Ketika Pemilu jadi horor bagi anak-anak: diculik, organ tubuhnya diambil untuk tumbal

Mabinty Kamara - the picture Alimatu showed to strangers

Para orang tua di Sierra Leone, Afrika, diperingatkan agar lebih berhati-hati menjaga anak-anak mereka, karena takut bahwa calon atau pendukungnya bisa dapat menculik anak-anak itu untuk diambil organ tubuh mereka dalam ritual sihir hitam.

Olivia Acland melaporkan tentang tanda-tanda yang bisa membuktikan bahwa rumor itu mungkin benar.

PERINGATAN: Pembaca mungkin menganggap kisah ini mengganggu

Pagi itu sekitar pukul 10.00 pada hari Jumat 16 Februari, kurang dari sebulan sebelum pemilihan presiden, parlemen dan lokal di Sierra Leone, Afrika. Mabinty Kamara, seorang gadis berusia 14 tahun, sedang menelusuri jalan berbatu di luar rumahnya di Freetown.

Dia mengenakan rok hitam setinggi lutut dan kemeja polo abu-abu, dan membawa dua jerigen plastik.

Pompa air tempat dia biasa mengambil air berjarak sekitar 800 meter - hanya beberapa menit menyusuri jalur lumpur berbatu yang diukir di sisi bukit.

Lantaran ibunya sedang pergi mengunjungi kerabat, Mabinty diminta untuk mengambil air oleh saudaranya yang berusia 25 tahun, Alimatu, yang sedang menyelesaikan tugas pagi lainnya di rumah.

Sebagai muslim, ini adalah hari pertama di akhir pekan mereka.

Alimatu menyapu lantai rumah mereka yang beratap timah dan merapikan seprai tempat tidur. Dia memasak nasi untuk adik laki-lakinya, saudara perempuan, sepupu, dan mencuci panci. Setelah beberapa jam, dia mulai bertanya-tanya mengapa Mabinty belum kembali.

Dia bergegas menyusuri jalan setapak, meneriakkan nama saudara perempuannya, berharap menemukan dia duduk dengan teman-teman dan bersenda gurau.

Di sekitar pompa air, sekelompok wanita mengatakan bahwa mereka tidak melihat Mabinty. Dia kemudian mengetuk pintu-pintu tetangga dan menanyai orang-orang di jalanan. Setelah berjam-jam tanpa hasil, dia pulang dan menunggu, berpikir mungkin adik perempuannya telah kembali ke rumah ketika dia keluar, dan kemudian pergi lagi.

Jam-jam penuh kecemasan berlalu dan akhirnya pada pukul 18.30 Alimatu pergi ke kantor polisi untuk melaporkan saudara perempuannya yang hilang.

"Seorang polisi menyuruh saya pulang dan dia akan menelepon saya jika mereka menemukannya," katanya, sambil memilin salah satu rambut gimbal pendeknya. "Aku tidak bisa tidur sama sekali malam itu, tidak biasanya dia pergi lama. Aku sangat khawatir."

Image caption Ruang tempat Mabinty tinggal bersama Alimatu, adik perempuan lain dan serang adik laki-laki

Alimatu menghabiskan empat hari berikutnya berkeliling di Freetown, memeriksa area tempat anak-anak yang melarikan diri biasanya tinggal. Dia menunjukkan gambar yang diperbesar dari Mabinty, yang dia unduh ke ponselnya dari Facebook, ke lebih dari 100 orang asing.

Lima hari kemudian dia telah sampai di Waterloo, sebuah daerah industri dengan lalu lintas padat, satu jam perjalanan dari rumahnya, ketika dia menerima telepon dari salah seorang tetangganya.

Dia bilang Mabinty sudah ditemukan: mayatnya terjepit di antara beberapa bangunan di belakang Kementerian Pendidikan. Dia bisa diidentifikasi dari rok hitam, atasan abu-abu, dan dua jerigen kosong yang ada di sampingnya.

Kaki kanannya telah dipotong di bagian lutut.

Tapi dia kehilangan lebih dari sekadar kaki, kata Dokter Owiss Koroma, satu-satunya ahli patologi di Sierra Leone.

