Trump intensifkan aksi perang dagang, Cina mengatakan sangat terkejut

Amerika Serikat Hak atas foto Getty Images
Image caption AS menyebut tarif yang mereka terapkan adalah balasan atas tindakan 'curang' Cina.

Pemerintah Cina mengaku sangat kaget setelah Amerika Serikat mengumumkan rencana pembaruan bea masuk untuk produk mereka.

Kondisi ini diprediksi memicu perang dagang antara dua negara itu.

Beijing menyebut ancaman AS 'sama sekali tak dapat diterima' dan dapat berdampak buruk bagi perekonomian global.

"Tindakan AS menyakiti kami, dunia, dan negara mereka sendiri," kata otoritas Kementerian Perdagangan Cina.

Ia mengatakan pemerintah Cina perlu mengambil langkah balasan yang tepat.

Pernyataan itu muncul setelah AS membuat rincian tarif untuk produk ekspor Cina ke negara mereka yang bernilai sekitar US$200 miliar atau Rp2,875 triliun.

AS berencana menerapkan bea masuk itu September mendatang. Langkah itu diambil beberapa hari setelah AS dan Cina saling membebankan tarif sebesar US$34 miliar (Rp489 triliun) untuk produk ekspor.

Daftar yang dibuat AS memuat lebih dari 6.000 produk, termasuk makanan, air minum, dan tas.

Masyarakat dapat menanggapi daftar produk itu hingga akhir Agustus sebelum bea masuk yang dibebankan 10% tersebut berlaku.

Pasar modal Asia jatuh tajam Rabu ketika menghindari risiko di tengah tensi tingggi antara dua negara maju itu.

Di Cina, indeks Hang Seng terkoreksi 1,6% sedangkan indeks Shanghai Composite jatuh hingga 2% sementara indeks Nikkei turun 1,2%.

Gedung Putih menyebut penerapan bea masuk baru itu adalah respons mereka terhadap praktik dagang curang Cina.

AS ingin Cina menghentikan dugaan alih kekayaan intelektual, baik desain dan ide produk, ke perusahaan asal Cina. AS tak setuju pada syarat perusahaan asing berbagi kepemilikan dengan rekanan lokal agar dapat masuk ke pasar Cina.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Juru runding senior AS, Robert Lighthizer, menyebut strategi meningkatkan bea masuk untuk produk Cina vital untuk melindungi pelaku usaha negaranya.

Perwakilan perdagangan AS, Robert Lighthizer, menyebut tak ada alasan di balik rencana Cina membalas strategi dagang itu.

"Dahulu, AS bersedia ikut serta mengupayakan resolusi atas kecurangan dagang Cina dan agar mereka membuka pasar untuk produk kami."

"Saat ini, kami akan tetap waspada dalam mempertahankan hak pekerja dan pelaku bisnis kami untuk berkompetisi dalam hubungan timbal balik yang adil," kata Lightizer.

'Kekhawatiran meningkat'

Banyak perusahaan AS menentang penggunaan tarif untuk melawan Cina. Mereka menilai strategi itu dapat beresiko buruk bagi usahawan dan perekonomian, tanpa jaminan Cina mengubah perilaku dagang.

Setelah bea masuk sebesar US$34 miliar berlaku sejak Jumat pekan lalu, AS akan mempertimbangkan penerapan bea masuk baru untuk produk Cina yang bernilai sekitar US$16 miliar atau Rp230 triliun.

Presiden AS Donald Trump menilai tarif tambahan itu dapat diberlakukan akhir Juli ini.

Secara keseluruhan, tarif impor yang digagas Trump hampir setara dengan seluruh barang yang dipasok Cina ke AS atau lebih dari US$500 miliar (Rp7.192 triliun) pada tahun 2017.

"Ini adalah situasi sulit untuk sejumlah perusahaan kami. Mereka semakin khawatir tentang akhir dari kondisi ini," kata Ed Brzytwa, Direktur Perdagangan Internasional pada Dewan Kimia Amerika, sebelum pengumuman tarif baru, Selasa lalu.

"Perusahaan-perusahaan tak dapat memperkirakan ujung perang dagang ini," katanya.

Topik terkait

Berita terkait