Cina, Rusia desak Amerika Serikat tinggalkan 'mentalitas Perang Dingin'

Kekuatan nuklir AS Hak atas foto Reuters
Image caption Kekuatan nuklir AS berbasis senjata di daratan, laut dan udara.

Cina mendesak Amerika Serikat meninggalkan "mentalitas Perang Dingin" setelah Washington mengatakan berencana untuk mendiversifikasi persenjataan nuklirnya dengan bom yang lebih kecil.

"Negara yang memiliki persenjataan nuklir terbesar di dunia, seharusnya mengambil inisiatif untuk mengikuti tren, bukan malah melawan tren itu," kata Kementerian Pertahanan Cina, hari Minggu (04/02).

Militer AS yakin senjata nuklirnya tampak terlalu besar untuk digunakan dan ingin mengembangkan bom berdaya rendah.

Rusia telah mengecam rencana tersebut.

Apa yang dikatakan Cina?

Cina mengatakan "dengan tegas" menantang kajian Pentagon mengenai kebijakan nuklir AS.

Kementerian pertahanan di Beijing mengatakan Washington memainkan ancaman nuklir Cina, dengan menambahkan kebijakan negaranya bersifat defensif.

"Kami berharap Amerika Serikat akan meninggalkan mentalitas Perang Dinginnya, dengan sungguh-sungguh bertanggung jawab terhadap pelucutan senjata, memahami dengan benar maksud dan memandang obyektif pertahanan nasional dan militer Cina," jelas pernyatan tersebut.

Tahun lalu Cina mengecam pengembangan strategi pertahanan Washington dan mendesak AS untuk meninggalkan "gagasan usang".

Dalam dokumen Kajian Postur Nuklir NPR yang dikeluarkan Pentagon, AS menuduh Cina "mengembangkan kekuatan nuklir yang dimilikinya" namun Cina mempertahanakan kebijakannya dan menyatakan "akan memegang teguh upaya perdamaian dan mendorong kebijakan pertahanan nasional yang bersifat defensif".

Hak atas foto EPA
Image caption Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov merasa 'kecewa' dengan rencana AS.

Bagaimana reaksi Rusia?

Menteri Luar Negeri Rusia menuduh AS melakukan upaya mendorong perang, dan mengatakan akan mengambil "tindakan yang diperlukan" untuk menjamin keamanan warga Rusia.

"Sejak pertama kali membaca, watak konfrontasi dan anti-Rusia muncul dihadapan Anda," kata dia dalam pernyataan Sabtu( 03/02) lalu.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyampaikan "kekecewaan yang mendalam" terhadap rencana ini.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kebijakan militer AS mengalami perubahan yang cukup signifikan di bawah Presiden Trump.

Apa sebenarnya kebijakan baru AS?

AS prihatin dengan persenjataan nuklir yang miliknya yang dianggap telah usang dan tidak lagi dapat menjadi alat pencegahan yang efektif. Amerika menyebut Cina, Rusia, Korea Utara dan Iran sebagai ancaman yang potensial.

Dokumen Pentagon yang dipublikasikan pada Jumat (02/02), yang disebut dengan Kajian Postur Nuklir NPR, menyebutkan pengembangan senjata nuklir yang lebih kecil akan membantah asumsi tentang senjata nuklir yang dimilikinya.

Lembaga itu mengusulkan pengembangan senjata berdaya rendah dengan kekuatan di bawah 20 kiloton tidak terlalu kuat namun tetap dapat menghancurkan. Kebijakan tersebut juga mengusulkan:

  • Rudal balistik berbassis di darat, rudal yang diluncurkan melalui kapal selam, dan senjata yang ditembakkan ke udara - untuk dimodernisasi, yang dimulai sejak mantan Presiden Barack Obama.
  • Usulan modifikasi sejumlah kapal selam yang memiliki hulu ledak nuklir akan menghasilkan daya ledak yang rendah atau ledakan yang kurang kuat.
  • Mengembalikan rudal nuklir untuk jelajah bawah laut.

Inti dari strategi pertahanan baru Amerika yang diumumkan bulan lalu, adalah melawan "peningkatan ancaman dari kekuatan revisionis", seperti Cina dan Rusia.

Berita terkait