Saat memeriksa tubuhnya, dia menemukan bahwa lidah, indung telur, usus, rahim, tuba fallopii (saluran yang menghubungkan ovarium dan rahim) dan vagina juga telah diambil.

Seseorang telah membedahnya secara presisi. Kasus ini, kata Koroma, memiliki kemiripan dengan pembunuhan ritual.

Pembunuhan ini, dilakukan supaya bagian tubuh dapat digunakan dalam ritual sihir hitam, biasanya melibatkan korban anak-anak, yang organnya lebih muda dan sehat dianggap lebih kuat daripada orang dewasa.

"Orang-orang menggunakan bagian tubuh dengan keyakinan mendapat ketenaran, kekayaan, atau untuk mendapatkan kekuatan," kata Ibrahim Samura, kepala media kepolisian Sierra Leone.

Bagian-bagian tubuh dapat digunakan dengan cara yang berbeda, tergantung pada tujuannya. Lidah dianggap memberdayakan seseorang untuk berbicara dengan baik, misalnya.

Seorang juju, sebutan untuk dukun di Sierra Leone, akan berkata, "Aku butuh payudara perempuan," kata Samura. "Itu akan digunakan sebagai pesona atau pengorbanan."

Image caption Ibrahim Samura: Para orang tua semestinya tidak membiakan anaknya sendirian pergi ke pantai atau ke pesta

Diperkirakan bahwa klien juju bisa politisi lokal atau nasional, atau siapa pun dengan minat yang kuat dalam hasil pemungutan suara - dan bahwa bagian tubuh kadang-kadang bisa dimakan.

Koroma mengatakan kasus pembunuhan ritual terjadi di Sierra Leone begitu sering, bahkan ketika pemilihan tidak mendekat, tetapi ia menyadari tiga kasus dalam enam bulan terakhir - secara signifikan lebih dari biasanya.

Korban pertama adalah seorang gadis berusia 10 tahun di Western Freetown, yang jasadnya ditemukan dalam sebuah tas besar yang terbuat dari plastik tebal. Dia kehilangan telinga kiri, kaki kiri, lengan kiri dan sebagian vaginanya.

Setelah kasus ini, Samura memeriksa tubuh Mabinty Kamara yang telah dimutilasi, dan terakhir - pada 15 Maret, setelah hari pertama pemungutan suara tetapi sebelum pemilihan berakhir pekan ini - tubuh yang terpecah-belah dari seorang anak berusia empat tahun, ditemukan di sebuah hutan di Port Loko, di barat laut negara.

Anak itu telah dipenggal kepalanya, dan setiap organ telah dihilangkan, kecuali hati. Ada dua lubang di bagian belakang tempurung kepala. Koroma mengatakan dia khawatir dengan ketepatan operasi, karena menunjukkan bahwa seseorang dengan pengalaman medis yang signifikan terlibat.

Polisi juga mengatakan ada lonjakan laporan anak-anak yang hilang - meskipun mereka tidak dapat memberikan statistik - dan telah meresponnya dengan kampanye nasional.

"Kami menggunakan stasiun radio komunitas di seluruh negeri untuk memperingatkan orang tua dan tokoh masyarakat tentang tren kejahatan yang berkaitan dengan anak-anak yang hilang," kata Ibrahim Samura.

"Kami memberi tahu mereka bahwa mereka tidak boleh membiarkan anak-anak mereka di bawah 18 tahun pergi ke pantai atau ke pesta tanpa didampingi. "

Pesannya sepertinya sudah berhasil.

Seorang anak perempuan pemalu mengatakan kepada saya minggu lalu bahwa dia sekarang takut untuk berjalan 4 km dari sekolah ke rumahnya di desa. Orang tua yang cemas mengatakan bahwa mereka memperingatkan anak-anak mereka untuk berhati-hati - tidak menerima permen atau tumpangan dari orang asing yang tampak ramah.

Tapi rumor bisa menjadi lepas kendali.

Ketika dua anak ditemukan tewas di belakang mobil pada bulan Januari, sebuah surat kabar online melaporkan bahwa "ritual kanibalisme, oleh politisi jahat" telah lama menjadi masalah pada saat pemilihan.

