Bos miras oplosan, yang menewaskan 52 orang di Jawa Barat, ditangkap

Miras, Bandung, Jawa Barat Hak atas foto Julia Alazka
Image caption SS ditangkap di wilayah Jambi, sesuai dengan petunjuk yang diperoleh dari istrinya.

Setelah buron selama beberapa minggu, seorang pria yang disebut sebagai bos miras oplosan -yang menyebabkan tewasnya sedikitnya 52 orang- berhasil ditangkap polisi.

SS ditangkap di Bayung Lencir, di perbatasan Sumatra Selatan dan Jambi berdasarkan keterangan yang diperoleh istrinya, HM, yang juga sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Sekitar dua pekan lalu, sedikitnya 52 orang tewas dan sekitar 100 lainnya sempat dirawat di rumah sakit di beberapa tempat di Jawa Barat setelang menenggak minuman keras oplosan.

Dalam insiden yang mematikan itu, polisi juga menyita sebanyak 3.000 botol dan 25 jerigen miras oplosan dari tersangka AT, yang berjualan di Rancabolang Kota Bandung.

Dan Kamis, (19/04) Polda Jawa Barat mengumumkan bahwa pria yang mengelola produksi miras itu berhasil ditangkap di kawasan Jambi, seperti dilaporkan Julia Alazka, wartawan di Bandung yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

"Jadi meyakinkan kita bahwa yang bersangkutan pasti akan mengarah ke sana (Jambi). Terus kita koordinasi dengan Polda Jambi. Setelah kita intai, betul ada," jelas Kapolda Jawa Barat, Irjen Polisi Agung Budi Maryoto, saat jumpa pers di rumah SS di Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Tumpukan miras oplosan yang disita polisi untuk dimusnahkan di Bandung.

Rumah di Cicalengka itu tergolong mewah dengan dilengkapi empat kamera pengawas dan terdiri dari tiga lantai dengan kolam renang serta ruang bawah tanah, yang juga dijadikan sebagai tempat produksi miras.

Selain SS , empat orang lainnya sudah ditetapkan polisi sebagai tersangka, termasuk istri SS, sementara lima lainnya masih burun, yaitu tiga yang disebut sebagai peracik dan dua lagi agen penjualan.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Pintu ke ruang bawah tanah ditutup dengan pondok lesehan.

Menurut polisi, SS dan istrinya sudah memproduksi miras oplosan pada 2017 dengan jumlah produksi setiap harinya mencapai 10 dus atau 240 botol berukuran 600 mililiter.

Dengan harga per kardus Rp270.000 atau per botol Rp20.000, miras oplosan produksi SS didistribusikan ke empat agen di wilayah Nagreg, di Cibiru Kota Bandung, di Cicalengka, dan kios milik istri SS sendiri di Jalan Bypass Cicalengka.

Saat menggelar konperensi pers, polisi juga mengajak para wartawan berkeliling rumah SS, antara lain memasuki ruangan bawah tanah -tempat produksi utama miras- yang tersembunyi di bawah sebuah pondok lesehan berwarna putih.

Jika pondok itu digeser barulah terbuka pintu masuk untuk menuju ruangan bawah tanah berukuran sekitar 18x4 meter.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Bahan baku miras oplosan produksi SS terdiri dari methanol, minuman bernergi Kuku Bima, air mineral, dan pewarna Redbell.

Di dalamnya disimpan bahan baku miras oplosan -dengan tumpukan botol dan plastik berserakan- sementara di salah satu pojok terdapat kamar kecil sebagai tempat meracik.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium forensik, jelas Irjen Polisi Agung Budi Maryoto, miras oplosan produksi Samsudin dipastikan memang mengandung methanol yang mematikan.

Produksi miras oplosan juga dilakukan di beberapa wilayah lain di Indonesia dan tak sedikit pula yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Sebuah penelitian Center for Indonesian Policy Studies, CIPS, pada 2016 lalu, di Indonesia selama 10 tahun tercatat total korban tewas akibat miras oplosan mencapai 837 orang.

Jika ditelusuri lebih jauh, sebanyak 300 jiwa di antaranya tewas selama tahun 2008-2013 dan melonjak tajam menjadi lebih dari 500 orang pada masa 2014-2018.

Berita terkait