Militan Taliban dan tentara Afghanistan berpelukan saat jeda Idul Fitri

Taliban militants and soldiers mingle with residents of Kunduz during the Eid ceasefire Hak atas foto EPAs
Image caption Para anggota Taliban, tentara pemerintah, dan warga biasa, bercampur di Kunduz.

Dalam peristiwa yang beberapa hari lalu kelihatan mustahil, para anggota Taliban Afghanistan tampak berpelukan dengan para anggota pasukan keamanan Afghanistan di tengah gencatan senjata tiga hari yang diberlakukan untuk menandai Idul Fitri.

Presiden Ashraf Ghani telah memperpanjang gencatan senjata sepihak dan menyerukan kepada Taliban untuk melakukan hal yang sama.

Pemerintah juga membebaskan sejumlah militan Taliban dari penjara.

Namun 20 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri pada satu pertemuan antara Taliban dan pejabat pemerintah di Nangarhar.

Sejumlah anggota Taliban dan warga setempat termasuk di antara korban serangan bunuh diri itu, kata jurubicara provinsi Nangarhar, Attaullah Khogyani, kepada BBC.

Taliban mengatakan mereka tidak terlibat dalam serangan itu.

Presiden Ghani menginginkan gencatan senjata Idul Fitri ini bisa jadi pembuka jalan menuju perdamaian yang lebih langgeng, dan menyerukan Taliban untuk maju ke meja perundingan.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Ashraf Ghani mengatakan, sekarang para anggota Taliban dapat menerima tunjangan pemerintah seperti warga lainnya.

Namun Presiden tidak menyebut-nyebut peristiwa serangan di Nangarhar.

Hak atas foto EPA
Image caption Seorang militan memeluk seorang petugas polisi Afghanistan di Kunduz.

Video dan gambar yang memperlihatkan berbagai peristiwa bercampurnya tentara Afghanistan dengan militan Taliban dan warga di berbagai pelosok negeri dipublikasikan di berbagai media lokal.

Dalam berbagai foto juga tampak para militan bertemu Menteri Dalam Negeri Wais Barmak di ibukota Kabul.

Awal bulan ini, Taliban menyangkal berita bahwa mereka sedang melakukan pembicaraan rahasia dengan pemerintah Afghanistan.

Presiden Ashraf Ghani juga mengukuhkan berita kematian komandan Taliban Pakistan, Maulana Fazlullah, yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di Afghanistan.


Adegan luar biasa

Oleh Anbarasan Ethirajan, BBC News

Bagi banyak orang Afghanistan ini adalah pemandangan yang luar biasa. Hanya beberapa hari lalu saja, kedua belah pihak saling bertarung. Perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini telah meningkatkan harapan akan perdamaian permanen di negara yang dilanda perang tak berkesudahan ini.

Pakistan dianggap memegang peran kunci dalam memulai proses perdamaian karena banyak pemimpin Taliban Afghanistan diyakini tinggal di negeri tetangga itu.

Namun Islamabad menuduh Kabul menampung para gerilyawan Islamis yang melakukan sejumlah serangan kekerasan di Pakistan.

Betapa pun, terbunuhnya Mullah Fazlullah di Afghanistan meredakan berbagai ancaman keamanan yang diwaspadai Islamabad. Mullah Fazlullah adalah salah satu militan paling dicari di Pakistan.


Apa yang telah terjadi?

Tolo News memposting video seorang militan yang memeluk seorang tentara Afghanistan di Kunduz, di bagian utara Afghanistan.

Disebutkan, di cuitan itu, para anggota Taliban bertemu dengan pasukan #Afghan di pos pemeriksaan kota #Ghazni selama gencatan senjata Idulfitri.

Di Kabul sendiri, puluhan militan Taliban yang tak bersenjata masuk kota untuk merayakan gencatan senjata yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Seorang anggota Taliban tampak memegang bendera Afghanistan di sebuah jembatan di kota itu ketika sejumlah warga melakukan swafoto bersamanya.

Para militan juga berpose bersama Menteri Dalam Negeri Wais Barmak.

Bagaimana gencatan senjata terjadi?

Taliban mengumumkan penghentian permusuhan selama tiga hari setelah gencatan senjata sepihak hingga Rabu yang diberlakukan oleh pemerintah.

Ini adalah gencatan senjata pertama Taliban sejak pemerintah mereka digulingkan oleh invasi tahun 2001 yang dipimpin AS.

Departemen luar negeri AS mengatakan pasukan AS dan mitra koalisi mereka akan "menghormati gencatan senjata" itu.

Para pejabat mengatakan tidak terjadi serangan apa pun sejak gencatan senjata diumumkan.

Pada bulan Februari lalu, Presiden Ghani menawarkan pembicaraan damai "tanpa prasyarat" dan pengakuan Taliban sebagai kelompok politik yang sah jika mereka menghormati aturan hukum.

Bagaimana reaksi rakyat biasa di Afghanistan?

Warga mengungkapkan keterkejutan dan kegirangan mereka.

"Saya tidak bisa mempercayai mata saya. Saya melihat Taliban dan polisi berdiri berdampingan dan melakukan selfie," kata seorang warga Kunduz, Mohammad Amir kepada Reuters.

"Itu adalah Idul Fitri yang paling damai. Untuk pertama kalinya kami merasa aman. Sulit menggambarkan kegembiraan ini," kata Qais Liwal, seorang siswa di Zabul di Afghanistan selatan.

Orang-orang berseru dan bersorak menyambut para militan Taliban saat mereka masuk berbagai kota Afghanistan, Reuters melaporkan.

Di Jalalabad di Afghanistan timur, warga memberikan berbagai buah-buahan dan makanan kepada para militan.

Puluhan ribu warga Afghanistan tewas sejak invasi pimpinan AS menggulingkan Taliban dari kekuasaan pada tahun 2001.

Hak atas foto EPA
Image caption Para anggota Taliban berbicara dengan warga Kunduz.

Bagaimana hubungannya dengan kematian pemimpin Taliban Pakistan?

Di Pakistan, Perdana Menteri Interim Nasir-ul Mulk mengatakan terbunuhnya pemimpin Taliban Pakistan Maulana Fazlullah dalam serangan pesawat tak berawak AS merupakan perkembangan signifikan dalam perang melawan terorisme.

Hal itu diucapkannya setelah berbicara lewat telepon dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang mengukuhkan kabar kematian pimpinan Taliban Pakistan itu.

Panggilan telepon dari Presiden Ghani dilihat sebagai upaya untuk mendapatkan kepercayaan Pakistan dan meningkatkan kerja sama dalam perang melawan militan di Afghanistan, yang banyak pemimpinnya tinggal di Pakistan.

Hak atas foto EPA
Image caption Mullah Fazlullah (tengah) tampak dalam video lama yang dirilisTaliban Pakistan.

Fazlullah dituding terlibat dalam sejumlah serangan di Pakistan, termasuk pembantaian sekolah di Peshawar pada tahun 2014 yang menewaskan lebih dari 150 orang.

Dia juga dituding sebagai tokoh yang memerintahkan percobaan pembunuhan Malala Yousafzai, yang ditembak pada kepalanya di sebuah bus sekolah, saat ia masih merupakan siswi berusia 15 tahun.

Taliban Pakistan mengatakan pada saat itu bahwa mereka menembak Malal karena dia "pro-Barat" dan "mempromosikan budaya Barat di kawasan Pashtun".

Berita terkait