Inilah sup yang dimakan politisi Swiss ketika berseteru

Milchsuppe Hak atas foto Mike MacEacheran

Milchsuppe adalah makanan yang diresapi oleh cerita rakyat, paling tidak karena hubungannya dengan pembentukan negara Swiss.

Di suatu pagi sekitar pukul 08:00, setelah membaca doa harian di Kappel Abbey di kanton Zürich, pensiunan pendeta dan sejarawan paruh waktu Susanne Wey-Korthals keluar dari tempat istirahat ke udara terbuka Alpen, melintasi halaman biara Gothic dan memandang ke arah padang rumput yang bergelombang ke tempat Swiss dilahirkan.

Dari kolam yang ditumbuhi rumput di depan bekas biara Sistersien, yang dulu dikenal sebagai Tempat Keheningan dan Refleksi diri (House of Silence and Reflection), Wey-Korthals dapat melihat dusun Kappel am Albis dengan rumah-rumah bertangga curam, ladang yang ditanami dengan baik dan kawanan merpati yang berkeliaran di lumbung kayu.

Jika cuaca memungkinkan, dia kemudian lanjut melintasi padang rumput ke pepohonan bersemak belukar, dengan hati-hati mengukur langkahnya di jalan, ke tempat yang jauh lebih penting dari yang disadari para pengunjung.

"Lahan-lahan ini menjadi saksi beberapa momen paling penting dalam sejarah Swiss," kata Wey-Korthals, sambil menghembuskan napasnya pada keheningan udara dan memandang ke padang rumput berliku-liku.

"Swiss menemukan cara untuk berkompromi di sini. Untuk berkonsentrasi pada apa yang kami miliki bersama daripada fokus pada perbedaan kami. Kedengarannya hebat, tetapi kami melakukannya dengan semangkuk sup. "

Hidangan yang dimaksud adalah Milchsuppe, atau sup susu.

Dibuat di dalam ruang bawah tanah remang-remang Kappel Abbey selama berabad-abad - pertama oleh para biarawan, sekarang oleh koki sebagai bagian biara yang saat ini berfungsi sebagai sebagai tempat retret spiritual - kaldu kuning mustard ini bisa dibilang salah satu hidangan kuliner paling simbolis di Swiss.

Tetapi meskipun sulit ditemukan di berbagai menu di banyak restoran lokal, dan banyak dilupakan di bagian-bagian tertentu negara itu, sup itu tetap tertanam dalam jiwa bangsa.

Hak atas foto Mike MacEacheran
Image caption Milchsuppe secara tradisional dibuat dengan dua bahan: susu dan roti.

Seperti makanan fondue, raclette atau Bircher muesli, Milchsuppe ibarat Swiss dalam mangkuk.

Rasanya jelas namun nikmat, sup itu dibuat secara tradisional dengan dua bahan sederhana: susu dan roti.

Hari ini, sup itu dibuat dengan Sbrinz, jenis keju Parmesan yang bercitarasa, kemudian ditambahkan dengan setangkai peterseli.

Dulunya makanan pokok orang biasa, resep Milchsuppe telah didikte oleh sejarah, esensinya dikemas dengan makna - dari bahan-bahan yang awalnya dipasok oleh kanton yang berseteru ke roti yang mengapung di permukaan - dibentuk selama bertahun-tahun sehingga rasanya dapat tersebar ke setiap sendokan.

Tapi seperti halnya hidangan lainnya, Milchsuppe hadir dengan cerita di baliknya yang bahkan lebih lezat.

Hak atas foto Mike MacEacheran
Image caption Pada tahun 1529, pasukan Zug dan Zürich melakukan gencatan senjata akibat sup di tempat yang sekarang dikenal sebagai Milchsuppestein.

Tidak ada seorang pun di Kappel am Albis yang dapat mengingat dengan jelas bagaimana asal-muasal sup itu - atau bahan-bahan yang digunakan saat pertama kali dibuat di ladang dekat Biara Kappel.

Namun ada satu cerita yang disepakati oleh semua orang: kaldu dibuat secara tidak sengaja pada bulan Juni 1529 ketika dua tentara lapar bertemu di medan perang di tempat yang sekarang dikenal sebagai Milchsuppestein, atau 'padang rumput sup susu'.

Dan itu adalah makanan yang memainkan peran yang luar biasa dalam sejarah Swiss, menjadi simbol diplomasi dan rekonsiliasi modern.

Selama Reformasi Swiss di awal abad ke-16, Milchsuppestein menandai perbatasan yang bergejolak dan membagi garis antara wilayah-wilayah yang menentang Protestan -dan Katolik.

Di sebelah utara adalah wilayah yang beragama Protestan di Zürich, yang dipimpin oleh reformer seperti Martin Luther, Ulrich Zwingli, seorang pengawas paroki yang menyebarkan reformasi.

Di sebelah selatan adalah Zug dan kanton-kanton Katolik sekutu Konfederasi Swiss Lama, yang merasa bahwa serikat pedesaan mereka harus tetap selaras dengan Vatikan dan Roma.

Perpecahan dan ketidakpercayaan telah tersebar luas, diplomasi antara kedua kanton gagal dan musim panas 1529 telah tiba.

Tentara-tentara Zürich, dengan baju besi dan tombak, berbaris ke selatan menuju perang.

