, Teheran, situasi juga berangsur-angsur tenang meskipun penjagaan semakin ketat.

"Dua hari lalu sampai ada meriam air untuk mengusir mereka (pengunjuk rasa). Ini yang kami lihat di kota Teheran. Untuk tadi malam, itu sudah tidak ada.

"Memang jumlah personel polisi, penegak hukum atau aparat keamanan memang semakin banyak tapi kita tidak melihat situasinya sampai mencekam seperti pada tanggal 31 Desember," papar Dubes Octavino Alimudin.

Briefing diplomat dan kekhawatiran keamanan

Mungkin karena sekarang masih dalam suasana libur Tahun Baru, Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan briefing kepada kalangan diplomat asing yang bertugas di negara itu.

Namun menurut Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran merangkap Turkmenistan, Octavino Alimudin, para diplomat berbagi informasi, terutama menyangkut kondisi keamanan.

"Jadi kita belum sampai fokus melihat siapa yang dinilai sebagai musuh atau pun juga mungkin siapa yang mendalangi ini semua, kami dari kalangan diplomatik memang belum ada pembahasan sejauh itu."

"Kami sendiri dari KBRI Teheran, yang kami utamakan adalah bagaimana ini mempengaruhi perkantoran ataupun juga kegiatan usaha."

Sejauh ini, lanjutnya, demonstrasi tidak sampai memaksa kegiatan sehari-hari berhenti, termasuk perdagangan, sekalipun toko-toko berada di sekitar lokasi demonstrasi.

Khusus untuk warga negara Indonesia yang belajar atau bekerja di Iran, kata Dubes Octavino Alimudin, mereka dimbau untuk menghindari tempat-tempat yang menjadi kerumunan massa, dan juga menghindari lokasi-lokasi kerumunan massa yang sudah diawasi aparat keamanan.

Jumlah WNI yang berada di Iran tercatat 370 orang, sebagian besar berada di kota Qom, sekitar 125 km dari Teheran.

Topik terkait

Berita terkait