Konflik Suriah: Senjata negara-negara yang terlibat

Perang Suriah Hak atas foto AFP
Image caption Amerika Serikat mengatakan 'siap menyerang' Suriah sementara Rusia siap untuk 'menghadapi'.

Presiden Amerika Serikat sudah mengatakan kepada Rusia agar 'siap' dengan serangan rudal atas sekutunya Suriah sebagai tanggapan terhadap dugaan serangan kimia baru-baru ini di dekat ibu kota Damaskus.

Indikasi menunjukkan serangan yang direncanakan Washington -dengan kemungkinan bantuan dari Inggris dan Prancis- juga akan melibatkan kapal perang dan kapal selam dari jarak jauh.

Sementara pesawat tempur akan melancarkan serangan dari luar jangkauan sistem pertahanan udara Suriah atau dengan menggunakan pesawat tak berawak yang dikendalikan dari jauh.

Para pejabat Rusia sudah memperingatkan bahwa rudal-rudal yang mengarah ke Rusia akan dijatuhkan dan 'tempat peluncur' akan menjadi sasaran serangannya.

Namun senjata apa saja -yang kita ketahui- yang dimiliki para negara pemain utama dalam perang Suriah yang siap dikerahkan?

AS: Anggaran pertahanan - US$600 miliar

Amerika Serikat, yang sudah mengerahkan kapal perusak USS Donald Cook di kawasan Mediterania, kemungkinan akan menyasar fasilitas kimia di Suriah dengan rudal jelajahnya.

Serangan itu akan mencegah risiko pesawat tempurnya jatuh ditembak.

Tahun lalu, dua kapal perusak AS di kawasan timur Laut Mediterania menembakkan 59 rudal Tomahawk ke pangkalan udara Shayrat di Provinsi Homs, Suriah.

Pemerintah Washington mengatakan pangkalan udara itu merupakan tempat penyimpanan senjata kimia yang digunakan dalam serangan mematikan atas sebuah kota yang dikuasai pemberontak, sekitar 72 jam sebelum serangan rudal balasan.

Rudal Tomahawks menggunakan penampang kecil dan terbang rendah sehingga sulit dideteksi. Selain itu, juga hanya memancarkan sedikit panas, yang membuatnya tidak bisa dipantau oleh pendeteksi inframerah.

Angkatan Laut Amerika Serikat juga memiliki armada pesawat tempur dalam kapal induknya yang berada di kawasan Teluk, walau kecil kemungkinan untuk langsung dikerahkan ke kawasan udara Suriah karena berisiko ditembak jatuh.

Pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah terletak di Qatar dengan pesawat tempur F-16 dan A-10, yang bisa dikerahkan dengan cepat.

F-16 memiliki reputasi sebagai pesawat tempur yang paling bisa diandalkan dengan kemampuan manuver yang efektif dan memiliki jelajah terbang hingga 3.220km, yang membuatnya bertahan lebih lama di kawasan perang dibanding pesawat tempur lainnya.

AS juga memiliki pesawat pengebom B-52, yang sebelumnya pernah juga dikerahkan untuk melancarkan serangan di kawasan Timur Tengah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Amerika Serikat juga siap mengerahkan pesawat angkut C17.

Kobane -kota kecil Kurdi di perbatasan utara Turki dan Suriah- pernah digunakan Amerika Serikat sebagai pangkalan udara untuk membawa pasukan dan peralatan dengan pesawat angkut C130 dan C17.

Kedua jenis pesawat itu cukup besar untuk membawa pesawat kecil, seperti helikopter, dan juga bisa digunakan untuk mengisi bahan bakar bagi pesawat tempur di udara.

Rusia: Anggaran pertahanan - US$69 miliar

Ancaman Rusia untuk menghadapi serangan Amerika Serikat menimbulkan pertanyaan apakah sistem pertahanan udara S-400, yang andal namun belum teruji, akan dikerahkan atau tidak.

