FBI dan Gedung Putih 'bentrok' soal memo rahasia

Republican Devin Nunes pictured in July 2017 Hak atas foto APP / Gett Images
Image caption Memo rahasia itu disusun oleh staf dari anggota kongres dari Partai Rebublik, Devin Nunes

FBI mempertanyakan upaya Gedung Putih dan para politikus Partai Republik untuk merilis sebuah memo rahasia Kongres yang dikatakan menuduh FBI menyalahgunakan kewenangan pengintaian untuk mengincar Donald Trump.

"Kami memiliki kekhawatiran besar tentang hal ini terkait fakta yang secara fundamental memengaruhi akurasi memo tersebut," kata FBI dalam sebuah pernyataan.

Diperkirakan memo rahasia itu dibuka kepada umum pada hari Kamis (1/2) ini.

Para politikus Demokrat khawatir bahwa memo tersebut bisa jadi merupakan usaha untuk mendiskreditkan penyelidikan FBI terhadap hubungan tim kampanye Trump dengan Rusia.

Memo tersebut baru bisa dibuka jika disetujui Gedung Putih, namun kepala stafnya, John Kelly. mengatakan kepada Radio Fox News bahwa memo itu akan "dirilis di sini dengan sangat segera" agar "seluruh dunia" bisa melihatnya.

Apa yang kita tahu tentang isi memo itu?

Dokumen empat halaman disusun oleh staf kepala Komite Intelijen parlemen (HIE) Devin Nunes, dari partai Republik.

Tampaknya dokumen itu menuduh Departemen Kehakiman (D0J) dan FBI (Federal Bureau of Investigation) menyalahgunakan program pengintaian yang dikenal sebagai Foreign Intelligence Surveillance Act (FISA) selama kampanye pemilihan presiden tahun 2016.

Tuduhannya adalah FBI melakukan pengawasan terhadap seorang anggota kampanye Trump.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Direktur FBI Christopher Wray dilaporkan sangat khawatir dengan memo tersebut

Menurut anggota parlemen yang melihat memo tersebut, Nunes mengatakan bahwa FBI memperoleh surat perintah untuk memata-matai seorang staf kampanye Trump berdasarkan tuduhan yang tidak terbukti terhadap Trump yang dikenal sebagai "berkas Rusia".

Berkas itu disusun oleh mantan agen intelijen Inggris Christopher Steele dengan dana yang dibiayai sebagian dari kampanye Hillary Clinton.

Pada hari Senin lalu HIE memilih untuk merilis memo tersebut dan Trump memiliki waktu sampai akhir pekan untuk memutuskan apakah akan mengizinkannya.

Setelah pidato kenegaraannya pada hari Selasa malam, Trump terdengar mengatakan kepada seorang anggota parlemen dari Partai Republik bahwa dia "100%" akan merilis dokumen tersebut.

Kelly mengatakan Trump ingin "semuanya terbuka sehingga orang Amerika bisa mengambil keputusan sendiri".

Berita terkait