Perang Suriah: Warga bertaruh nyawa menyelamatkan diri dari serangan ganda

Warga Suriah Hak atas foto AFP
Image caption Sebagian warga harus berjalan kaki untuk keluar dari kota dan desa-desa yang mengalami serangan.

Sekitar 50.000 warga Suriah melarikan diri dari operasi militer terhadap pasukan pemberontak di Ghouta Timur -yang digempur pasukan Suriah- dan Afrin yang diserang oleh pasukan Turki.

Menurut organisasi pemantau Suriah yang berkantor di Inggris, Syrian Observatory for Human Rights, sekitar 30.000 orang menyelamatkan diri dari Afrin di Suriah utara. Tujuan mereka adalah desa-desa yang dikendalikan oleh pasukan pemerintah Suriah.

Hak atas foto AFP
Image caption Warga dari kota Afrin menempuh perjalanan melewati perbukitan untuk menyelamatkan diri dari pertempuran.

Ratusan kepala keluarga meninggalkan Afrin Kamis malam (15/03) di tengah gempuran dari tentara Turki yang diarahkan untuk menghancurkan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi. Kelompok milisi ini oleh Turki dianggap sebagai perpanjangan tangan dari pemberontak Kurdi di wilayah Turki.

Hak atas foto AFP
Image caption Asap tampak membumbung dari Afrin pada Kamis (16/03).

Dalam serangan pada Jumat (17/03), setidaknya 18 warga sipil meninggal dunia akibat serangan Turki.

Sebagian besar penduduk Afrin, kota di dekat perbatasan dengan Turki, adalah etnik Kurdi dan kota tersebut digempur lewat darat maupun udara oleh pasukan Turki serta sekutu-sekutunya di Suriah.

Bocah meminta air minum

Pergerakan penduduk juga terjadi di Ghouta Timur di pinggiran ibu kota Suriah, Damaskus. Sekitar 20.000 orang menyelamatkan diri dari kawasan yang digempur oleh pasukan Suriah untuk melumpuhkan kelompok pemberontak di sana.

Dalam serangan udara Rusia, sekutu Suriah, 31 orang dilaporkan terbunuh di Ghouta Timur pada Jumat (16/03).

Pasukan-pasukan propemerintah diyakini berhasil menguasai kembali 70% wilayah Ghouta Timur setelah berlangsung bertempuran sengit selama tiga minggu terakhir.

Hak atas foto AFP
Image caption Warga sipil menggunakan wilayah yang dikuasai pasukan pemerintah untuk menyelamatkan diri dari Ghouta Timur.

Di tengah serangan itu, 25 truk pembawa bantuan makanan berhasil memasuki Douma di Ghouta Timur, tetapi Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan bantuan itu hanyalah sebagian kecil dari jumlah yang sejatinya diperlukan.

Setelah kunjungannya ke Ghouta Timur, presiden ICRC Peter Maurer menuturkan bahwa warga di sana sangat lelah mengalami pertempuran dan kekurangan makanan serta obat-obatan.

"Mungkin saya akan mengenang seorang anak laki-laki yang mendekati saya di dekat jalan-jalan di Ghouta Timur dan bertanya apakah saya mempunyai sebotol kecil air minum yang menggambarkan betapa buruk situasinya," paparnya.

"Di banyak tempat di dunia dalam situasi-situasi seperti yang saya saksikan di Ghouta Timur, biasanya lebih banyak permen yang diminta. Di sini, keperluan pokok."

Pergerakan massa penduduk dari Ghouta Timur dan Afrin terjadi ketika perang di Suriah sudah berlangsung selama tujuh tahun yang telah memaksa 12 juta jiwa menyelamatkan diri dari rumah-rumah mereka.

Setidaknya 6,1 juta jiwa menjadi pengungsi dalam negeri sementara sekitar 5,6 juta orang mencari perlindungan di luar Suriah.

Lebih dari 400.000 diyakini meninggal dunia atau hilang, dianggap meninggal dunia, sejak timbul pergolakan menentang Presiden Bashar al-Assad pada Maret 2011.

Upaya diplomasi

Meskipun Turki menentang pemerintahan Presiden Assad, Rusia dan Iran adalah dua negara yang menjadi sekutu paling dekat pemimpin Suriah tersebut.

Menteri luar negeri dari Turki, Rusia dan Iran telah menggelar pertemuan di ibu kota Kazakhistan, Astana, untuk menyiapkan konferensi tingkat tinggi tentang Suriah di Istanbul bulan depan.

Hak atas foto AFP
Image caption Dari kiri: Menlu Turki Mevlut Cavusoglu, Menlu Rusia Sergei Lavrov dan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menghadiri pertemuan di Astana.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov berusaha menggambarkan pertemuan di Kazakhstan sebagai peluang untuk menciptakan perdamaian lestari di Suriah dengan mengatakan "jutaan warga Suriah menengok ke arah Astana".

Adapun Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan pengeboman penduduk sipil tidak bisa diterima.

"Ada kemajuan berarti dalam menekan kekerasan di lapangan tetapi pelanggaran gencatan senjata yang terjadi sekarang mengkhawatirkan," katanya.

"Khususnya, situasi di Ghouta Timur berada pada tingkat bencana."

Topik terkait

Berita terkait