Para pelaku perdagangan manusia tembaki para pengungsi yang berusaha lari

One of the injured migrants and an MSF medic Hak atas foto MSF
Image caption MSF mengatakan para korban yang selamat dalam peristiwa penembakan itu kebanyakan adalah remaja.

Para pelaku perdagangan manusia menembaki sekitar 100 migran di Libia utara yang mencoba melarikan diri setelah ditawan dan diperjualbelikan selama tiga tahun, lapor lembaga bantuan kemanusiaan MSF.

Dua puluh lima penyintas yang terluka mendapatkan penanganan di sebuah rumah sakit di kota Bani Walid.

Medecin Sans Frontiers (MSF atau Dokter Lintas Batas) mengatakan bahwa setidaknya 15 korban terbunuh dan puluhan lainnya, kebanyakan adalah perempuan, ditinggalkan rombongan.

Libia menjadi titik kunci untuk rute perjalanan para imigran Afrika sub-Sahara yang mencoba mencapai Eropa melalui laut.

Libia masih terus dalam keadaan kacau balau semenjak kejatuhan Muammar Gadaffi pada tahun 2011.

Negeri terpecah-pecah dalam penguasaan milisi yang berbeda-beda dan dua pemerintah yang bersaing adalah hal yang mengakibatkan suburnya berbagai kegiatan ilegal.

MSF juga menyebutkan bahwa para korban terluka yang sedang mendapatkan perawatan kebanyakan merupakan anak usia remaja dari Eritrea, Ethiopia dan Somalia yang sedang dalam perjalanan untuk mencari suaka di Eropa.

Mereka mengatakan bahwa sejak ditangkap, mereka dijual di antara berbagai kelompok pelaku perdagangan manusia, dan hal ini berlangsung sejak tiga tahun lalu.

Upaya para migran ini untuk meloloskan diri terjadi pada malam hari tanggal 23 Mei, menurut MSF.

Tujuh korban yang selamat kemudian mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum kota Bani Walid untuk luka tembak yang cukup serius dan patah tulang, sementara 18 korban lainnya menerima perawatan untuk luka ringan.

Para korban telah dipindahkan ke pusat tahanan dan sebagian lainnya dipindahkan ke rumah sakit di Tripoli.

"Semua tindakan yang diperlukan harus dilakukan demi memastikan pasien mendapatkan kemudahan dalam mengakses pengobatan yang diperlukan serta untuk melindungi para korban yang luar biasa rentan itu dari penderitaan yang lebih besar.

"Penahanan sewenang-wenang terhadap para korban tidak bisa jadi solusi. Mereka sangat membutuhkan perlindungan dan bantuan," kata Christophe Biteau, kepala misi MSF di Libia.

Berita terkait