Mengapa di Inggris masih ada perbudakan modern, dan kali ini jumlah korbannya mencapai 'rekor'?

Perempuan Hak atas foto Getty Images
Image caption Jumlah anak-anak yang diduga menjadi korban perdagangan manusia meningkat sebanyak 66%.

Lebih dari 5.000 orang korban potensial perbudakan modern dan perdagangan manusia dilaporkan di Inggris pada tahun lalu, yang merupakan jumlah tertinggi yang pernah tercatat.

The National Crime Agency mengatakan untuk pertama kalinya perbudakan modern di Inggris ini mencatat korban tertinggi warga Inggris sendiri, diikuti oleh orang-orang dari Albania dan Vietnam.

Jumlah anak-anak yang diduga menjadi korban perdagangan manusia meningkat sebesar 66% dari tahun 2016.

Lembaga tersebut mengatakan peningkatan jumlah laporan itu "didorong oleh kesadaran yang lebih besar" tentang masalah tersebut.

Tahun lalu, sebanyak 5.145 orang yang berpotensi menjadi korban perdagangan dan perbudakan ditangani oleh lembaga National Referral Mechanism, yang mengidentifikasi dan membantu para korban.

Itu adalah jumlah tertinggi yang dicatat oleh otoritas Inggris sejak angka-angka tersebut pertama kali dihimpun pada tahun 2009 - dan kenaikan 35% dari tahun 2016.

Laporan itu menemukan jumlah tertinggi adalah kerja paksa, dengan 2.352 kasus - hampir setengah dari keseluruhan.

Angka-angka tersebut juga menunjukkan bahwa dalam sepertiga kasus (1.744) korbannya diduga dieksploitasi untuk tujuan seksual.

Lebih dari 2.000 anak (2.118) dirujuk untuk mendapat bantuan, dibandingkan dengan 1.278 pada tahun sebelumnya.

NCA mengatakan bahwa peningkatan itu sebagian terkait perkembangan rute pengiriman narkoba, yang dikenal sebagai "jalur antar wilayah", yakni komplotan yang brmarkas di perkotaan menggunakan anak-anak muda sebagai kurir untuk mengirimkan heroin dan bubuk kokain ke daerah pedesaan dan pesisir.

Para penyelidik juga mengatakan ini pula penyebab meningkatnya jumlah warga Inggris yang terlibat - dari yang awalnya 326 pada tahun 2016 menjadi 819 orang.

Ancaman terus berkembang

Analisis menunjukkan lapporan tahun 2017 itu melibatkan warga dari 116 negara, diantaranya Albania (777) dan Vietnam (739) yang warga negaranya paling sering menjadi korban potensial setelah Inggris.

Will Kerr, direktur NCA, mengatakan meningkatnya laporan tentang perbudakan modern merupakan penyebab meningkatnya angka kasus secara keseluruhan. Namun menurutnya, angka-angka itu "hampir pasti tetap lebih kecil dari skala sebenarnya" di Inggris.

Dia menambahkan bahwa pihak berwenang berhadapan dengan "ancaman yang terus berkembang" karena para pelaku kejahatan memanfaatkan ruang daring, internet - terutama "situs web layanan dewasa."

Victoria Atkins, seorang pejabat kementerian dalam negeri bidang terkait mengatakan, angka-angka itu menunjukkan bahwa makin banyak korban potensial yang "diidentifikasi dan dilindungi" karena "peningkatan pemahaman tentang perbudakan modern".


Apa itu perbudakan modern?

Di Inggris, Undang-undang perbudakan modern disahkan pada tahun 2015.

Aturan tersebut menyatakan seseorang dianggap melakukan pelanggaran jika dia menahan orang lain untuk praktik perbudakan atau melayani secara paksa atau mengharuskan mereka melakukan kerja paksa.

Dalam undang-undang tersebut hukuman penjara maksimum bagi orang-orang yang melakukan perdagangan manusia ditingkatkan dari asalnya 14 tahun penjara, menjadi hukuman seumur hidup.

Para korban perbudakan modern di Inggris seringkali dikatakan tersembunyi di depan mata: mereka adalah kalangan yang dipekerjakan di tempat perawatan kuku, pembangunan gedung, rumah-rumah bordil, perkebunan ganja dan industri pertanian.

Hak atas foto Home Office

Para pelaku perdagangan menggunakan internet untuk memancing para korban mereka dengan janji-janji palsu terkait pekerjaan, pendidikan, dan bahkan cinta.

Mereka tak pilih-pilih korban: bisa pria, perempuan atau anak-anak dari segala usia. Tetapi biasanya korban banyak dari kalangan yang paling rentan, minoritas atau yang terkucil secara sosial.

Banyak yang meyakini, para korban adalah orang-orang yang ingin bebas dari kemiskinan, bebas dari ketrbatasan kesempatan di negeri mereka, kurang pendidikan, atau ingin lolos dari perang atau kondisi sosial dan politik yang tidak stabil.

Topik terkait

Berita terkait