Para seniman Korea Selatan yang diculik Korea Utara untuk propaganda politik

Korea Selatan, Seoul, Lee Gil-Yong Hak atas foto Lee Jae Myung
Image caption Patung untuk mengenang Lee Gil-Yong, yang tak diketahui nasibnya lagi setelah diculik Korea Utara, diresmikan Agustus 2017.

Wafatnya Choi Eun-Hee pada usia 92 tahun pada awal pekan ini memunculkan pertanyaan apakah dia merupakan satu-satunya bintang Korea Selatan yang pernah diculik Korut?

Choi Eun-Hee, yang dijuluki 'ratu' film Korea pada masa 1950-an hingga 1970-an, diculik bersama mantan suaminya, sutradara Shin Sang-Ok, oleh Korea Utara pada akhir 1970-an.

Pemimpin Korea Utara saat itu, Kim Jong-il (ayah dari pemimpin Kim Jong-un), mengharapkan pasangan itu bisa meningkatkan pamor film Korut di panggung internasional.

Mereka berdua kemudian menikah kembali di Korea Utara dan berhasil melarikan diri dengan mencari suaka di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Wina, Austria, saat mempromosikan filmya.

Tapi siapa saja orang-orang terkemuka Korea Selatan yang pernah diculik Korea Utara sejak Perang Korea tahun 1950?

1. Jeong Soon-Cheol, Penggubah 'Graduation Song'

"Saya memberikan serangkai bunga untuk saudara perempuan saya yang lulus diploma yang cemerlang," begitulah cuplikan dari lagu Graduation Song, yang populer di Korea Selatan maupun Utara.

Penggubahnya, Jeong Soon-Cheol, lahir di Okcheon -sekitar 150km dari Seoul- yang menaruh minat pada pendidikan anak dan menerbitkan majalah 'Eorini' atau Anak tahun 1923 serta mempopulerkan beberapa lagu anak.

Tahun 1946, setahun setelah pasukan Sekutu membebaskan Semenanjung Korea dari pendudukan Jepang, Jeong menggubah Graduation Son, yang menyentuh hati rakyat Korea karena tidak ada lagu wisuda perguruan tinggi dalam Bahasa Korea.

Dia kemudian diculik oleh tentara Korea Utara yang mundur tahun 1950 dan sejak saat itu keberadaannya tidak pernah diketahui -bahkan tidak bisa dipastikan apakah dia masih hidup atau tidak.

Hak atas foto News 1
Image caption Puisi berjudul 'Danau'karya Jeong Ji-Yong terpilih sebagai salah satu puisi yang populer di Korea.

2. Lee Gil-Yong, wartawan yang menghapus bendera Jepang

Lee Gil-Yong adalah wartawan olahraga di Donga Ilbo pada masa pendudukan Jepang di Korea. Dia menjadi terkenal karena menghapus bendera Jepang ketika Son Gi-Jeong meraih medali emas maraton di Olimpade Berlin tahun 1936.

Masa itu, Son -sebagai rakyat Korea- resmi bertanding di bawah delegasi Jepang jadi harus mengenakan bendera Jepang dan lagu kebangsaan Jepang pula yang diperdengarkan saat dia menerima medali emas,

Itulah sebabnya Son menundukkan kepala dalam upacara penerimaan medali.

Lee Gil-Yong bersama Lee Sang-Beom -yang merupakan seniman merangkap wartawan seni- menghapus bendera Jepang dari bagian dada kaus Son.

Tindakan itu menyebabkan Lee Gil-Yong ditangkap polisi Jepang dan disiksa berat selain dipaksa untuk pensiun dari dunia jurnalistik.

Ketika Perang Korea pecah, Lee ditangkap tentara Korea Utara dengan dugaan berpartisipasi dalam kegiatan politik dan gerakan menentang administrasi PBB di wilayah tertentu di dunia.

Dia kemudian diinterogasi dan dibawa ke Korea Utara: sejak saat itu, nasib Lee Gil-Yong juga tidak diketahui.

Hak atas foto News 1
Image caption Pianis Baek Geon-Woo, yang pernah selamat dari upaya penculikan, dalam sebuah acara tahun 2017.

3. Jeong Ji-Yong, Penyiar puisi 'Nostalgia'

Jeong Ji-Yong dicintai rakyat Korea karena puisinya Nostalgia yang berawal dengan: 'Ke ujung Timur dari lapangan luas'.