Sistem pertahanan udara berlapis itu ditempatkan di Suriah setelah sebuah pesawat tempur Rusia jatuh ditembak dan sejauh ini lebih berfungsi untuk pencegahan.

Dengan kemampuan menembakkan tiga jenis rudal, sistem tersebut dilaporkan mampu menghadapi semua sasaran udara termasuk pesawat dan rudal dalam jangkauan 400km dengan kecepatan dan efisiensi yang luar biasa, yang berarti bisa melindungi sebagian besar wilayah Suriah.

Rusia mengatakan sistem juga mampu menghadapi stealth -atau teknologi yang tidak bisa dipantau radar- dan tahun 2016 lalu sudah memperingatkan bahwa 'ilusi tentang pesawat yang tidak terlihat akan dihancurkan oleh kenyataan'.

Image caption Tahapan 1-4 memperlihatkan sistem S-400 mendeteksi obyek, mengkaji potensi ancaman, dan meluncurkan rudal untuk menghancurkan. Pada saat bersamaan mampu mengarahkan 12 rudal untuk enam sasaran.

Dr Martin S Navias -dari Departemen Studi Perang di Kings College, London- menjelaskan kemampuan S-400 akan membuat taktik menyerang sasaran yang tradisional menjadi semakin rumit.

Biasanya serangan udara ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan serangan dari darat ke udara, namun sistem pertahanan udara Rusia di Suriah akan menghambat upaya tersebut.

Daya jangkaunya juga mencapai ke luar ruang udara Suriah, yang berarti sasaran sudah bisa dicegat bahkan sebelum memasuki wilayah Suriah. Bagaimanapun beberapa pengamat masih meragukan klaim tentang kemampuan pencegatan S-400.

Rusia juga dilaporkan memiliki beberapa pesawat di Suriah, seperti pesawat pengebom Sukhoi-24, pesawat tempur Sukhoi-25, pesawat angkut, pesawat pengintai, dan helikopter tempur.

Sebagian besar dari pesawat tersebut berada -atau pernah- di pangkalan udara Hmeimim, yang menjadi basis utama Rusia dalam melancarkan serangan ke kelompok pemberontak.

Namun militer Rusia dilaporkan mulai menggunakan Shayrat sebagai pangkalan operasi mendatang untuk helikopter tempur Mi-24 dan Mi-35.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rusia dilaporkan mulai menggunakan Shayrat sebagai pangkalan operasi untuk helikopter tempur Mi-24 dan Mi-35.

Dari Mediterania, pemerintah Kremlin mengatakan pernah menggunakan rudal jelajah Kalibr dari kapal selam Rostov-on-Don untuk serangan-serangan di Suriah.

Mereka juga pernah menembakkan roket dari Laut Kaspia, yang diklaim memukul sasaran-sasaran kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di Suriah.

Sementara itu, berdasarkan laporan-laporan terbaru, Rusia sudah menarik kapal perangnya dari pangkalan AL-nya di pelabuhan Tartus, Suriah.

Inggris: Anggaran pertahanan - US$50 miliar

Wartawan BBC, James Lansdale, melaporkan Kementerian Pertahanan Inggris sudah siap untuk mengerahkan sumber daya ke Suriah.

Termasuk di dalamnya adalah sejumlah pesawat tempur yang bermarkas di pangkalan Akrotiri di Siprus, yang bisa dikerahkan kapan saja.

Militer Inggris memiliki pesawat tempur supersonik Tornado di pangkalan udara tersebut.

Walau sudah tergolong berumur karena beroperasi sejak tahun 1982, pesawat termpur tersebut baru-baru ini dilengkapi dengan rudal berpresisi tinggi.

Pesawat tempur Typhoons -yang dilengkapi bom berpandu laser Paveway IV serta rudal Brimstone- juga beroperasi di Timur Tengah dan pernah melakukan sejumlah serangan ke Irak dalam beberapa tahun belakangan.

Rudal udara ke darat Brimstone yang dipandu radar memiliki berat 49kg dan panjang 1,8 meter dengan harga satu unit mencapai £100.000 atau sekitar Rp1,9 miliar.

