Erdogan unggul dalam penghitungan awal pemilihan presiden Turki

Penghitungan suara di Turki Hak atas foto Jeff J Mitchell/Getty Images
Image caption Penghitungan suara dilakukan setelah pemungutan suara dalam pemilu yang diperkirakan berlangsung ketat.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengungguli saingan utamanya, Muharrem Ince, berdasarkan penghitungan awal sekitar sepertiga dari total jumlah kertas suara pemilihan presiden, lapor media resmi negara itu, Minggu (24/06).

Untuk sementara Erdogan memperoleh 59% suara, dan saingan terberatnya, Muharrem Ince, mengantongi 27%.

Jika Erdogan memperoleh lebih dari 50% total suara, maka ia akan dinyatakan sebagai pemenang dan tidak perlu pemungutan suara putaran kedua.

Sebanyak 60 juta rakyat Turki mempunyai hak pilih dan dapat memberikan suara mereka sebanyak dua kali mulai pukul 08.00 waktu setempat. Satu suara untuk pemilihan legislatif, lainnya untuk pemilihan presiden.

Pada pemilihan presiden, Erdogan merupakan sosok yang diprediksi bakal menang. Namun, dia menghadapi persaingan ketat dari kandidat Partai Republik Rakyat (CHP), Muharrem Ince.

Apa yang dikatakan kedua kandidat?

Baik Erdogan maupun rival utamanya, Muharrem Ince, sama-sama menggelar pawai besar-besaran pada Sabtu (23/06)—hari terakhir kampanye—dan saling menuding bahwa lawannya tidak pantas memimpin Turki.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Presiden Erdogan mendorong pendukungnya menyampaikan pelajaran kepada kubu oposisi "dalam batas-batas hukum".

Ince, yang kampanyenya telah menggalang kembali kekuatan oposisi, berjanji membuat Turki tidak terperosok ke dalam kekuasaan otoriter di bawah Erdogan.

"Jika Erdogan menang, ponsel-ponsel Anda akan terus dikupingi… Ketakutan akan kembali berjaya. Jika Ince menang, pengadilan akan independen," cetusnya di hadapan sekitar sejuta orang di Istanbul.

Ince juga mengatakan bahwa jika dirinya terpilih, dia akan mencabut status darurat dalam 48 jam. Status darurat yang diterapkan Erdogan saat terjadinya kudeta membuat pemerintah dapat melangkahi parlemen.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Muharrem Ince berikrar menjadi pemimpin non-partisan jika terpilih.

Di lain pihak, Presiden Erdogan—yang menjabat perdana menteri selama 11 tahun sebelum menjabat presiden pada 2014—menggunakan metafora dalam kampanyenya.

"Apakah kita akan memberikan mereka tamparan Ottoman (teknik untuk menjatuhkan seseorang) besok?"

Dia menuduh Ince—mantan guru dan anggota parlemen selama 16 tahun—tidak punya keahlian untuk memimpin.

"Satu hal untuk menjadi guru fisika, tapi beda lagi untuk memimpin negara. Menjadi presiden perlu pengalaman," sebutnya.

Erdogan kemudian berjanji kepada para pendukungnya untuk menciptakan proyek infrastruktur besar untuk mendorong ekonomi, jika dia terpilih kembali.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Seorang perempuan masuk ke bilik suara diikuti oleh anaknya di Ankara, Turki, Minggu (24/6).

Bagaimana pemungutan suara berlangsung?

Dua pemilihan berlangsung secara bersamaan pada Minggu (24/6). Satu untuk memilih presiden, satunya untuk memilih anggota parlemen.

Pada pilpres, sebanyak enam kandidat tersedia untuk dipilih. Jika salah satu dari mereka meraih lebih dari 50% suara, dia dipastikan langsung memenangi pilpres.

Namun, jika tidak ada seorang kandidat pun yang mencapai lebih dari 50% suara, pilpres putaran kedua akan digelar pada 8 Juli mendatang.

Pada pemilihan legislatif, Partai AK (AKP) selaku partai berkuasa akan menghadapi persaingan ketat untuk menduduki sebagian besar dari 600 kursi di parlemen.

Salah satu partai oposisi yang menjadi rival AKP adalah Partai Demokratik Rakyat (HDP) yang pro-Kurdi. Rival lainnya adalah Partai Republik Rakyat (CHP) dari poros kiri-tengah.

Hak atas foto AFP

Apa yang menjadi topik utama pada pemilu?

Yang utama adalah ekonomi. Mata uang Turki, Lira, telah mengalami hantaman. Apalagi, inflasi sudah menyentuh 11%. Akibatnya, rakyat awam kini dilanda himpitan.

Topik lainnya adalah terorisme mengingat Turki menghadapi serangan dari milisi Kurdi dan milisi kelompok ISIS.

Koresponden BBC di Turki, Mark Lowen, mengatakan Turki kini terbagi menjadi beberapa kubu, semisal antara komunitas Kurdi dan nasionalis serta antara kubu sekuler dan agamis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Muharrem Ince menggalang dukungan dalam pawai terakhirnya.

Apakah pemilu bakal berjalan jujur dan adil?

Tempat-tempat pemungutan suara dibuka dengan pengawalan ketat. Di Istanbul, lebih dari 38.000 polisi dikerahkan untuk menjaga TPS-TPS.

Kekhawatiran soal keamanan mencuat, khususnya di kawasan tenggara yang dihuni komunitas Kurdi.

Hak atas foto EPA
Image caption Mr Erdogan too draws huge numbers - many are pictured here with Turkish and AK Party flags

Apa yang terjadi jika Erdogan menang?

Dia akan memulai masa jabatannya yang kedua dengan supergesit.

Dulu jabatan presiden di Turki tak lebih dari jabatan seremonial. Namun, pada April 2017, 51% pemilih Turki mendukung konstitusi baru yang memberikan presiden sejumlah wewenang.

Di antaranya:

  • Menunjuk langsung pejabat publik di posisi penting, termasuk menteri dan wakil presiden
  • Mencampuri sistem hukum
  • Menerapkan status darurat
  • Menghapus jabatan perdana menteri

Pihak pengkritik menuding Erdogan mencoba memerintah seorang diri, dan lawan politiknya menyebut kekuasaannya tidak akan mendatangkan perubahan.

Jika pilpres dan pemilihan umum legislatif sama-sama dimenangi Erdogan dan AKP, lanskap politik Turki tidak akan banyak berubah.

Namun, jika hasilnya berbeda, ketidakstabilan politik dikhawatirkan bisa terjadi.

Sejak percobaan kudeta pada 2016, Turki telah mengalami masa sulit. Lebih dari 160.000 orang ditahan, menurut PBB, sebagai bagian dari upaya pembersihan pengaruh Fethullah Gulen—ulama yang dituding pemerintah Turki berada di balik upaya kudeta.

Gulen sendiri membantah keterlibatan apapun.

Topik terkait

Berita terkait