Dia dipuja sebagai penyair yang mengembangkan puisi modern Korea dengan bahasa-bahasa liris.

Setahun setelah masuk sekolah menengah Seoul Whimoon tahun 1918, dia memimpin gerakan protes pada masa kemerdekaan dan kemudian menjadi guru Bahasa Inggris di sekolah itu.

Ketika Perang Korea marak, dia masuk penjara Seodaemun di Seoul dan belakangan diculik ke Korea Utara.

Teori yang beredar menyatakan dia tewas karena bom saat penculikan.

Namun beberapa pihak yakin dia secara sukarela menyeberang ke Korea Utara karena bergabung dengan organisasi beraliran politi kiri, Chosun Writers Association.

4. Pianis piano, Baek Geon-Woo dan aktris Yoon Jeong-Hee

Pasangan suami istri, pianis Baek Geon-Woo dan aktris Yoon Jeong-Hee, berhasil lolos dan upaya penculikan.

Awal Juli 1977, Baek Geon-Woo diundang untuk sebuah resital piano oleh seorang jutawan Swiss, Michael Pablovich. Keduanya, bersama putri mereka yang berusia lima bulan, meninggalkan Korea.

Namun ketika tiba di Swiss, pria yang menyambut mereka menyatakan bahwa resital piano akan digelar di rumah ayah Pablovich di Yugoslavia -yang merupakan negara komunis- dan memberikan mereka tiket pesawat terbang.

Ketika melihat maskapai penerbangan Korea Utara, Chosun Minhang, di ibu kota Yugoslavisa saat itu, Zagreb, keduanya langsung curiga.

Hak atas foto News 1
Image caption Choi Eun-Hee, yang sempat diculik Korea Utara selama delapan tahun, saat menerima sebuah penghargaan tahun 2013.

Alamat yang disebut sebagai tempat resital piano berada di kawasan pinggiran dan pria yang menanti mereka adalah orang Asia.

Baek merasa bahwa pria itu adalah warga Korea Utara dan langsung memanggil taksi untuk menuju ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di sana.

Ketiganya berhasil melarikan diri ke Paris, 22 jam setelah berlindung di Kedubes AS dan penyelidikan membuktikan bahwa jutawan Swiss tersebut sebenarnya tidak ada

Sejak peristiwa itu Baek mengalami trauma dan dilaporkan selalu minta perlindungan oleh Kedutaan Besar Korea Selatan setiap kali dia berkunjung ke negara yang memiliki Kedutaan Besar Korea Utara.

5. Aktris terkenal Choi Eun-Hee dan suaminya, sutradara Shin Sang-Ok

Choi Eun-Hee lahir tahun 1926 di Gyeonggido Gwangju dengan debut tahun 1942 dalam film Cheongchun GeukJang (Teater Muda) dan menjadi aktris paling terkenal di Korea pada era 1950-an hingga 1970-an.

Suaminya, Shin Sang-Ok, adalah sutradara yang antara lain menghasilkan film terkenal Mother and a Guest, yang diangkat dari novel karya Choo Hyo-Seop, dan ditayangkan di Jepang, Festival Film Venice, maupun Academy Awards.

Hak atas foto News 1
Image caption Bersama suaminya, Choi Eun-Hee akhirnya berhasil melarikan diri ketika sedang berada di Wina.

Kedua bercerai namun kemudian diculik pada Januari dan Juli 1978 agar tinggal dan berkarya di Korea Utara, sebelum akhirnya berhasil melarikan diri, delapan tahun kemudian, ketika sedang berkunjung ke Wina.

Choi diculik ketika sedang berada di Hong Kong untuk pengambilan gambar dari perusahaan film yang ternyata tidak ada. Dari Hong Kong, dia dibawa ke Makau, sebelum tiba di Korea Utara.

Di Hong Kong jugalah Shin diculik ketika sedang mencari Choi. Ketika berada di Korea Utara, keduanya menikah kembali.

Selama masa penculikan di Korea Utara, pasangan itu memproduksi 17 film, seperti Salt dan Bulgasari di bawa instruksi Kim Jong-Il yang merupakan penggemar berat film.

Kisah penculikan keduanya yang menarik perhatian dunia diangkat menjadi film The Lovers and the Despots.

Shin meninggal dunia pada April 2006 sedangkan Choi pada Senin 16 April 2018.

Topik terkait

Berita terkait