Ilmuwan Australia berusia 104 tahun yang melakukan perjalanan ke Swiss untuk mati

David Goodall Hak atas foto ABC
Image caption Ilmuwan asal Australia, David Goodall, ingin mengakhiri hidupnya sercara terhormat.

Seorang pakar ekologi dan botani asal Australia mengaku segera mengakhiri hidupnya karena tak lagi bahagia pada usia 104 tahun.

David Goodall dengan berat hati meninggalkan kampung halamannya untuk terbang ke Swiss, Rabu (03/05), dan akan dirawat di klinik di Swiss yang memungkinkannya untuk menghembuskan nafas terakhir lebih cepat.

Sebenarnya negara bagian Victoria sejak November lalu sudah menjadi satu-satunya daerah yang melegalkan bantuan bunuh diri di Australia.

Namun dengan syarat bahwa pemohon bantuan bunuh diri itu diharuskan mengidap penyakit parah, yang tak dialami Goodall, yang memutuskan terbang ke Swiss, salah satu negara yang melegalkan bantuan medis untuk kematian.

"Saya sangat menyesal mencapai usia ini," ujar Goodall pada perayaan hari ulang tahunnya, April lalu, dalam sesi wawancara dengan Australian Broadcasting Corporation (ABC).

"Saya tidak bahagia. Saya ingin mati. Saya sebenarnya tidak sedih. Yang menyedihkan adalah ketika keinginan untuk mati itu dihambat," kata Goodall.

Hidup aktif

Sebelum terbang ke Swiss, ilmuwan yang lahir di London itu tinggal di salah satu rumah susun di Perth, kawasan Australia barat.

Goodall pensiun dari pekerjaannya tahun 1979, tapi tetap terlibat dalam sejumlah penelitian di bidang yang dikuasainya.

Dari sederet pencapaian akademisnya, Goodall tercatat pernah menyunting 30 jilid buku berjudul Ecosystems of the World dan pengabdiannya untuk ilmu pengetahuan, membuatnya dianugerahi status penduduk berpengaruh di Australia.

Tahun 2016, ketika menginjak usia 102 tahun, Goodall dipersilakan tetap berkantor di Universitas Edith Cowan sebagai peneliti terhormat.

Sebelumnya, atas alasan kesehatan, Goodall diminta bekerja dari rumah saja namun keputusan universitas itu memicu perdebatan di antara kedua pihak.

Hak atas foto AFP/EXIT INTERNATIONAL
Image caption Pegiat eutanasia, Carol O'Neill, mendampingi Goodall menuju klinik di Swiss.

Carol O'Neill, pegiat lembaga advokasi pemohon eutanasia, Exit International, yang menemani Goodall dalam perjalanan ke Swiss menyebut kondisi psikologis Goodall sangat berpengaruh akibat permasalahan tahun 2016 itu.

Walaupun dia akhirnya memenangkan perselisihan dengan kampus, O'Neill menyebut Goodall tetap dipaksa bekerja di lokasi yang dekat dengan rumah.

Gangguan psikologis itu, menurut O'Neill, juga dirasakan Goodall yang dipaksa berhenti mengendarai mobil dan tak boleh lagi tampil dalam pertunjukan teater.

"Persoalan itu adalah awal dari akhir hidupnya," kata O'Neil kepada BBC.

"Dia tak lagi berjumpa rekan sejawat dan kawan-kawan di kantor lamanya. Dia kehilangan semangat dan mengepak koleksi bukunya. Itu adalah awal mula kegundahannya."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Eutanasia dan bantuan bunuh diri merupakan isu kontroversial di sejumlah negara.

________________________________________________________________

Negara mana selain Swiss?

Bantuan bunuh diri disebutkan sebagai tindakan yang secara sengaja membantu seseorang untuk mematikan dirinya sendiri, misalnya dengan memberikan cara bagi mereka untuk melakukkanya. Umumnya adalah dengan menyediakan resep obat yang mematikan kepada yang bersangkutan.

Jadi berbeda dengan eutanasia yang merupakan intervensi pihak ketiga untuk mengakhiri hidup seseorang demi menghilangkan penderitaan seseorang akibat penyakit. Dalam hal ini dokter yang memberikan resep yang mematikan.