Inggris juga memiliki armada pesawat tanpa awak di kawasan, termasuk 10 Reaper, yang pernah dikerahkan untuk misi di Irak dan Suriah.

Pesawat tanpa awak Reaper MQ9 itu bisa terbang hingga ketinggian 15.200 meter dan daya jangkauan 1.850 km.

Hak atas foto PA
Image caption Reaper MQ9 sudah pernah dikerahkan untuk misi di Irak dan Suriah.

Masih ada lagi pesawat pemantau Rivet yang bisa beroperasi dalam kondisi cuaca apapun yang siap dikerahkan dan sudah ikut membantu operasi pimpinan Amerika Serikat di Irak.

Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan pesawat tersebut 'beroperasi baik dengan AS' yang membuatnya ideal untuk operasi bersama.

Bagaimanapun Inggris saat ini tidak memiliki kapal selam di Mediterania dan untuk mengerahkannya ke kawasan Timur Tengah memerlukan waktu beberapa hari.

Perancis: Anggaran pertahanan - US$34 miliar

Kapal induk Perancis bertenaga nuklir, Charles de Gaulle, sebelumnya pernah dikerahkan dalam operasi memberantas ISIS namun saat ini sedang menjalani perbaikan besar-besaran.

Satu-satunya kapal induk Perancis itu bisa membawa armada rudal dan bom serta lebih dari 1.900 personel.

Saat ini Perancis mengerahkan pelaut dan penerbangnya ke kapal induk AS, USS George H.W, untuk latihan dan operasi bersama.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kapal induk Perancis, Charles de Gaulle, menjalani perbaikan besar-besaran.

Perancis juga memiliki beberapa pesawat tempur Mirage dan Rafale di Yordania dan Uni Emirat Arab, yang pernah dikerahkan untuk menyerang ISIS di Suriah dan Irak. Satu pesawat tempur tersebut bisa membawa empat bom berpandu laser yang masing-masing seberat 250kg.

Presiden Perancis, Emmanuel Macron, mengatakan serangan atas Suriah yang merupakan tanggapan atas serangan kimia tidak 'akan menyasar sekutu rezim atau siapapun namun merupakan serangan atas kemampuan kimia'. Namun dia merinci lebih lanjut langkah-langkah yang akan ditempuh.

Suriah: Anggaran pertahanan - US$2 miliar (perkiraan)

Sistem pertahanan rudal Suriah rusak berat akibat serangan Israel baru-baru ini namun tetap merupakan ancaman bagi setiap peswat karena rudalnya masih cukup cepat untuk menghantam.

Satu rudal anti pesawat yang ditembakkan pada Februari, misalnya, bisa menjatuhkan pesawat tempiur F-16 milik Israel di bagian utara Israel.

Sistem tersebut pernah memiliki kemampuan tinggi, dengan rudal S-200, yang oleh NATO disebut SA-5 'Gammon'', namun belakangan ini ditingkatkan dengan masuknya persenjataan SA-22 dan SA-17 milik Rusia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Suriah memiliki rudal darat ke udara SA-22 buatan Rusia.

Rudal S-200 berbahan bakar cair dan dirancang untuk terbang hingga kecepatan Mach 8 dengan berpemandu radar dan hulu ledak seberat 217 kg.

Suriah juga memiliki beberapa sistem radar canggih yang dipasok Cina.

Sementara itu pangkalan udara Shayrat -yang sebelumnya pernah diserang Ameriak Serikat- digunakan oleh militer Suriah sepanjang perang saudara di negara itu.

Ada dua landasan pacu sepanjang 3 km di pangkalan duara itu, dengan belasan hanggar dan gudang penyimpanan. Pesawat tempur Suriah Su-22 dan MiG-23 juga lepas landas dari sini.

Bagaimanapun banyak armadanya yang sudah terlalu tua dan membutuhkan perbaikan besar untuk bisa memiliki kembali kemampuan militer.

Berita terkait