Ketika seorang bocah AS jadi pembunuh tanpa melakukan pembunuhan

Lakeith Smith Hak atas foto WSFA 12 News
Image caption Lakeith Smith saat mendengarkan putusan pengadilan.

Polisi menembak mati seorang tersangka pencurian dalam sebuah aksi baku tembak: polisi itu tak dipidanakan, sebaliknya seorang remaja rekan korban justru dinyatakan bersalah untuk pembunuhan itu.

Bagaimana hukum yang diterapkan pada rekan si terduga perampokan tersebut?

Lakeith Smith masih berusia 15 tahun ketika dia membobol sebuah rumah Millbrook, Alabama bersama dengan empat orang yang lebih tua. Seorang warga yang melihat kejadian itu menelepon polisi, dan kedatangan petugas mengagetkan para remaja bermaksud pergi dari pintu depan.

Kelompok itu berbalik untuk melarikan diri dari pintu belakang, dan baku tembak pun terjadi. Ketika semuanya berakhir, A'Donte Washington yang berusia 16 tahun tewas dengan luka tembak di lehernya.

Bahwa pelaku penembakan yang menewaskan A'Donte Washington itu adalah petugas polisi Millbrook, tak pernah dibantah - kamera yang melekat di tubuh petugas merekam baku tembak itu.

Juri dalam persidangan menolak untuk mendakwa polisi, karena menurut mereka penembakan itu bisa dibenarkan.

Sebaliknya, teman seperampokan korban, Lakeith Smith didakwa dan dinyatakan bersalah atas pembunuhan itu. Pekan lalu, hakim memvonisnya 65 tahun penjara. Di bawah undang-undang tentang sekomplotan dalam tindak kejahatan di Alabama, Smith dianggap sama bersalahnya dalam kematian Washington seolah-olah dia sendirlah yang menarik pelatuk itu.

"Ini menyedihkan menurut saya," kata kuasa hukum Smith, Jennifer Holton. "Penyebab kematian Washington jelas adalah tindakan polisi itu."

Hak atas foto Elmore County Sheriff
Image caption Lakeith Smith setelah ditangkap pada tahun 2015.

Aturan hukum di Alabama adalah contoh dari apa yang disebut undang-undang felony-murder dan hukum tersebut sangat umum diterapkan di seluruh negara bagian di AS - hanya tujuh negara bagian yang tidak memilikinya. Hukum itu memperluas definisi pembunuhan dengan menggolongkan perbuatan tidak disengaja sebagai tindak kejahatan.

Undang-undang ini juga mencakup anggota kelompok yang, mungkin tidak secara langsung menimbulkan bahaya, tetapi merupakan bagian dari kejahatan yang berujung pada kematian.

"Felony-murder adalah fiksi Amerika yang indah," kata Michael Heyman, profesor emeritus di John Marshall Law School di Chicago. "Ini adalah sebuah fiksi karena membebankan pembunuhan kepada Anda tanpa Anda perlu melakukan pembunuhan itu dengan tangan Anda sendiri."

Misalnya, jika korban mengalami serangan jantung dan meninggal saat dirampok, maka si pelaku perampokan bisa didakwa dengan pembunuhan, meskipun dia tidak bermaksud membunuh.

Jika teman si perampok tengah duduk di sebuah mobil jauh dari tempat kejadian, dia pun bisa didakwa melakukan pembunuhan, di bawah undang-undang itu.

Salah satu contoh lain yang paling terkenal adalah, ketika seorang pria ditahan karena pembunuhan, hanya karena meminjamkan mobilnya kepada teman-temannya yang kemudian ternyata mobil tersebut digunakan untuk membunuh seorang gadis 18 tahun.

Bagi para jaksa, tidak soal bahwa dia berada di tempat yang berjarak 30 menit perjalanan.

Berbagai aturan hukum ini membuat kasus-kasus seperti Smith secara mengejutkan ternyata umum adanya: para terdakwa dituduh membunuh teman mereka sendiri, yang bisa jadi adalah sahabat dan bahkan kerabat mereka, tanpa mereka melakukannya atau bermaksud melakukannya.

Ini seringkali terjadi dalam peristiwa perampokan yang gagal, ketika para pelaku berhadapan dengan polisi atau pemilik rumah yang bersenjata. Kasus-kasus terbaru terjadi di Georgia, Florida dan Oklahoma.

Logika hukum ini diperluas ke kasus narkoba: dalam satu kasus, seorang suami dituduh membunuh istrinya karena memberinya heroin yang lantas menewaskan sang istri.

Apa yang membuat kasus Smith berbeda, menurut Scott Lemieux, seorang dosen di departemen ilmu politik di University of Washington, adalah bahwa Smith, memilih untuk berjuang di pengadilan dan tidak memberikan pernyataan bersalah yang akan membuat hukumannya lebih ringan.

"Vonis penjara begitu lama ini digunakan sebagai ancaman untuk menekan orang-orang agar mengaku bersalah," katanya. "Risiko untuk berjuang di persidangan sangat ekstrim."

Smith memutuskan untuk mengambil risiko itu, menolak mengaku bersalah kendati hukumannya akan diringankan menjadi 25 tahun, dan akhirnya dinyatakan bersalah. Tiga tersangka lainnya mengaku bersalah dan tengah menunggu vonis. Randall Houston, jaksa yang menuntut Smith, mengatakan dia merasa dakwaan dan hukuman yang dijatuhkan sudah tepat.

"Jika Anda menenteng senjata dan melakukan kejahatan dan ada yang meninggal, ada konsekuensi di Alabama - itu yang disebut felony-murder," katanya.

Houston menggaris-bawahi, bahwa ketika vonis dibacakan, Smith justru tertawa dan tersenyum. Holton, pengacaranya, mengatakan reaksi tersebut sekadar menunjukkan betapa belianya Smith.

Andre Washington, ayah A'Donte yang terbunuh, menghadiri sidang Smith, tetapi dia tidak duduk di barisan penuntut. Malah, dia duduk bersama ibu Smith.

"Saya datang di sidang untuk memberikan dukungan kepada Smith dan keluarganya. Apa yang dilakukan para petugas polisi benar-benar salah," kata Washington. "Saya tidak merasa (Smith) layak dihukum. Tidak. Tidak sama sekali."

Topik terkait

Berita terkait