Perang Suriah: 'Kesepakatan dicapai' untuk evakuasi korban luka dari Douma

Suriah Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES
Image caption Sebuah kesepakatan dibuat untuk mengevakuasi korban luka di wilayah Ghouta Timur

Sebuah kesepakatan dicapai untuk mengevakuasi orang yang mengalami luka kritis dari Douma, kota terakhir yang dikuasai pemberontak di wilayah Ghouta Timur Suriah.

Kesepakatan dihasilkan setelah dilakukan perundingan antara kelompok pemberontak Jaish al-Islam, pemimpin sipil dan Rusia.

Korban luka akan dibawa ke Idlib, yang masih dikuasai oleh pemberontak.

Pertemuan tersebut terus berlanjut untuk menyelamatkan Douma dari serangan militer oleh militer Suriah dan sekutunya, yang saat ini tengah mengepung wilayah tersebut.

Apa yang kita ketahui tentang kesepakatan?

Para pemberontak di Douma membantah melakukan perundingan tentang kesepakatan evakuasi bagi puluhan ribu warga sipil yang masih tinggal di sana.

Namun, orang-orang yang terluka akan diizinkan untuk meninggalkan kota tersebut sesuai dengan kesepakatan yang dibuat dengan militer Rusia pada Sabtu (31/03) malam, seperti diberitakan kantor berita Reuters.

Pemberontak berharap pembicaraan akan mengukuhkan hak mereka di Douma dengan perlindungan Moskow.

Hak atas foto AFP
Image caption Polisi militer Rusia mengawasi proses evakuasi pemberontak dan keluarganya di wilayah Ghouta Timur

Berapa banyak orang yang telah meninggalkan Ghouta Timur?

Setelah enam pekan diserang, ribuan pemberontak mundur ke bagian utara kota Idlib di bawah sebuah kesepakatan keselamatan perjalanan.

Militer Suriah mendesak mereka yang masih menguasai Douma untuk pergi atau menghadapi serangan skala penuh.

Puluhan ribu orang telah meninggalkan wilayah pinggiran ibukota Suriah, Damaskus, yang sebelumnya berpenduduk hampir dua juta jiwa.

Militer Suriah menawarkan pilihan bagi pemberontak, yaitu berpihak pada pemerintah, atau menyerahkan senjata mereka dan pindah ke zona yang dikuasai pemerintah.

Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan melalui televisi pada Sabtu (31/03) lalu, seorang juru bicara militer mengatakan tentara memberikan keamanan di ibukota dan seluruh wilayah Suriah.

Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES
Image caption Anggota dari Pertahanan Sipil Suriah (dikenal dengan Helm Putih ) membawa seorang pria yang terluka akibat serangan udara di Douma

Bagaimana kondisi Ghouta Timur?

Ghouta Timur telah dikepung oleh pemerintah Suriah sejak 2013 lalu. Sekjen PBB General Antonio Guterres menggambarkan kondisi di sana seperti "neraka di dunia".

Para penduduk menderita akibat serangan intensif yang dilakukan pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia dalam beberapa pekan terakhir.

Makanan, bahan bakar dan stok medis sangat sedikit, dan serangan udara tanpa henti menyebabkan warga mencari lokasi pengungsian di bawah tanah, yang sebagian besar tanpa fasilitas sanitasi.

Para pemberontak telah menuduh pasukan yang didukung oleh pemerintah dengan menggunakan bom napalm dan klorin di wilayah yang dihuni warga sipil.

Pakar kejahatan perang PBB telah menyelidiki sejumlah laporan dugaan peluncuran roket mengandung klorin yang ditembakkan pada tahun ini.

Kekerasan di Ghouta menyebabkan lebih dari 1.600 warga sipil tewas dan ribuan orang terluka, menurut organisasi pemantau HAM Suriah yang berbasis di Inggris, Syrian Observatory for Human Rights.

Militer Suriah mengatakan berupaya untuk membebaskan Ghouta Timur dari mereka yang disebut sebagai teroris, dan mengakhiri serangan roket mereka ke ibukota.

Pemberontak melakukan serangan tembakan ke wilayah yang dikuasai pemerintah di Damaskus, sehingga menyebabkan puluhan korban.

Pada Januari lalu, Observatory mengatakan setidaknya 60 orang tewas dalam serangan pemberontak sejak pertengahan November 2017 lalu.

Topik terkait

Berita terkait