Kisah mantan biksu yang menjaga 12 remaja Thailand tetap hidup

Nopparat Kantawong, wild boar, thailand, ekapol Hak atas foto Nopparat Kanthawong/Facebook
Image caption Ekapol Chantapong (kiri) bersama Nopparat Kantawong, pelatih kepala tim sepak bola Wild Boars (kanan)

Selama lima tahun terakhir, Ekapol Chanthawong banyak menghabiskan waktu di Kuil Wat Phra That Doi Wao, Kota Chiang Rai, Thailand utara.

Selama di sana, pelatih tim Wild Boars yang ikut terperangkap bersama 12 remaja di gua ini, membersihkan kuil dan membantu pelaksanaan sejumlah upacara.

Itu dia lakukan hampir setiap hari setelah terlebih dulu mengurus neneknya di Kota Tachileik, Myanmar, pagi hari.

Perjalanan lintas perbatasan Thailand-Myanmar itu dilakoninya dengan riang. Bahkan, dia masih punya tenaga untuk mendampingi para remaja berlatih sepak bola pada pukul 16.00.

Jika tidak ada acara di kuil pada akhir pekan, Ekapol akan turut berkeliling Kota Chiang Rai mengendarai sepeda bersama anak-anak asuhnya.

Kepala biksu di kuil, Phra Kru Praiyatipiyanan, menilai pelatih Ekapol sebagai "pribadi yang baik dan bersahabat, jarang mengeluh, tidak seberapa keras kepala, tidak minum miras, dan tidak merokok".

Dari biksu menjadi pelatih sepak bola

Hak atas foto Panupong Changchai/BBC Thai
Image caption Wat Phra That Doi Wao - kuil tempat Ekapol bekerja

Nopparat Kantawong, pelatih kepala Wild Boars, mengenal keluarga Ekapol sejak yang bersangkutan masih kanak-kanak. Kantawong sempat hilang kontak dengan Ekapol ketika dia ditasbihkan menjadi biksu.

Namun, lima tahun lalu mereka bertemu kembali.

"Saat itu dia sudah tidak lagi menjadi biksu. Saya tidak mengenalinya karena kita sempat hilang kontak. Tapi dia menghampiri dan memperkenalkan dirinya saat saya sedang melatih anak-anak," ujar Nopparat.

"Dia sangat suka berlatih dan mencintai anak-anak. Dia juga suka menjadi relawan dan mengutarakan minat menjadi asisten pelatih. Dialah yang punya gagasan agar kami berlatih dengan anak-anak pada waktu senggang agar mereka terhindar dari narkoba dan masalah lain," sambungnya.

Antagonis ke pahlawan

Hak atas foto Thai Royal Navy/AFP
Image caption Detik-detik ketika para penyelam menemukan ke-12 remaja bersama pelatih mereka di Gua Tham Luang.

Pada 23 Juni, dia dan 12 anggota tim Wild Boars yang berusia antara 11 tahun hingga 16 tahun, mengendarai sepeda ke Gua Tham Luang di Mae Sai.

Saat pertama kali berita muncul bahwa remaja-remaja itu dalam masalah, masyarakat awalnya menanggapi dengan kemarahan.

Banyak orang yang mengecam Ekapol karena menduga dia membawa para remaja itu ke dalam gua yang berbahaya.

Namun, persepsi itu berubah dengan cepat ketika regu penyelamat menemukan para remaja selang sembilan hari kemudian.

Masyarakat di Thailand bertanya-tanya setelah melihat tayangan video yang direkam para penyelam Inggris. Bagaimana para remaja itu bisa bertahan hidup sekian lama?

Semedi

Hak atas foto Panupong Changchai/BBC Thai
Image caption Phra Kru Praiyatipiyanan, selaku kepala biksu di Kuil Wat Phra That Doi Wao

Kepala biksu, Phra Kru Praiyatipiyanan, meyakini bahwa semedi adalah kunci para remaja itu bisa bertahan hidup.

Ekapol punya pengalaman sebagai biksu pemula dan telah menuntaskan pelajaran bahasa Pali tingkat tinggi—bahasa yang dipakai dalam manuskrip agama Hindu dan Buddha Theravāda.

"Mengingat pelatih Ek pernah belajar di biara, dia telah mempelajari dasar-dasar pemusatan pikiran. Mereka yang belum pernah berlatih seperti itu akan duduk dalam keputusasaan dan menangis sembari menunggu pertolongan."

"Padahal, semakin banyak seseorang menangis, lebih banyak energi yang dihabiskan. Pelatih Ek mungkin menangis perlahan sehingga tidak ada yang mendengar, tapi dorongan untuk melindungi ke-12 remaja itu bakal membuatnya bertahan."

Ilmu Meditasi

Hak atas foto Panupong Changchai/BBC Thai
Image caption Komandan Apakorn Yookongkaew, perwira Angkatan Laut Thailand.

Kesatuan SEAL dari Angkatan Laut Thailand, juga sepakat bahwa meditasi mungkin adalah kunci para remaja itu bisa bertahan hidup.

Komandan Apakorn Yookongkaew mengatakan bahwa meditasi amat mungkin menenangkan para remaja sehinggga mereka hemat menggunakan oksigen.

Meditasi sejatinya adalah teknik mengendalikan pernapasan dan mengurangi stres serta kecemasan.

Teknik itu banyak dipakai penyelam untuk menghemat oksigen dalam perjalanan bawah air nan lama dan sulit.

Pemulihan di rumah sakit

Hak atas foto Reuters
Image caption Ke-12 remaja dan pelatih mereka sedang menjalani pemulihan di rumah sakitt.

Ekapol bersama ke-12 anak asuhnya kini sedang menjalani pemulihan di rumah sakit.

Dalam kiriman surat ke gua saat mereka masih terperangkap di tempat itu, para orang tua menyatakan telah memaafkan Ekapol.

Akan tetapi, pelatih kepala Wild Boars, Nopparat Kantawong, menduga Ekapol mungkin bakal meminta izin untuk kembali menjadi biksu dalam periode waktu tertentu. Hal ini umum terjadi bagi orang Thailand yang ingin meminta ampunan atau membersihkan diri mereka secara spiritual.

Lepas dari spekulasi tindakan Ekapol sekeluarnya dari rumah sakit, dukungan baginya berlimpah ruah di media sosial.

Salah seorang pengguna Twitter bahkan menyatakan Ekapol cocok menjadi pacar mengingat dia sudah membuktikan mampu mengurus 12 remaja dan tetap tenang dalam tekanan.

Berita terkait