  • Di Swiss, bantuan bunuh diri diizinkan jika pihak yang membantu itu bersikap tulus. Swiss adalah satu-satunya negara yang menawarkan bantuan bunuh diri kepada warga negara asing.
  • Belanda, Belgia, serta Luxemburg juga mengizinkan eutanasia dan bantuan bunuh diri. Khusus di Belanda dan Belgia, eutanasia diperbolehkan bagi anak di bawah umur yang menderita penyakit tertentu.
  • Kolombia melegalkan eutanasia.
  • Enam negara bagian di Amerika Serikat, yaitu Oregon, Washington, Vermont, Montana, California, dan Colorado, memperbolehkan bantuan bunuh diri untuk pengidap penyakit parah. Washington menerapkan aturan serupa bagi warga kotanya pada tahun 2017.
  • Kanada mengikuti keputusan pemerintah Quebec yang melegalkan eutanasia dan bantuan bunuh diri sejak 2016.

________________________________________________________________

Keinginan Goodall untuk segera wafat diperkuat setelah ia jatuh di apartemennya, April lalu, dan tak ada yang mengetahuinya dua hari setelah kejadian.

Tim dokter baru-baru ini menyarankan pendampingan total selama 24 jam untuk Goodall atau pemindahan ke panti wreda.

"Dia adalah manusia mandiri. Dia tak ingin orang-orang selalu mengawasinya, orang asing yang dianggapnya bertindak seolah-olah pengasuh. Dia tak menginginkan semua itu," tutur O'Neill.

"Goodall mendambakan perbincangan cerdas dan melakukan hal-hal harian seperti mengejar bus saat berpergian ke pusat kota."

Pro dan kontra

Swiss melegalkan bantuan bunuh diri sejak 1942 dan kemudian disusul beberapa negara lain walau sebagian besar peraturan mengharuskan kondisi penyakit parah sebagai syarat utama.

Asosiasi Medis Austrasia (AMA) hingga saat ini berkeras bahwa bantuan untuk bunuh diri merupakan praktik yang tidak etis.

"Para dokter tidak terlatih untuk membunuh orang. Jauh dalam etika dan pelatihan yang kami ikuti, membantu seseorang menghabisi nyawanya sendiri bukan perbuatan yang pantas," kata Presiden AMA, Michael Gannon.

Pernyataan itu diutarakan Gannon dalam perdebatan di parlemen Victoria tahun 2017.

"Tidak semua dokter menyetujui bantuan bunuh diri itu," ujarnya merujuk jajak pendapat internal bahwa hanya empat dari 10 anggota AMA yang mendukung bantuan medis untuk bunuh diri.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Melalui perdebatan 28 jam, parlemen negara bagian Victoria mengesahkan legalisasi bantuan bunuh diri pada 22 November 2017.

Menurut O'Neill, sebenarnya Goodall ingin wafat secara hormat dalam kedamaian, "Dia tidak tertekan atau sedih, tapi ada pertimbangan lain di luar perselisihan dua tahun lalu."

Sebuah petisi daring berhasil menggalang sumbangan sebesar AUS$20.000 atau sekitar Rp209 juta untuk membantu Goodall agar dapat membeli tiket kelas bisnis menuju Swiss.

Goodall berencana mengunjungi handai taulannya di Prancis sebelum bertemu kerabat dekatnya.

"Keluarga saya sadar betapa tidak menyenangkannya hidup saya di Australia. Ketidakpuasan itu muncul hampir di semua aspek. Semakin cepat saya meninggal, semakin baik," kata Goodall.

Pria berusia 104 tahun itu, tambah O'Neill, akan menghabiskan hari-hari terakhir kehidupannya untuk menulis ulang surat peninggalan dan berbicara dengan anggota keluarga, termasuk para cucunya.

Hak atas foto EXIT INTERNATIONAL
Image caption Goodall berharap masyarakat bisa memahami keputusannya.

Kisah Goodall menarik perhatian penduduk Australia Barat, yang mempertimbangkan untuk menggelar perdebatan tentang undang-undang bantuan bunuh diri.

Pemerintah negara bagian setempat menyatakan berssimpati terhadap Goodall, tapi berkeras bahwa bantuan bunuh diri hanya berlaku bagi pasien yang sekarat.

"Saya merasa, orang tua seperti saya seharusnya memiliki semua hak dasar, termasuk permohonan bantuan bunuh diri," kata Goodall kepada ABC dan berharap masyarakat memahami keputusannya.

"Jika seseorang memutuskan bunuh diri, itu cukup adil. Saya rasa tak ada satu orangpun yang dapat mempengaruhi sikap itu," ujar Goodall.

Berita terkait