Kapal pesiar mewah yang disita di Bali 'segera diserahkan' ke Amerika Serikat

Equanimity, Bali Hak atas foto Getty Images
Image caption Kapal pesiar mewah Equanimity yang ditaksir bernilai Rp3,4 triliun disita saat berlabuh di perairan di Bali.

Aparat penegak hukum di Indonesia bersiap menyerahkan kapal pesiar mewah Equanimity yang disita di Bali bulan lalu ke aparat penegak hukum Amerika Serikat.

Pajabat di Bareskrim Polri, Kombes Polisi Daniel Silitonga, mengungkapkan Polri dan Biro Penyeledikian Federal AS (FBI) tengah menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk serah terima kapal berbendera Kepulauan Cayman tersebut.

"Proses (serah terima kapal) sedang dilakukan," kata Daniel Silitonga kepada kantor berita AFP, hari Kamis (08/03).

Pejabat polisi lain, Agung Setya, kepada kantor berita Reuters mengatakan bahwa pihaknya juga sudah meminta keterangan kapten dan awak kapal tapi 'tidak ditemukan kaitan mereka dengan kasus dugaan penggelapan dana atau pencucian uang'.

Kapal pesiar Equanimity disita pada Februari atas permintaan aparat penegak hukum Amerika karena diduga 'dibeli dari dana yang diperoleh secara tidak sah' dari badan investasi pemerintah Malaysia, 1MDB.

FBI dan Kementerian Kehakiman AS saat ini tengah menangani kasus dugaan penggelapan dana atau korupsi senilai US$4,5 miliar atau sekitar Rp62,1 triliun di 1MDB, lembaga yang dibentuk oleh Perdana Menteri Najib Razak.

Aparat penegak hukum AS ingin mendapatkan kembali aset senilai US$1,7 miliar (Rp23,4 triliun) yang diduga digelapkan dari 1MDB, termasuk di antaranya kapal pesiar mewah Equanimity, yang ditaksir bernilai setidaknya US$250 juta atau Rp3,4 triliun.

Dipuji oposisi Malaysia

Kasus dugaan korupsi di 1MDB diselidiki di setidaknya enam negara, termasuk AS, Swiss, dan Singapura.

Baik 1MDB maupun PM Razak sejak awal mengatakan tidak bersalah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Equanimity antara lain memiliki sembilan kapan tidur, landasan helikopter, pusat kebugaran, dan ruang khusus untuk spa.

Pemilik Equanimity adalah Low Taek Jho -lebih dikenal dengan sebutan Jho Low- yang diduga berperan penting dalam sejumlah pengambilan keputusan finansial 1MDB, meski secara resmi ia tidak memiliki jabatan di lembaga investasi tersebut.

Ia menegaskan tidak melakukan pelanggaran hukum dan sejauh ini keberadaannya tidak diketahui.

Tidak lama setelah Equanimity disita saat berlabuh di perairan Bali, Low mengeluarkan kecaman dengan mengatakan 'tindakan Kementerian Kehakiman AS dalam melakukan perburuan dan penyitaan aset bermotif politik dan tidak memiliki dasar-dasar hukum yang kuat'.

Di sisi lain, politisi oposisi Malaysia menghargai langkah aparat penegak hukum AS dan Indonesia.

Politisi oposisi, Azmin Ali, dalam wawancara dengan AFP mengatakan tindakan aparat AS dan Indonesia sangat kontras dengan aparat Malaysia yang ia anggap 'gagal menegakkan keadilan'.

Menurut situs kapal pesiar yachtcharterfleet.com, Equanimity memiliki panjang sekitar 90 meter, dilengkapi dengan sembilan kamar tidur, landasan helikopter, ruang kebugaran, spa, dan ruang bioskop.

Berita terkait