'Bodoh dan dungu,' kata Korea Utara tentang pernyataan wapres AS Mike Pence

Vice-President Mike Pence in Washington, DC. Hak atas foto Reuters
Image caption Mike Pence - adalah 'si pandir di dunia politik,' kata Korea Utara.

Seorang pejabat senior Korea mencela pernyataan Wakil Presiden AS Mike Pence dan menyebutnya sebagai ucapan 'bodoh dan dungu,' yang membuat rencana pertemuan pemimpin kedua negara jadi semakin tidak pasti lagi.

Pejabat Korut, Choe Son-hui mengatakan bahwa Pyongyang tidak akan 'mengemis-ngemis' untuk terjadinya dialog dan memperingatkan akan terjadinya 'sengketa nuklir' apabila diplomasi gagal.

Dalam beberapa hari terakhir, kedua belah pihak telah mengatakan bahwa pertemuan Trump dan Kim yang dijadwalkan pada 12 Juni kemungkinan ditunda atau bahkan dibatalkan.

Pyongyang bersikeras bahwa mereka tidak akan melucuti senjata nuklir mereka secara sepihak.

President AS Donald Trump, Selasa (22/5) mengatakan bahwa Korea Utara adalah pihak yang harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu agar KTT itu bisa benar-benar berlangsung.

Pence orang yang 'pandir secara politik'

Choe Son-hui terlibat dalam berbagai interaksi diplomatik dengan pihak AS sejak dekade lalu.

Ia menyebut Pence seorang yang 'pandir secara politik' karena membandingkan Korea Utara yang merupakan negara nuklir, dengan Libya "yang sekadar memasang sejumlah peralatan dan bermain-main dengan peralatan itu."

Hak atas foto Reuters
Image caption Korea Utara menyatakan bahwa senjata nuklir sangat vital untuk keberlangsungan negeri itu.

Sebelumnya, Pence mengatakan bahwa Korea Utara 'bisa berakhir seberti Libya:' pada tahun 2011, pemimpin Libya Muammar Gadaffi terbunuh oleh para pemberontak, delapan tahun setelah mereka menghentikan program nuklir mereka.

Dalam sebuah artikel yang dimuat oleh kantor berita Korut, KCNA, Choe mengatakan bahwa Pence telah mengeluarkan "ucapan yang sembarangan dan kurang ajar."

"Sebagai seseorang yang terlibat dalam urusan AS, saya tidak bisa menahan kekagetan saya terhadap pernyataan bodoh dan dungu itu keluar dari mulut Wakil Presiden AS" katanya.

Choe mengatakan bahwa Pyongyang "tidak mengemis agar terjadi perundingan" dan memperingatkan: "apakah AS akan bertemu dengan kami di ruang pertemuan atau menghadapi kami dalam sengketa nuklir ke nuklir, sepenuhnya tergantung pada keputusan dan perilaku Amerika Serikat.

Beberapa hari lalu, penasehat keamanan nasional AS John Bolton juga membangkitkan kemarahan Korea Utara dengan mengatakan, denuklirisasi Korea Utara bisa mengikuti 'model Libya.

Hal ini membuat Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara mengancam untuk membatalkan pertemuan Trump-Kim.

Presiden Donald Trump kemudian berusaha meredakan masalah dengan menepiskan kata-kata John Bolton.

Please upgrade your browser to view this content.

Berita terkait