Puluhan pengungsi Muslim Rohingya diizinkan mendarat di Malaysia

Pengungsi Rohingya Hak atas foto APMM/EPA
Image caption Para pengungsi Rohingya tiba di Langkawi, Kedah, Selasa (03/04).

Perahu yang membawa 56 pengungsi Muslim Rohingya tiba di Langkawi, Malaysia, pada Selasa (03/04) dan mereka diperbolehkan memasuki wilayah Malaysia atas dasar kemanusiaan.

Kepastian itu disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut Malaysia, Laksamana Datuk Seri Ahmad Kamarulzaman Ahmad Badaruddin.

"Pada umumnya seluruh 56 penumpang, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan, selamat tetapi lelah dan kelaparan," katanya sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Ditambahkan oleh KSAL Malaysia itu bahwa pihak berwenang telah memberikan bantuan makanan, air dan keperluan pokok lainnya. Selanjutnya mereka beserta perahu yang digunakan diserahkan kepada bagian imigrasi.

Biasanya pihak berwenang Malaysia menolak masuk perahu pengungsi yang berusaha mendarat di wilayahnya, kecuali dalam kondisi cuaca yang sangat buruk.

Namun ribuan orang Rohingya sejauh ini berhasil masuk ke wilayah negara itu.

Gelombang pengungsian baru?

Sejak Thailand dan Malaysia memperketat pengamanan dan berusaha membongkar jaringan perdagangan manusia pada tahun 2015 menyusul gelombang kedatangan 'manusia perahu' dari Rakhine, Myanmar, dan Bangladesh, semakin jarang ditemukan perahu yang membawa imigran berlayar ke arah selatan.

Seorang aktivis dari Arakan Project yang menangani masalah Rohingya, Chris Lewa, mengatakan perahu Rohingya tersebut diperkirakan meninggalkan ibu kota Negara Bagian Rakhine, Sittwe, pekan lalu.

Namun menurutnya seperti dilaporkan kantor berita AFP, kecil kemungkinan kedatangan perahu ini akan diikuti oleh perahu-perahu pengungsi lainnya sebab musim berlayar sudah berakhir

Hak atas foto APMM/ EPA
Image caption Para petugas Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia menaiki perahu yang digunakan pengungsi Rohingya dan menggiring perahu ke pesisir Langkawi.

Di tengah konflik yang belum berakhir di Rakhine, orang-orang Rohingya - yang tidak dianggap sebagai warga negara di Myanmar, berusaha menyelamatkan diri ke negara tetangga, Bangladesh.

Sejak operasi militer akhir Agustus tahun lalu lebih dari 700.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Hak atas foto APMM/EPA
Image caption Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia meningkatkan patroli di sekitar Langkawi menyusul kedatangan perahu pengungsi Rohingya.

Dalam laporannya, baru-baru ini Amnesty International menuduh Myanmar melakukan "perampasan lahan secara militer" terhadap tanah-tanah di Negara Bagian Rakhine yang dulu dihuni oleh etnik Rohingya.

Laporan itu disusun berdasarkan gambar citra satelit dan keterangan para saksi yang menunjukkan bahwa desa-desa Rohingya telah dibuldoser untuk melancarkan proyek infrastruktur baru sejak Januari lalu.

Menurut Amnesty International, langkah militer ini "dikhawatirkan" menghilangkan bukti kejahatan terhadap Rohingya dan bukti keberadaan mereka di Rakhine.

Pemerintah Myanmar sebelumnya menolak tuduhan pihaknya melakukan "aksi genosida" terhadap Rohingya.

Topik terkait

Berita terkait