Rusia didakwa mempengaruhi pemilihan AS 2016

Putin - Trump Hak atas foto Ronald Grant
Image caption Badan intelijen AS percaya Rusia mencoba mempengaruhi pemilihan presiden 2016 yang mendukung kandidat Partai Republik Donald Trump.

Tiga belas orang Rusia didakwa mencampuri pemilihan AS pada 2016, yang terungkap lewat sebuah perkembangan besar dalam investigasi FBI.

Tiga dari mereka juga dituduh melakukan konspirasi untuk melakukan penipuan keuangan lewat teknologi dan lima orang dituduh melakukan pencurian identitas.

Pengumuman tersebut dibuat oleh Penasihat Khusus Robert Mueller, yang menyelidiki dugaan campur tangan Rusia.

Tiga perusahaan Rusia juga disebutkan dalam surat dakwaan tersebut.

Salah satunya adalah Internet Research Agency, yang berbasis di St Petersburg, yang dalam dakwaan 37 halaman tersebut menyebutkan "memiliki tujuan strategis untuk membuat perpecahan dalam sistem politik AS, termasuk pemilihan presiden AS 2016".

Berbicara di sebuah konferensi pers, Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein mengatakan bahwa tidak ada tuduhan bahwa ada orang Amerika yang menjadi "peserta yang diketahui terlibat dalam aktivitas ilegal ini" begitupun dugaan bahwa campur tangan tersebut mengubah hasil pemilihan.

Rusia telah berulang kali menyangkal mencampuri pemilihan presiden AS.

Hak atas foto Reuters
Image caption Jaksa khusus Robert Mueller adalah mantan direktur FBI

Apa yang disebutkan dalam dakwaan?

Dikatakan bahwa sekelompok orang Rusia:

  • Berpura-pura sebagai orang Amerika, dan membuka rekening keuangan atas nama mereka
  • Menghabiskan ribuan dollar sebulan untuk membeli iklan politik
  • Membeli ruang server AS dalam upaya menyembunyikan afiliasi Rusia mereka
  • Mengorganisir dan mempromosikan demonstrasi politik di Amerika Serikat
  • Menulis pesan politik di akun media sosial dengan berpura-pura sebagai warga AS
  • Mempromosikan informasi yang merendahkan Hillary Clinton
  • Menerima uang dari klien untuk membuat tulisan di situs media sosial AS
  • Membuat kelompok-kelompok di media sosial mengenai isu-isu panas, terutama di Facebook dan Instagram
  • Beroperasi dengan anggaran bulanan sebanyak $1,25juta (Rp17 miliar)
  • Membiayai pembangunan penjara yang cukup besar untuk menampung seorang aktris yang berakting sebagai Hillary Clinton mengenakan seragam penjara

Surat dakwaan mengatakan bahwa mereka yang terlibat secara sistematis mengukur seberapa efektif tulisan mereka di internet dan menyesuaikan strategi mereka untuk memaksimalkan efektivitas.

Dakwaan itu juga mengatakan bahwa mereka yang disebut dalam dakwaan tersebut telah mengunjungi AS berpura-pura sebagai warga negara Amerika dan membahas bagaimana mempengaruhi pemilihan pada awal tahun 2014.

"Pada 2016, terdakwa dan rekan konspirator mereka menggunakan identitas online fiktif mereka untuk mempengaruhi pemilihan presiden AS pada 2016," tertulis di dakwaan tersebut.

"Mereka terlibat dalam operasi yang terutama bertujuan mengkomunikasikan informasi yang merendahkan Hillary Clinton, merendahkan kandidat lainnya seperti Ted Cruz dan Marco Rubio, dan mendukung Bernie Sanders dan Donald Trump."

Trump sudah diberitahu mengenai surat dakwaan sebelumnya pada hari Jumat, kata juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders.

Presiden AS itu kemudian mengetwit bahwa kampanyenya tidak melakukan kesalahan apapun.

Politisi dari kedua partai besar AS menanggapi dengan seruan kepada perusahaan media sosial seperti Facebook untuk berbuat lebih banyak untuk mencegah campur tangan politik melalui platform mereka.

Facebook mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah bekerja "secara proaktif" dengan penyelidikan Mueller, namun mengakui bahwa pihaknya telah "melakukan lebih banyak untuk mencegah serangan lebih lanjut".

Bagaimana reaksi Rusia?

"Ada 13 orang, menurut Departemen Kehakiman AS. Tiga belas orang mengganggu pemilihan AS?" kata Maria Zakharova, juru bicara kementerian luar negeri Rusia. "Tiga belas melawan anggaran miliaran dolar dari dinas keamanan? Terhadap spionase dan kontra-spionase, terhadap perkembangan dan teknologi baru? Tidak masuk akal? Ya."

Hak atas foto Reuters
Image caption Yevgeny Prigozhin, yang dikenal sebagai "Chef-nya Putin'", menyangkal tuduhan mempengaruhi pemilihan.

Salah satu pria yang disebutkan dalam dakwaan - Yevgeny Prigozhin, yang dikenal sebagai "koki Putin", menolak sangkaan mencampuri pemilihan.

"Orang Amerika adalah orang yang sangat mudah dipengaruhi, mereka melihat apa yang ingin mereka lihat," katanya seperti dikutip oleh kantor berita Rusia Ria Novosti pada hari Jumat. "Saya sangat menghormati mereka, saya sama sekali tidak kesal karena saya ada dalam daftar ini. Jika mereka ingin melihat iblis, biarkan mereka melihatnya."

Prigozhin telah berteman dengan Putin sejak tahun 1990an. Dia telah membangun sebuah kerajaan bisnis dan telah dituduh menggunakan perusahaan untuk menyebarkan pendapat pro-Rusia melalui identitas palsu di internet.

Apa yang diselidiki?

Badan intelijen AS percaya Rusia mencoba mempengaruhi pemilihan presiden 2016 yang mendukung kandidat Partai Republik Donald Trump.

Pada bulan Mei tahun lalu, Mueller ditunjuk sebagai penasihat khusus untuk menyelidiki apakah ada orang dari kampanye Trump berkolusi dalam usaha tersebut.

Sebagai bagian dari penyelidikan tersebut, mantan manajer kampanye Trump, Paul Manafort, telah didakwa berkomplot untuk menipu AS dalam urusannya dengan Ukraina, dan persekongkolan untuk mencuci uang.

Seorang rekan bisnisnya, Rick Gates, juga dituduh berkomplot untuk mencuci uang. Penasihat ketiga untuk kampanye Trump, George Papadopoulos, mengaku bersalah berbohong kepada FBI.

Minggu ini mantan kepala ahli strategi Trump, Steve Bannon, diwawancarai oleh Mueller.

Trump telah dituduh oleh lawannya mencoba mengganggu penyelidikan. Presiden AS itu menyangkal hal ini - begitupun tuduhan berkolusi dengan Rusia selama kampanye berlangsung.

Berita terkait