Perang Suriah : 'Pasukan pro-Assad merebut kembali 10% wilayah Ghouta Timur'

Suriah Hak atas foto AFP/Getty Images

Pasukan pro-pemerintah Assad di Suriah dilaporkan kembali menguasai skeitar 10% wilayah yang dikuasai pemberontak di Ghouta Timur.

Organisasi pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, yang berbasis di Inggris mengatakan pertempuran di darat berlangsung intensif selama Sabtu (03/02) lalu. Para pemberontak meresponnya dengan melakukan serangan tembak ke Damaskus.

Sedikitnya 393.000 orang terjebak di Ghouta Timur, yang telah kembali dikepung pasukan pemerintah sejak 2013 lalu.

Stok makanan dan obat-obatan menyusut, dan truk bantuan tidak dapat menjangkau daerah tersebut.

Militer Suriah mengatakan berupaya untuk membebaskan wilayah dari mereka yang disebut sebagai 'teroris'. Ghouta Timur merupakan daerah terakhir yang dikuasai pemberontak. Namun pemerintah juga dituduh menargetkan warga sipil.

Lebih dari 640 orang tewas sejak 18 Februari lalu, dan lebih dari 150 diantaranya adalah anak-anak seperti disampaikan oleh kantor berita AFP.

Lebih dari 100 warga sipil tewas sejak Dewan Keamanan PBB menyerukan gencatan senjata selama 30 hari, pada pekan lalu. Sekjen PBB António Guterres mengatakan warga lokal hidup dalam "neraka di bumi".

Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES

"Jeda kemanusiaan" selama lima jam yang diperintahkan Rusia, negara sekutu pemerintah Suriah, telah gagal menghentikan pertumpahan darah.

Moskow telah menawarkan warga sipil di Ghouta Timur jalan yang aman selama jeda tersebut, namun Syrian Observatory mengatakan tidak ada warga sipil yang pergi dari wilayah tersebut sejak Selasa lalu.

Melalui sebuah pernyataan, militer Rusia, menyebutkan bahwa tidak ada warga sipil yang menggunakan rute keluar yang telah ditentukan pada Sabtu lalu.

Di wilayah utara Suriah, perang sipil yang berbeda terjadi, Turki mengatakan telah menguasai kota Kurdi di bagian timur wilayah Afrin.

Setidaknya 36 pasukan pro-pemerintah- yang dikirimkan sebagai dukungan pada pasukan Kurdi- disebutkan tewas akibat serangan udara Turki.

Turki melakukan serangan militer di wilayah tersebut selama enam pekan untuk menyingkirkan milisi Kurdi, yang dianggapnya sebagai teroris.

Topik terkait

Berita terkait