Pemilu Malaysia: Kemunculan Mahathir Mohamad dan tiga hal unik lainnya

mahathir, malaysia Hak atas foto MOHD RASFAN/AFP/Getty Images
Image caption Poster Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim dipampang di Langkawi, Malaysia, 15 April lalu. Mahathir dan Anwar dulu berstatus sebagai perdana menteri dan wakil perdana menteri sebelum Anwar kemudian dipecat pada 1998 dan dituduh melakukan korupsi.

Aliansi oposisi pimpinan Mahathir Mohamad berhasil keluar sebagai pemenang dalam pemilihan umum, Rabu (09/05). Kemenangan yang mengubah negara tersebut terbilang unik.

Berikut empat keunikan di antaranya:

1. Dari kawan jadi lawan

Hal paling membingungkan dalam pemilu kali ini adalah kemunculan Dr Mahathir Mohamad, mantan perdana menteri Malaysia yang memerintah selama 22 tahun namun kini bergabung ke kubu oposisi.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Apa kata warga Malaysia soal Pemilu 2018?

Mahathir, yang pernah menjadi mentor Perdana Menteri Najib Razak, menyebut kembalinya dia ke kancah politik karena tidak mampu mengabaikan praktik korupsi yang merajalela di negara itu.

"Saya tidak pernah mengira putra perdana menteri yang tersohor mau menjadi pencuri. Dan ini adalah tuduhan dari Departemen Kehakiman AS, bukan kita yang mengatakan demi politik, tidak," ujarnya kepada BBC Indonesia.

Mahathir berbalik melawan Najib menyusul skandal 1MDB senilai miliaran dollar yang menodai pemerintahannya. 1MDB, yang digagas Najib, awalnya dibentuk sebagai dana umum untuk mendorong ekonomi nasional.

Hak atas foto SAEED KHAN/AFP/Getty Images
Image caption Mahatir Mohamad (tengah) mendukung Najib Razak (kiri) sebagai perdana menteri pada 2009 lalu.

Akan tetapi, skandal itu terkuak ketika Departemen Kehakiman AS merilis dokumen gugatan yang menuding dana 1MDB telah melalui pencucian melalui rekening-rekening di AS.

Dana itu kemudian diduga digunakan untuk membiayai gaya hidup sejumlah orang, termasuk pejabat negara.

Pada Juli 2015, Jaksa Agung Malaysia kala itu, Abdul Gani Patail, mengaitkan sumbangan sebesar US$681 juta (setara hampir Rp10 triliun) yang diterima Najib melalui rekening pribadinya dengan perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga yang bersangkut paut dengan 1MDB.

Patail kemudian diganti dan setelah penyelidikan dilakukan, Jaksa Agung Mohamed Apandi Ali menuturkan bahwa uang US$681 juta di rekening Najib adalah "sumbangan pribadi" dari keluarga kerajaan di Arab Saudi yang ditransfer antara akhir Maret dan awal April 2013.

"Sudah jelas, tidak ada kesalahan. Itulah pendirian saya," kata Najib kepada Bloomberg pada April lalu, dalam wawancara pertama dengan media asing selama lebih dari tiga tahun terakhir.

Hak atas foto Anthony Kwan/Getty Images
Image caption Nurul Izzah Anwar mengaku sepakat bekerja sama dengan Mahathir, sosok yang pertama kali menjebloskan ayahnya, Anwar Ibrahim, ke penjara.

2. 'Putri Reformasi' yang 'berdamai' dengan musuh

Nurul Izzah Anwar mengaku sepakat bekerja sama dengan Mahathir karena pemilu kali ini bukanlah tentang dirinya, tapi tentang Malaysia, tentang para pemilihnya.

Meski demikian, dia memilih bersikap optimistis sekaligus waspada saat berkolaborasi dengan sosok yang menjebloskan ayahnya, Anwar Ibrahim, ke sel penjara pada 1999 lalu.