Namun, ahli patologi Owiss Koroma memeriksa mayat, dan mengatakan anak-anak meninggal karena keracunan karbon monoksida, tidak ada bukti pembunuhan ritual.

Mereka yang paling berisiko diculik adalah anak-anak yang tidur di jalanan.

Jorge Crisfulli, direktur organisasi kesejahteraan anak Don Bosco Fambul, mengatakan bahwa sekitar 20 hingga 25 anak telah mendekati stafnya mencari perlindungan di Freetown dalam beberapa minggu terakhir dan yang lain telah kembali ke desa mereka.

Abdul, yang berusia dua belas tahun mengatakan ia lolos dari pembunuhan ritual setelah naik ke atap tetangga untuk mengambil kembali bola sepak yang hilang. Para penghuni rumah menangkapnya dan mulai memukul kepalanya dengan satu langkah, menuduhnya mencoba mencuri dari mereka.

Dia kemudian ditahan selama berhari-hari di sebuah ruangan, di mana dia disiksa dan dibius, katanya, sampai dia mendengar percakapan antara dua pria itu.

"Salah satu saudara laki-laki mengatakan akan membiarkan dia membunuhku, potong bagian yang kamu inginkan, dan meletakkan sisanya ke kantong plastik hitam untuk dibuang ke selokan," kata Abdul.

Malam itu dia melarikan diri dan pergi ke polisi, yang kemudian menelepon Don Bosco meminta mereka membawanya ke dalam perawatan mereka.

Adia Benton, seorang antropolog budaya di Northwestern University di Chicago yang telah mempelajari Sierra Leone selama bertahun-tahun, mengatakan pembunuhan ritual, atau setidaknya rumor pembunuhan ritual, "meningkat di sekitar pemilihan, atau saat-saat perjuangan kekuasaan".

Dia ingat pernah mendengar cerita yang sama selama pemilihan umum di negara itu pada 2007. Para korban yang diduga selalu anak-anak.

Bagaimana pun, kasus pengadilan paling terkenal di negara itu, melibatkan orang dewasa dan tidak terkait pemilu.

Pada 2015, seorang DJ yang dikenal sebagai DJ Clef, diundang untuk bermain di sebuah pesta di rumah ahli herbal terkenal Baimba Moy Foray. Clef, yang nama aslinya adalah Sydney Buckle, kemudian ditemukan tewas, alat kelamin, jari-jari kaki, dan hidungnya hilang.

Sangat jarang bagi siapa saja untuk ditangkap dan dituntut dalam kasus pembunuhan ritual, tetapi Baimba Moy Foray dan kaki tangannya dihukum dan dijatuhi hukuman mati dengan digantung - meskipun ini kemudian diubah menjadi penjara seumur hidup.

Belum ada yang dituntut sehubungan dengan kasus Mabinty. Tiga belas tersangka ditangkap, namun kemudian dibebaskan dengan jaminan. Alimatu adalah salah satunya.

"Setiap hari saya harus melapor ke kantor polisi," katanya.

Dia biasanya menghabiskan hari-harinya dengan menjual minyak dan beras untuk menghasilkan uang untuk mendukung saudara-saudaranya yang lebih muda, tetapi akhir-akhir ini dia hanya duduk dengan santai di tangga rumahnya.

"Saya sedang tidak ingin menjual sekarang, saya tidak merasa sehat," katanya.

"Itu membuatku sangat sedih. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi pada adikku."

Petugas polisi yang pada awalnya bertanggung jawab atas kasus tersebut, ASP Mansaray, mengatakan tiga dari tersangka adalah penjaga dari Kementerian Pendidikan dan sembilan lainnya adalah pilihan acak dari tetangga Mabinty yang ada di sekitar pada saat kejahatan terjadi.

Dia berharap bahwa meskipun mereka bukan pembunuh, mereka mungkin bisa memberikan informasi yang berguna. Namun, sejauh ini tidak ada petunjuk atau bukti yang muncul. Tampaknya itu adalah kejahatan lain yang belum terpecahkan..

Berita terkait