Dorong penggunaan aplikasi dalam negeri, Iran perkenalkan emoji "Mampuslah Amerika"

Aplikasi kirim pesan Iran Hak atas foto SOROUSH
Image caption Aplikasi buatan Iran menampilkan berbagai emoji diantaranya "Mampuslah Amerika", "mampuslah Freemasons" dan "Mari berdoa."

Iran mempromosikan aplikasi pesan seluler yang diproduksi di dalam negeri, lengkap dengan emoji "Mampuslah Amerika."

Aplikasi itu dibuat sebagai upaya agar jutaan warga Iran meninggalkan layanan populer yakni Telegram, yang dituding memicu kerusuhan di negeri itu.

Aplikasi baru yang disebut Soroush menampilkan berbagai fitur diantaranya adalah serangkaian emoji yang menampilkan sosok perempuan berpakaian tertutup memegang foto Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, dan poster-poster yang menyerukan runtuhnya Israel, Amerika dan Freemason atau kelompok rahasia yang sering dikaitkan dengan iluminati.

Aplikasi Soroush bahkan menjadi ajang sayembara untuk Quds, pasukan khusus Pengawal Revolusi Iran: mereka akan memberikan koin emas bagi lima orang yang mengunduh aplikasi tersebut. Sayembara ini diumumkan di saluran Telegram pasukan tersebut.

Nama Ayatollah Khamenei muncul sebagai orang pertama yang mengunduh aplikasi baru tersebut, dia menutup akun Telegram-nya dan mengajak para pengguna lainnya untuk melakukan hal yang sama yaitu mengunduh layanan yang dibuat Iran.

"Aktivitas kepresidenan dalam layanan Telegram sudah berhenti untuk mendukung aplikasi olah pesan setempat," demikian dilaporkan lembaga siaran pemerintah Iran, IRIB pekan lalu.

Hak atas foto AFP
Image caption Jutaan warga Iran bergantung pada perangkat ponsel untuk mengikuti berita dan berbisnis.

Sekitar 50 juta penduduk Iran, menggunakan aplikasi Telegram karena fitur keamanan dan privasi Telegram yang ketat. Namun otoritas Iran menyebut, telegram digunakan untuk penyebaran protes anti pemerintah di negara itu pada bulan Desember 2017.

Masalahnya, para pengguna tampaknya tidak mendapat jaminan - termasuk Pemimpin Tertinggi sendiri - bahwa kerahasiaan pengguna akan dilindungi sepenuhnya saat menggunakan aplikasi buatan dalam negeri.

Salah satu lelucon yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa tiga tanda contreng dalam aplikasi Soroush (dalam Telegram terdapat dua tanda contreng) menegaskan bahwa seorang petugas intelijen turut membaca pesan selain pengirim dan penerima.

Hak atas foto SOROUSH
Image caption Aplikasi Soroush hadir dengan perangkat yang membantu para penggunanya memindahkan data mereka dari Telegram.

Telegram vs Teheran dan Moskow

Dewan tertinggi yang mengawasi siber di Iran telah mengeluarkan larangan penggunaan berbagai aplikasi asing oleh lembaga-lembaga publik, di tengah laporan bahwa Telegram, sebagai aplikasi pesan paling populer di Iran, mungkin sewaktu-waktu akan diblokir oleh pemerintah Iran.

Republik Islam Iran menghendaki pihak Telegram mematuhi aturan hukum di negara tersebut, namun permintaan tersebut telah berulang kali ditolak oleh pendiri perusahaan Telegram asal Rusia Pavel Durov, yang mengatakan Telegram akan selalu "berdiri untuk kebebasan dan privasi".

Telegram baru-baru ini dilarang di Rusia setelah Durov menolak untuk menyerahkan kunci enkripsi kepada pihak berwenang.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, presiden dan para pejabat lainnya masih mengunggah berbagai cuitan di akun Twitter mereka, yang secara resmi masih dilarang di Iran, dan kantor Ayatollah Khamenei pun masih aktif di Facebook.

Sang Pemimpin Tertinggi itu memiliki tujuh akun di Twitter dalam berbagai bahasa.

Topik terkait

Berita terkait