Rusia: Amerika dan dunia Barat 'bertingkah kekanak-kanakan'

Sergei Lavrov Hak atas foto Reuters
Image caption Lavrov juga menyebutkan insiden racun yang terjadi bulan lalu bisa jadi dilakukan untuk kepentingan pemerintah Inggris.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh Inggris dan mitra-mitra Baratnya "bertingkah kekanak-kanakan" dalam merespons peristiwa diracuninya bekas mata-mata Sergei Skripal dan putrinya.

Dia menuduh negara-negara itu "mengabaikan semua perilaku yang patut" dan beralih ke "kebohongan terbuka dan disinformasi".

Dua puluh sembilan negara telah mengusir para diplomat Rusia, sebagai reaksi atas peristiwa peracunan, yang menurut Inggris didalangi Rusia.

Lavrov mengungkapkan lagi sanggahan mereka dalam konferensi pers pada hari Senin (02/44).

Dia menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan wartawan BBC Steve Rosenberg, tentang seberapa bahaya ketegangan yang berlangsung antara Rusia dan Barat jika dibandingkan dengan Perang Dingin.

"Dalam Perang Dingin klasik," kata Sergei Lavrov, "ada aturan dan perilaku yang diterima".

"Saya pikir mitra Barat kami, khususnya Inggris Raya dan Amerika Serikat, serta beberapa negara lainnya yang secara buta mengikuti mereka, telah mengabaikan semua perilaku patut yang dapat diterima."

"Kami tidak ingin bertingkah kekanak-kanakan, namun sejauh ini mitra-mitra kami melakukan hal itu," tambahnya, seraya mengatakan bahwa peredaan ketegangan sepenuhnya tergantung pada mereka.

"Ketika kita masih anak-anak, sering dikatakan bahwa siapa pun yang memulai, seharusnya dia yang menyelesaikannya."

Selama konferensi pers dia juga menyebut insiden racun itu "memenuhi kepentingan pemerintah Inggris" karena "situasi tidak nyaman" yang mereka dapati akibat Brexit.

"Ada penjelasan lain. Para ahli mengungkapkannya: bahwa mungkin kejadian itu terkait dinas rahasia Inggris yang dikenal karena bisa bertindak dengan izin untuk membunuh."

Bagaimana perkembangan terbarunya?

Insiden diracunnya mantan mata-mata Rusia itu telah menimbulkan kegaduhan selama hampir satu bulan, Inggris mengatakan bahwa Rusia berada di belakangnya.

Rusia mengusir lebih dari 50 diplomat Inggris setelah pemerintah Inggris memerintahkan pengurangan staf Rusia menjadi 23 orang.

Rusia mengatakan langkah itu dimaksudkan agar kedua negara memiliki keseimbangan dalam menempatkan perwakilannya.

Pemerintahan lainnya - termasuk Amerika Serikat - juga memerintahkan pengusiran sejumlah diplomat Rusia dari negara mereka, yang semakin memperdalam perselisihan.

Pada hari Senin, Lavrov mengatakan negara-negara tersebut salah bila menargetkan para diplomat yang "menurut definisi dimaksudkan untuk mendukung hubungan, mengurai kerumitan dan mencari jalan keluar dari kesulitan".

"Dalam diplomasi, kita memiliki prinsip timbal-balik dan ini masih berlaku. Dan prinsip ini akan diterapkan secara konsisten," katanya.

Secara terpisah, Rusia menyebut menggeledah pesawat Rusia yang masuk di Bandara Heathrow adalah "ilegal" dan "provokasi terang-terangan".

Namun pemerintah Inggris mengatakan bahwa pemeriksaan pesawat yang masuk ke bandara "rutin" dilakukan.

Bagaimana kondisi para korban yang diracun?

Mantan mata-mata Sergei Skripal, 66, dan putrinya, Yulia, 33, diracun pada tanggal 4 Maret di Salisbury, yang menurut para penyidik di Inggris, dengan menggunakan zat saraf bernama Novichok.

Hak atas foto Yulia Skripal/Facebook
Image caption Yulia Skripal, dari Moskow, ditemukan tak berdaya di bangku bersama ayahnya.

Skripal masih dalam kondisi kritis, namun stabil, tetapi putrinya dikatakan sadar dan bisa diajak berbicara.

Kedutaan Rusia di London "bersikeras untuk menjenguk" Yulia Skripal, yang merupakan warga negara Rusia. Pemerintah Inggris mengatakan sedang mempertimbangkan permintaan itu.

Kedutaan Rusia juga menerbitkan sebuah daftar yang terdiri dari 27 pertanyaan tentang insiden racun tersebut, yang mereka sebutkan telah dikirimkan kepada pemerintah Inggris.

Berita terkait