Akhir era Castro di Kuba dengan pemimpin baru, Miguel Díaz-Canel

Kuba, Castro, Raúl Castro, Miguel Díaz-Canel, Kuba Hak atas foto AFP
Image caption Raúl Castro (kanan) diperkirakan akan tetap berperan walau Miguel Díaz-Canel (kiri) yang menjabat presiden.

Parlemen Kuba sudah melantik tangan kanan Raúl Castro, Wakil Presiden Miguel Díaz-Canel, sebagai pemimpin Kuba, yang mengakhiri era kepemimpinan keluarga Castro.

Pelantikan pada Kamis (19/04) itu menyusul terpilihnya dia, yang merupakan satu-satunya calon presiden, untuk menggantikan Raul Castro oleh Majelis Nasional.

Raul mengambil alih kepemimpinan dari sang abang, pejuang revolusi, Fidel, yang sakit-sakitan tahun 2006 lalu dan meninggal dunia pada 25 November 2016 dalam usia 90 tahun.

Walau Miguel Díaz-Canel resmi menjabat presiden, namun banyak pihak memperkirakan Raul masih tetap merupakan tokoh yang berpengaruh di negara komunis tersebut.

Raul juga akan tetap menjabat Ketua Partai Komunis Kuba sampai kongres berikutnya tahun 2021 mendatang.

Pemimpin Kuba mendatang akan menghadapi tantangan stagnasi ekonomi dengan generasi muda yang tidak sabar dengan perubahan, seperti dilaporkan wartawan BBC di ibu kota Havana, Will Grant.

Selain itu mungkin muncul pula masalah dukungan atas kepemimpinan yang tidak memiliki latar belakang revolusi seperti Raul dan Fidel.

Siapakah Diaz-Canel?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Miguel Díaz-Canel dilaporkan lebih terbuka bagi rakyat Kuba namun tidak punya latar belakang revolusi.

Pria ini tidak banyak dikenal ketika terpilih sebagai Wakil Presiden Dewan Negara Kuba tahun 2013 namun sejak saat itu menjadi tangan kanan Raul Castro.

Selama lima tahun belakangan, Diaz-Canel tampaknya memang disiapkan untuk menjabat presiden setelah menata karier cukup panjang dalam politik Kuba.

Pria berusia 57 tahun ini lahir hanya setahun setelah Fidel Castro pertama kali dilantik sebagai perdana menteri Kuba.

Hak atas foto AFP
Image caption Miguel Díaz-Canel (kanan) diperkirakan tidak akan membawa perubahan besar dalam jangka pendek.

Tamat dari teknik elektro, dia mulai aktif politik dengan bergabung ke Liga Pemuda Komunis di Santa Clara dan sambil mengajar di universitas setempat menapak karier dengan menjabat sekretaris kedua Liga Pemuda Komunis pada usia 33 tahun.

Raul Castro sekali waktu memujinya sebagai 'keteguhan ideologis'.

Akankah presiden baru membawa perubahan?

Kecil kemungkinan Diaz-Canel akan membawa perubahan besar dalam jangka pendek, apalagi Castro masih merupakan tokoh yang akan menentukan dalam politik Kuba.

Setiap perubahan akan ditempuh secara bertahap dan perlahan-lahan.

Hak atas foto AFP
Image caption Grafiti di salah satu sudut ibu kota Havana yang memuja Fidl dan Raul Castro.

Raul Castro sendiri menempuh reformasi politik, yang paling penting adalah pemulihan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama, yang tidak terpikirkan di masa Fidel Castro.

Salah satu masalah yang harus dihadapi presiden baru adalah dampak dari ambruknya perekonomian sekutu utama Kuba, Venezuela, dan hubungan seperti apa yang diinginkan dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.

Tahun lalu, misalnya, Trump menerapkan kembali pembatasan perjalanan dan perdagangan yang sempat dilonggarkan oleh pendahulunya, Presiden Obama.

Bagaimanapun pada akhirnya rakyat Kuba yang akan menilai pemimpin barunya, berdasarkan peningkatan kehidupan sehari-harinya.

"Saat ini, kami tidak tahu bagaimana masa depan kami," tutur Adriana Valdivia, seorang guru berusia 45 tahun di Havana kepada kantor berita Reutres.

Sementara Diadenis Sanabria, yang bekerja di salah satu restoran milik pemerintah, mengaku tidak mengikuti politik, "Namun saya kira pergantian pimpinan tidak akan mengubah hidup saya."

Topik terkait

Berita terkait