"Negosiasi terus berlanjut, tetapi mengagetkan semua orang karena infanteri melakukan gencatan senjata karena urusan makanan saat berada di medan perang," kata Wey-Korthals, sambil matanya mencari tempat pertempuran antar-kanton pertama yang seharusnya terjadi pertumpahan darah.

"Tentu saja, mereka lapar setelah long march, dan Zürich punya banyak roti dan garam, sementara Zug memiliki kelebihan susu dari peternakannya. Dari situlah legenda itu lahir." Tidak ada yang bisa sesederhana itu, tentu saja.

Ketegangan masih ada, mengarah ke Perang Kedua Kappel dua tahun kemudian ketika kanton-kanton yang bersengketa kembali ke medan perang.

Tetapi mitologi sup sudah mulai melekat, dan telah terbukti menjadi katalisator diplomasi Swiss sejak saat itu.

"Saat ini ketika para politisi atau anggota dewan memiliki perselisihan, sup itu masih disajikan," kata Wey-Korthals, menuntun saya ke sebuah memorial yang terbuat dari batu yang menandai situs tersebut.

"Itu bahkan telah direklamasi oleh partai politik SVP sayap kanan, yang menggunakannya sebagai simbol Swiss yang mereka jagokan. Semua negara memoles sejarah mereka sedikit, dan kami telah melakukan hal yang sama - kami mengubah sup menjadi ikon nasional."

Hak atas foto Marka/Getty Images
Image caption Ulrich Zwingli menyebarkan semangat gerakan Reformasi Swiss saat ia menjadi pendeta di Grossmünster di Zürich.

Untuk menggali lebih dalam, saya menuju ke Zürich di utara untuk melihat di mana kisah Milchsuppe berasal.

Nama-nama seperti Ulrich Zwingli terikat dengan sejarah kota, dan namanya dapat ditemukan di Zwingliplatz di Grossmünster, gereja Protestan dengan menara kembar tempat di mana Zwingli bekerja hingga kematiannya pada tahun 1531.

Di sini, pada tahun 1519, tokoh reformer itu menjadi pendeta, memberi energi kepada Gerakan Reformasi Swiss.

Tetapi mengenyampingkan agama, semangat Renaisans Zürich cukup untuk memikat mereka yang tidak memiliki minat sedikit pun pada Reformasi.

Dan apa yang menarik bagi saya tidak dapat ditemukan di Grossmünster atau gereja kembarnya, Fraumünster, tetapi terselip di dalam kuil Zürich untuk seni rupa, Kunsthaus.

Sebagian besar sejarah kota ditampilkan di kanvas di galeri museum yang luas itu, dan di situ lah kisah Milchsuppe diambil.

"Ikuti saya," kata konservator Tobias Haupt, saat dia menggeser serangkaian pintu yang dibuka dengan kartu, dari atrium umum melalui koridor yang ditumpuk dengan peti yang dikemas ke dalam departemen restorasi yang terlarang.

"Ini belum pernah dipinjamkan selama setengah abad dan sedang dalam perjalanan ke Museum Nasional Swiss untuk pameran yang akan datang. Tetapi Anda beruntung - ini baru diberangkatkan besok."

Hak atas foto Mike MacEacheran
Image caption Seniman Swiss Albert Anker menggambarkan pertemuan dua tentara dalam lukisannya, Die Kappeler Milchsuppe.

Beberapa bola lampu di langit-langit sudah cukup untuk menjelaskan alasan perjalanan saya: harta nasional dari pelukis Swiss, Anker Albert Anker, Die Kappeler Milchsuppe (Sup Susu dari Kappel), dari tahun 1869.

Dari dekat, ini menunjukkan sebuah padang rumput yang berubah menjadi dapur, rumah bagi jalinan rakyat biasa yang menukar gada dan tombak berat untuk roti potong dan sendok kayu, dibagikan melintasi garis musuh.

"Ini adalah karya seni yang penting untuk Swiss, juga bagi saya," kata Haupt, sambil merefleksikan lukisan Anker yang paling terkenal.

"Percaya atau tidak, saya dulu menikah di Biara Kappel, keluarga saya datang dari Jerman dan istri saya dari India. Tak satu pun dari kami yang tahu latar belakangnya, tetapi kami akhirnya makan sup itu di hari pernikahan kami. Itu sangat magis, dan itu sebabnya saya hanya akan pernah memakannya sekali saja."

Sebagai jendela ke masa lalu, baik Die Kappeler Milchsuppe dan Milchsuppestein tampaknya bukan dalam semangat romantisme sejarah lisan.

Tetapi karena Zürich akan melangsungkan peringatan besar 500 tahun reformasi di tahun 2019, yang masih dianggap sebagai salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam sejarah negara itu, Swiss sebaiknya meluangkan waktu sejenak untuk melihat seberapa jauh mereka telah berkembang.

Karena tonggak sejarahnya berubah-ubah, itu tetap menjadi tanggal yang dijalin ke dalam kain Swiss.

Sama seperti Milchsuppe.

Dan untuk berpikir itu semua terjadi akibat semangkuk roti dan susu di medan perang.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini diBBC Traveldengan judul In Switzerland, the soup quarrelling politicians share

Topik terkait

Berita terkait