Apakah ada mata-mata FBI di tim kampanye Trump?

President Donald Trump delivers remarks during the Prison Reform Summit at the White House in Washington, 18 May 2018 Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Trump sering memulai serangannya - dan mengumumkan kebijakan politik - lewat media sosial Twitter.

Departemen Kehakiman AS akan menyelidiki apakah agen FBI benar memata-matai kampanye Presiden Donald Trump pada 2016 untuk "tujuan yang tidak pantas".

Dalam sebuah twit, Trump mengatakan dia ingin tahu apakah pemerintahan pendahulunya, pemerintahan Barack Obama, memerintahkan langkah seperti itu.

Seruan itu datang setelah laporan media AS yang menunjukkan FBI memiliki informan yang bertemu pembantu kampanye.

Wakil Jaksa Agung AS Jenderal Rod Rosenstein mengatakan akan mengambil tindakan jika ditemukan adanya infiltrasi.

"Jika ada yang melakukan infiltrasi atau memata-matai peserta kampanye kepresidenan untuk tujuan yang tidak pantas, kami perlu mengetahuinya dan mengambil tindakan yang tepat," kata Rosenstein dalam sebuah pernyataan.

Bagaimana ruang lingkup investigasi?

Sudah pernah ada investigasi ke semua aspek yang berkaitan dengan kampanye Trump untuk pemilu 2016 dan apakah Rusia mencoba mempengaruhi hasilnya.

Permintaan terbaru Trump datang di tengah serangkaian twit pada hari Minggu mengecam 'perburuan penyihir' yang, katanya, tidak menemukan kolusi apapun antara tim kampanyenya dengan Rusia.

Ia mengacu pada investigasi ke dalam upaya Rusia untuk ikut campur dalam pemilu AS 2016 yang sedang berlangsung yang dipimpin oleh Penasihat Khusus Robert Mueller. Investigasi itu menyelidiki apakah ada kolusi antara Rusia dan tim kampanye Trump dan apakah presiden mencoba secara tidak sah menghalangi penyelidikan.

Trump terus-menerus menyerang penyelidikan-penyelidikan itu.

Apakah ada mata-mata di dalam tim Trump?

Pertama, Trump menuduh bahwa FBI telah mengirim mata-mata ke tim kampanyenya pada hari Jumat.

"Itu terjadi sangat awal, dan jauh sebelum berita palsu Rusia menjadi berita palsu yang 'panas'," twit Trump menambahkan: "Jika benar - ini skandal politik terbesar sepanjang masa!"

Harian New York Times melaporkan bahwa memang ada informan FBI - yang identitasnya tidak diungkapkan - yang dikirim untuk berbicara kepada staf tim kampanye tetapi itu dilakukan setelah FBI menerima laporan "kontak mencurigakan yang terkait dengan Rusia".

Informan itu -seorang akademisi Amerika yang bekerja di Inggris- telah melakukan kontak dengan George Papadopoulos dan Carter Page. Harian The Washington Post juga melaporkan berita serupa.

Apa kemungkinan yang terjadi selanjutnya?

Aparat penegak hukum menolak untuk menyerahkan bukti-bukti yang mereka kumpulkan kepada para pemimpin Kongres.

Mereka berpendapat bahwa langkah itu akan membuat nyawa informan -atau kontaknya- dalam bahaya.

Trump dapat memerintahkan Departemen Kehakiman AS -yang memiliki pengawasan atas FBI- untuk merilis dokumen.

Apa hubungan informan dengan Mueller?

Menurut Washington Post, informan itu telah membantu penyelidikan Rusia sejak sebelum penunjukan Mueller setahun lalu. FBI membuka penyelidikan di tengah-tengah kampanye pada Juli 2016.

Tetapi tetap tidak jelas bagaimana informan pertama kali mendapat informasi yang mengarah ke pertemuannya dengan Papadopoulos dan Page - dan perannya yang lebih luas sebagai informan FBI.

Hak atas foto Reuters
Image caption Robert Mueller memiliki pengagum dari semua sisi politik di AS.

Adapun Mueller, mantan kepala FBI, sejauh ini telah menuntut 19 orang. Papadopoulos telah mengaku bersalah berbohong kepada FBI tentang waktu pertemuan dengan dugaan perantara untuk Rusia.

Tetapi Trump dan para pendukungnya telah melipatgandakan serangan mereka terhadap pekerjaan Penasihat Khusus itu.

Tanpa memberikan bukti apa pun pada hari Minggu, Trump menuntut penghentian penyelidikan - yang ia kaatakan biayanya mendekati $20 juta dan terdiri dari 13 "anggota Demokrat marah dan gemar konflik".

Namun Robert Mueller adalah seorang anggota Partai Republik.

Berita terkait