Kasus Juan Barros: Surat pelecehan seks Cile bertentangan dengan keterangan Paus

Paus Franciskus Hak atas foto EPA
Image caption Kunjungan Paus Fransiskus ke Cile dan Peru dibayangi dengan skandal tersebut.

Seorang korban pastur paedofil di Cile mengungkapkan bahwa dia telah menulis surat kepada Paus Fransiskus pada tahun 2015 tentang dugaan 'upaya untuk mencegah orang menemukan kebenaran tentang kesalahan' setelah Paus menolak mendapatkan bukti.

Juan Carlos Cruz, korban Pastur Fernando Karadima pada 1980-an, menuduh rekan sejawatnya, Uskup Juan Barros menyaksikan pelecehan tersebut dan tidak melakukan apapun.

Hal ini menyebabkan kemarahan setelah kunjungan Paus ke Cile bulan lalu dan membela Uskup Barros, yang menjadi uskup pada tahun 2015.

Vatikan menolak untuk mengomentari surat tersebut saat diminta konfirmasi oleh BBC.

Paus Fransiskus mengatakan di masa lalu bahwa menangani pelecehan sangat penting bagi kredibilitas gereja dan pelaku harus menghadapi "sanksi".

Tuduhan apa yang tertuang dalam surat ini?

Cruz mengirim teks suratnya (ditulis dalam bahasa Spanyol) ke BBC, yang menunjukkan bahwa hal itu ditujukan secara pribadi kepada Paus Fransiskus dan tertanggal 3 Maret 2015.

Itu lebih dari dua minggu sebelum penahbisan uskup di kota Osorno, Cile selatan, sebuah peristiwa yang secara dramatis diganggu oleh ratusan pemrotes yang menuduh Uskup Barros 'menutup-nutupi' serangan seks Karadima terhadap anak laki-laki.

Hak atas foto Reuters
Image caption Bishop Barros (tengah) disambut oleh pendemo yang marah pada saat penasbihannya.

Uskup telah membantah bahwa dirinya mengetahui tentang "pelanggaran serius" yang dilakukan oleh Karadima, yang tidak pernah diadili di Cile karena telah banyak waktu berlalu.

Kendati begitu, ia dihukum oleh Vatikan untuk melakukan "penebusan dan doa" seumur hidup.

"Bapa Suci, saya memutuskan untuk menulis surat ini kepada Anda karena saya bosan bertengkar, menangis dan menderita," tulis Cruz.

"Cerita kami terkenal dan tidak ada gunanya mengingatkan Anda akan hal itu, kecuali untuk memberi tahu Anda tentang kengerian karena mengalami pelecehan ini dan bagaimana saya ingin bunuh diri."

Dalam suratnya, dia juga melampirkan teks lengkap dari sebuah surat yang ditulis sebulan sebelumnya kepada diplomat tertinggi Vatikan di Cile, Uskup Agung Ivo Scapolo.

Dalam surat itu, Cruz menuduh Uskup Barros "melakukan semua pekerjaan kotor Fernando Karadima", dan menggambarkan pelecehan yang dideritanya, yang diduga juga disaksikan oleh Uskup Barros.

Hak atas foto AFP
Image caption Karadima hanya dihukum oleh Vatikan terkait kasusnya, tanpa diproses secara hukum.

"Ketika kami berada di sebuah ruangan bersama Karadima dan Juan Barros, jika dia [Barros] tidak mencium Karadima, dia melihat salah satu dari kami, salah satu dari yang lebih muda, disentuh oleh Karadima dan dipaksa untuk memberinya ciuman," tulis Cruz.

"Karadima akan berkata kepadaku: 'Letakkan mulutmu di sebelahku dan tempelkan lidahmu.' Juan Barros menyaksikan semua ini dalam banyak kesempatan, tidak hanya dalam kasus saya tapi juga kasus orang lain."

Kepada Paus Fransiskus, Tuan Cruz mengatakan, "Bapa Suci, Juan Barros mengatakan bahwa dia tidak mengetahui apa-apa, namun ada belasan dari kita yang dapat bersaksi tentang fakta bahwa ia tidak hanya hadir saat Karadima menyiksa kita, tetapi juga bahwa dia juga, mencium Karadima dan mereka saling bersentuhan."

Dia menyimpulkan surat ini dengan seruan ini: "Tolong Bapa Suci, jangan seperti yang lain. Ada banyak dari kami, yang terlepas dari semua, yang berpikir bahwa Anda dapat melakukan sesuatu Saya menghargai iman saya, itulah yang menopang saya, tapi itu sekarang menjauh dariku. "

Bukankah Paus telah meminta maaf?

Di antara ucapan Paus yang menyebabkan kemarahan adalah: "Pada hari mereka membawa saya bukti melawan Uskup Barros, maka saya akan berbicara. Tidak ada satu bukti pun yang melawannya, semuanya fitnah. Apakah ini jelas?"

Dia juga berkata, "Tidak ada yang datang, mereka tidak memberikan bukti apapun untuk sebuah keputusan. Ini semua agak samar, ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima."

Hak atas foto AFP
Image caption Cardinal O'Malley (tengah) menemani Paus Fransiskus dalam kunjungan di Lima, ibu kota Peru.

Paus kemudian meminta maaf karena menyakiti perasaan korban "tanpa bermaksud untuk melakukannya", namun terus bersikeras "tidak ada bukti"mengenai uskup tersebut."

"Dalam kasus Barros, itu dipelajari," katanya. "Itu dikaji ulang dan tidak ada bukti ... Saya tidak memiliki bukti untuk memidanakannya."

Seberapa jauh surat itu berdampak?

Anggota Komisi Perlindungan untuk Anak-anak yang dibentuk pada 2014 sebagai upaya untuk melawan pelecehan seks oleh pendeta, mengatakan kepada Associated Press bahwa mereka menyerahkan surat tersebut kepada penasihat utama Paus Fransiskus yang membidangi pelecehan seksual, Kardinal Sean O'Malley, pada bulan April 2015.

Marie Collins, seorang anggota komisi pada saat itu, telah mengirimkan ke BBC fotonya ketika menyerahkan surat itu ke kardinal.

Hak atas foto Marie Collins
Image caption Marie Collins terlihat memberikan surat tersebut kepada Kardinal O'Malley.

"Ketika kami menyerakan surat untuk Paus, dia meyakinkan kami bahwa dia akan memberikannya kepada Paus dan berbicara mengenai masalah tersebut," katanya kepada AP sebelumnya.

"Dan di kemudian hari, dia meyakinkan kami bahwa itu sudah dilakukan."

Cruz mengatakan kepada BBC bahwa Kardinal O'Malley telah memanggilnya kemudian pada tahun 2015 untuk mengatakan bahwa dia telah memberikan surat tersebut kepada Paus.

Kardinal O'Malley telah mendapatkan penghargaan atas karyanya dalam menangani pelecehan seksual oleh pendeta di Boston.

Pendahulu Kardinal O'Malley, mendiang Kardinal Bernard Law, memilih untuk memindahkan pendeta paedofil ke paroki-paroki dan bukannya menangani klaim korban.

Dalam sebuah langkah yang tidak biasa, Kardinal O'Malley secara terbuka mengkritik Paus bulan lalu atas ucapan awalnya di Cile, dengan mengatakan bahwa dia telah membiarkan korban merasa ditinggalkan.

Paus Fransiskus mengumumkan pekan lalu bahwa dia mengirim ahli pelecehan seksual Vatikan, Uskup Agung Charles Scicluna, ke Cile untuk menyelidiki tuduhan tersebut terhadap Uskup Barros.

Berita terkait