Kisah pembelot Korea Utara yang muncul pada pidato kenegaraan Trump

korut Hak atas foto Getty Images
Image caption Ji Seong-ho membawa tongkat penyangga dari kayu yang dibawanya saat kabur dari Korea Utara pada 2006.

Seorang pria tampil membawa tongkat penyangga saat Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan. Nama pria itu Ji Seong-ho dan dia adalah pembelot asal Korea Utara.

Siapa Ji Seong-ho?

Jarang ada orang yang tahu siapa Ji Seong-ho, ketika Donald Trump menyebut namanya dari podium.

Sebagaimana dipaparkan Trump, Ji pernah mencoba mencuri batubara dari kereta api sehingga dia bisa menukarnya untuk makanan. Dia berhasil memanjat gerbong kereta, tapi kehilangan kesadaran akibat terlalu lapar.

Saat terjaga, Ji baru sadar bahwa dirinya jatuh di celah antara gerbong dan tergeletak di rel kereta. Sebelum dia mampu bangkit berdiri, sebuah kereta terlanjur melindas tubuhnya.

Ji luput dari maut, namun tangan kiri dan kakinya rusak parah. Ji lantas dibawa ke rumah sakit dan dioperasi tanpa menggunakan morfin atau obat bius lainnya. Operasi itu berlangsung 4,5 jam.

"Saking kencangnya teriakan saya, suaranya mungkin seperti menonton film aksi di bioskop," kenang Ji kepada sebuah kelompok pelindung hak asasi manusia, dalam wawancara yang dimuat harian The Guardian.

"Tiada yang menolong".

Bagaimana dia bisa lolos dari Korut?

Pada 2000, Ji memutuskan menyelinap ke Cina untuk mencari makanan. Dia melewati perbatasan dan menjelajahi hutan dengan tongkat penyangga yang terbuat dari kayu.

Tatkala kembali dari Cina, dia ditangkap dan disiksa aparat Korut.

Barulah pada 2006 dia memutuskan kabur dari Korut secara permanen bersama adiknya. Mereka sampai di Cina melalui Sungai Tumen dan belakangan berpisah. Ji cemas kondisi fisiknya akan membuat mereka ditangkap.

Dengan bantuan beberapa orang, Ji berkelana di Cina dan akhirnya sampai di Korea Selatan. Di sanalah dia bertemu kembali adiknya.

Mereka kemudian mencoba menghubungi sang ayah yang bermukim di Kota Hoeryeong, Korut.

Menurut wawancara dengan The Freedom Collection, kakak-beradik itu awalnya berencana mengupayakan agar sang ayah bisa diungsikan dari Korut begitu mereka berhasil mencapai Korsel.

Namun, belakangan baru terungkap bahwa sang ayah telah ditangkap saat berupaya kabur dengan upaya sendiri. Aparat Korut lantas menyiksanya sampai dia mengembuskan napas terakhir.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ji mendirikan organisasi Now, Action, Unity, Human Rights (NAUH) yang bertujuan meningkatkan pemahaman khalayak mengenai kondisi hidup rakyat Korut.

Apa yang dia lakukan sekarang?

Saat ini, pria berusia 36 tahun itu menetap di Seoul dan membantu pembelot Korut lainnya.

Dia mendirikan organisasi Now, Action, Unity, Human Rights (NAUH) yang bertujuan meningkatkan pemahaman khalayak mengenai kondisi hidup rakyat Korut.

Ji telah diundang untuk berpidato di sejumlah konferensi di banyak negara, termasuk Oslo Freedom Forum pada 2015. Judul pidatonya saat itu, "Pelarian mustahil saya dari Korea Utara".

Bagaimana reaksi masyarakat?

Ji disambut dengan tepuk tangan meriah di gedung Dewan Perwakilan Rakyat AS. Sambutan hangat juga diberikan kepadanya di dunia maya.

Sejumlah warganet di media sosial menyebutnya sebagai "insiprasi". Ada pula yang menekankan fakta bahwa dia tidak akan bisa masuk ke AS, jika masih berstatus sebagai pengungsi Korut, di bawah aturan imigrasi Trump.

Dalam pidato kenegaraan perdana Trump, dia mengecam Korut sebagai negara "bejat".

Dia memperingatkan bahwa AS akan "melancarkan serangkaian tekanan maksimum" untuk mencegah ambisi Pyongyang "yang sembrono terhadap rudal nuklir".

Akan tetapi, justru kisah Ji yang melalui berbagai penderitaan, yang mendapat sambutan paling meriah dari hadirin.

Berita terkait