Stephen Hawking dan sudut pandang tentang penyadang disabilitas

Stephen Hawking Hak atas foto Getty Images
Image caption Stephen Hawking wafat pada usia 76 tahun, Rabu (14/03).

Stephen Hawking menyandang dua status sekaligus: ilmuwan dan penyandang disabilitas paling terkenal di dunia.

Kehidupan yang dijalani merupakan jukstaposisi alias gabungan dari dua hal yang saling bertolak belakang: intelektual yang menakjubkan dan tubuh yang rentan.

Hawking divonis menderita penyakit langka motor neuron ketika berusia 22 tahun.

Neuron yang mengontrol ototnya rusak sehingga ia terperangkap dalam tubuhnya sendiri, meski pikirannya tetap bebas berkelana.

Hawking meraih puncak keilmuwannya sebagai pengguna kursi roda yang berkomunikasi melalui suara sintetis.

Pertanyaannya, apakah Hawking telah mengubah anggapan masyarakat terhadap para penyandang disabilitas?

"Saya kira dia telah melakukan lebih banyak hal dibandingkan kebanyakan orang," kata Profesor Paul Shellard, murid Hawking.

Shellard berkata kepada BBC, "Hawking telah menjadi contoh luar biasa bahwa tak ada batasan untuk upaya keras yang dilakukan manusia."

"Dia menemukan hal yang menjadi keahliannya dan fokus pada hal itu, bukan pada sesuatu yang tak dikuasainya."

Hak atas foto PA
Image caption Hawking mencetuskan "teori segalanya", yang berpendapat jagat raya berkembang menurut hukum yang pasti.

Sikap dan pemikiran Hawking itu menjadikannya tokoh panutan dan inspirasi bagi banyak orang.

Hawking di sisi lain juga meningkatkan perhatian masyarakat terhadap penyakit motor neuron.

Salah satu kontribusi besar Hawking bagi penyandang disabilitas adalah menunjukkan eksistensi diri pada publik. Suara kelompok ini biasanya tak terdengar dari hiruk-pikuk budaya pop.

Hawking tampil singkat dalam serial The Simpsons, The Big Bang Theory, dan film Star Trek. Kehidupannya juga dikisahkan ulang oleh BBC dalam The Theory of Everything.

Hak atas foto AFP
Image caption Stephen Hawking mengalami gravitasi nol dalam sebuah penerbangan dengan Zero G, 26 April 2007.

Steve Bell dari asosiasi pengidap penyakit motor neuron berkata, "Hawking barangkali adalah orang paling terkenal yang menyandang disabilitas dan keadaan itu membuat kejeniusannya menjadi seoalah hal yang normal."

"Disabilitas Hawking itu mendorong masyarakat tidak hanya melihat tubuh yang terperangkap."

"Pandangan publik terhadap penyandang disabilitas pun benar-benar berubah," kata Bell.

Kehidupan Hawking memang menakjubkan. Dia bertahan hidup lima dekade lebih lama dari prediksi dokter.

Pengindap penyakit motor neuron biasanya meninggal tak lama setelah diagnosa dokter.

Hawking merupakan ahli teori fisika. Laboratoriumnya berada dalam pikiriannya sendiri, sementara peralatan yang digunakannya adalah matematika.

Hawking dapat mengejar karier yang mungkin sukar dijalankan ilmuwan ilmu pengetahuan lain atau bahkan orang-orang dari profesi lain.

Hak atas foto GRAHAM COPEKOGA
Image caption Profesor Hawking masih bekerja di Universitas Cambridge pada usia 75 tahun.

Namun pertanyaan ini terus mengemuka: apa yang akan terjadi pada Hawking jika ia menyandang disabilitas itu sejak lahir, bukan kala ia menuntaskan pendidikan di Universitas Oxford.

Kini pengangguran disabilitas berjumlah dua kali lipat dibandingkan orang tanpa kekurangan fisik.

Hawking pernah berkata, kelompok disabilitas sepatutnya memang fokus pada hal-hal yang dapat dicapai, bukan sebaliknya.

"Nasehat saya bagi para penyandang disabilitas, berkonsentrasilah pada hal yang tidak terhalang kekurangan fisikmu."

"Jangan menyesali hambatan yang ada. Anda tidak boleh kekurangan semangat, seperti anda kekurangan secara fisik," kata Hawking suatu kali kepada New York Times.

Topik terkait

Berita terkait