Kebijakan pemisahan paksa migran: Trump menerima keluarga korban pembunuhan migran ilegal

Trump dan korban kekerasan imigran gelap Hak atas foto MANDEL NGAN / AFP
Image caption Pertemuan ini terjadi di tengah kecaman global terhadap kebijakan pemisahan lebih dari 2.000 anak-anak dari orangtua mereka yang masuk ke negara itu secara ilegal.

Di tengah kontroversi kebijakan pemisahan keluarga pendatang ilegal, Presiden Trump menerima perwakilan sejumlah keluarga yang menjadi korban pembunuhan oleh orang-orang yang masuk ke AS secara ilegal.

"Kepergian orang-orang yang Anda cintai tidaklah sia-sia," kata Trump di hadapan kelompok yang menyebut dirinya Angel Families di Gedung Putih.

Pertemuan ini terjadi di tengah kecaman global terhadap kebijakan pemisahan lebih dari 2.000 anak-anak dari orangtua mereka yang masuk ke negara itu secara ilegal.

Belakangan, Trump akhirnya tunduk pada tekanan publik dan mengoreksi kebijakan dengan menandatangani perintah eksekutif untuk "menjaga keluarga agar tetap bersama" di tahanan-tahanan para migran.

Hak atas foto Spencer Platt/Getty Images
Image caption Trump akhirnya tunduk pada tekanan publik dan mengoreksi kebijakan dengan menandatangani perintah eksekutif untuk "menjaga keluarga agar tetap bersama" di tahanan-tahanan para migran.

Tetapi perintah eksekutif terbaru ini tidak menyinggung keluarga-keluarga yang sudah dipisahkan oleh kebijakan sebelumnya.

Dia juga tetap memberlakukan kebijakan "toleransi nol" yang akan menuntut secara pidana siapa pun yang melintasi perbatasan secara ilegal.

Apa yang dikatakan presiden?

"Ini adalah warga negara AS yang secara permanen terpisah dari orang-orang yang mereka cintai," kata Trump, Jumat (22/06), sebelum memperkenalkan anggota keluarga korban.

"Saya tidak bisa membayangkan peristiwa yang mereka alami, tetapi saya berjanji untuk bertindak dengan kekuatan yang kami miliki," tandasnya.

Hak atas foto Mandel Ngan/AFP
Image caption Aura Wilkerson, yang putranya tewas pada tahun 2010 oleh seorang imigran gelap, mengatakan: "Tidak satu pun dari anak-anak kami memiliki waktu barang semenit untuk mengucapkan selamat tinggal."

Trump juga menekankan bahwa pemerintah akan bersikap total dalam menjaga perbatasan demi keamanan warga.

"Dan kami akan mengakhiri krisis imigrasi ini sekali dan untuk selamanya," tambah presiden.

Aura Wilkerson, yang putranya tewas pada tahun 2010 oleh seorang imigran gelap, mengatakan: "Tidak satu pun dari anak-anak kami memiliki waktu barang semenit untuk mengucapkan selamat tinggal."

"Dan kami tidak cukup beruntung untuk dipisahkan selama lima hari atau 10 hari. Kami dipisahkan secara permanen," tegas Wilkerson

Apakah para migran ilegal lebih mungkin melakukan kejahatan?

Pada 2017, jajak pendapat yang dilakukan media Gallup menunjukkan bahwa hampir separuh orang AS meyakini bahwa kehadiran migran gelap meningkatkan tingkat kejahatan.

Namun banyak penelitian lainnya yang menemukan bahwa yang benar adalah sebaliknya, yaitu warga asli AS yang lebih cenderung melakukan kejahatan ketimbang imigran.

Warga asli AS juga diketahui cenderung lebih banyak yang menjalani hukuman di penjara-penjara.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Presiden Donald Trump didampingi wapres Mike Pence dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kirstjen Nielsen, saat penandatanganan perintah itu.

Hasil penelitian lainnya yang mencakup empat dekade membandingkan tingkat migrasi dengan tingkat kejahatan.

Para peneliti menemukan bahwa kehadiran migran ilegal tampaknya terkait dengan penurunan kejahatan kekerasan seperti pembunuhan atau perampokan.

"Hasilnya menunjukkan bahwa kehadiran migran tidak meningkatkan kriminal dan, kenyataannya, perampokan, pencurian, dan pembunuhan lebih rendah di tempat-tempat di mana tingkat kehadiran migran lebih tinggi," kata penulis utama surat kabar itu, Robert Adelman.

Sementara, hasil penelitian pada 2017 oleh Cato Institute menemukan bahwa tingkat incarceration (penahanan) untuk penduduk asli Amerika adalah 1,53%, dibandingkan dengan 0,85% untuk kaum migran tidak berdokumen dan 0,47% untuk imigran legal.

Apa penyebab perselisihan tentang keluarga migran?

Sekitar 2.300 anak migran ilegal telah dipisahkan dari keluarganyasejak kebijakan "toleransi nol" Trump dimulai pada Mei. Mereka ditempatkan di pusat-pusat penempatan yang dikelola oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan.

Hak atas foto Alex Wong/Getty Images
Image caption Di tengah kontroversi kebijakan pemisahan keluarga pendatang ilegal, Presiden Trump menerima perwakilan sejumlah keluarga yang menjadi korban pembunuhan oleh orang-orang yang masuk ke AS secara ilegal.

Beberapa tempat penampungan, termasuk tiga di Texas, merupakan rumah bagi anak-anak yang berusia di bawah lima tahun.

Sekitar 500 anak telah dipersatukan kembali dengan keluarga mereka sejak Mei, kata seorang pejabat Keamanan Dalam Negeri pada hari Kamis (21/06).

Tetapi perintah eksekutif ini tidak menyinggung keluarga-keluarga yang sudah dipisahkan oleh kebijakan sebelumnya.

Foto-foto yang merekam kondisi anak-anak yang menangis, akibat dipisahkan dari orang tuanya, telah memicu protes dan melahirkan gelombang kecaman dunia internasional.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sekitar 500 anak telah dipersatukan kembali dengan keluarga mereka sejak Mei, kata seorang pejabat Keamanan Dalam Negeri pada hari Kamis (21/06).

Sebelumnya, Presiden Trump mengatakan "hal ini tidak dapat diatasi melalui perintah eksekutif." Menurutnya hanya Kongres yang dapat mengatasi kebijakan itu dengan merumuskan perundangan reformasi imigrasi. Namun akhirnya Trump berubah pikiran.

Pemimpin kongres dari partai Republik, Paul Ryan mengatakan DPR akan melakukan pemungutan suara hari Kamis (21/6) ini untuk mengesahkan undang-undang yang menjaga keluarga untuk bisa tetap bersama".

Namun pembahasan RUU itu ditunda pada Jumat sebelum akan dibahas lagi pada minggu depan.

Berita terkait