Hukuman kepada ayahnya saat itu adalah kali pertama dari serangkaian hukuman berikutnya atas tuduhan sodomi. Saat ini pun Anwar Ibrahim masih menjalani hukuman.

"Sudah ada permintaan maaf sehingga kami menanggapi hal ini dengan lapang dada. Jelas, ini bukan proses yang mudah, tapi saya menilainya berdasarkan perbuatannya," kata Nurul Izzah kepada BBC Indonesia.

Mahathir dan Anwar dulu berstatus sebagai perdana menteri dan wakil perdana menteri sebelum Anwar kemudian dipecat pada 1998 dan dituduh melakukan korupsi.

Anwar lantas memulai gerakan Reformasi dan membentuk Partai Keadilan Rakyat—parpol yang semula dimaksudkan sebagai gerakan melengserkan Mahathir dari kursi perdana menteri.

Menariknya, kali ini Mahathir memakai atribut PKR guna bersaing melawan Barisan Nasional—koalisi berkuasa Malaysia sejak 1974 yang pernah dibelanya.

Mahathir juga berjanji akan membebaskan Anwar Ibrahim sehingga dia bisa kembali masuk dalam dunia politik dan mengambil alih jabatan perdana menteri.

Hak atas foto Mohd RASFAN / AFP
Image caption Mahathir bakal berusia 93 tahun pada Juli ini dan, jika sukses memenangi pemilu, dia akan menjadi pemimpin tertua di dunia.

3. Perdana Menteri tertua di dunia

Mahathir bakal berusia 93 tahun pada Juli ini dan praktis akan menjadi pemimpin tertua di dunia setelah mengalahkan Najib yang berusia 64 tahun dalam pemilu yang diikuti oleh sebagian besar pemilih muda.

Soal usianya yang tak lagi muda, Mahathir mengaku berniat hanya akan memerintah selama dua tahun. Sisa jabatannya kemudian amat mungkin diteruskan oleh Anwar Ibrahim, yang kini masih dipenjara.

Lalu, setelah dipastikan menang, apakah Mahathir akan menghukum Najib yang dibayang-bayangi dengan skandal keuangan badan investasi milik negara, 1MDB?

"Kami tidak mengupayakan balas dendam, kami ingin memulihkan penegakan hukum," kata Mahathir kepada para wartawan saat menyatakan kemenangannya.

Mahathir masih menikmati popularitas di Malaysia sebagai konsekuensi dari kesejahteraan yang dialami rakyat negeri itu selama masa kekuasaannya dari 1981 hingga 2003.

Namun, selama masa itu, dia juga dituduh melucuti independensi sistem hukum pada 1988 sekaligus meredam aksi protes dengan menahan lebih dari 100 orang dalam insiden yang disebut Operasi Lalang.

Pada Desember lalu, dalam pernyataan singkat, Mahathir meminta maaf atas "segala kesalahan" selama 22 tahun masa pemerintahannya.

Hak atas foto MOHD RASFAN/AFP/Getty Images
Image caption Perdana Menteri Najib Razak berkeras dirinya tidak terlibat dalam skandal korupsi. "Sudah jelas, tidak ada kesalahan," katanya.

4. Wajah 'terlarang'

Komisi Pemilihan Malaysia melarang foto Mahathir dipajang di luar daerah pemilihannya karena legalitas partainya, Parti Pribumi Malaysia, masih dipertanyakan.

Dalam menegakkan aturan ini, Komisi Pemilihan memotong wajah Mahathir di sebuah poster—yang kemudian viral di media sosial.

Menurut Mahathir, aksi Komisi Pemilihan membuktikan dia merupakan kekuatan yang mengancam pemerintah dan menghalangi upaya Barisan Nasional untuk kembali berkuasa.

"Ini adalah sesuatu yang aneh. Apa tujuannya? Saya tadinya dilarang berkampanye, tapi saya tidak peduli dilarang atau tidak. Ini tidak sesuai dengan undang-undang negeri ini, kebebasan berpendapat," ungkapnya.

Berita terkait