Pertanyakan perlindungan pembantu rumah tangga, bintang Instagram terima banjir kecaman

Sondos Alqattan Hak atas foto Instagram/Sondos_Aq
Image caption Sondos Alqattan mengatakan tak setuju pembantu rumah tangga mendapatkan hari libur.

Seorang bintang media sosial di Kuwait menghadapi kecaman setelah ia mempertanyakan undang-undang baru yang ditujukan memberikan perlindungan yang lebih baik kepada pembantu rumah tangga (PRT).

Sondos Alqattan, yang punya 2,3 juta pengikut di Instagram, mempertanyakan perlindungan kepada tenaga kerja asing yang menjadi PRT melalui video yang diunggah ke YouTube.

"Bagaimana Anda bisa punya pembantu yang boleh menyimpan paspornya sendiri? Yang lebih parah lagi, mereka berhak mendapatkan satu hari libur dalam seminggu," kata Alqattan.

Undang-undang tentang perlindungan bagi pekerja migran, terutama yang berprofesi sebagai PRT, disahkan parlemen pada 2015 dan mulai diterapkan Mei lalu.

Jumlah PRT di Kuwait diperkirakan mencapai lebih dari 660.000 orang menurut organisasi HAM Human Rights Watch (HRW), banyak di antaranya berasal dari Filipina.

Alqattan mengatakan tidak setuju dengan undang-undang yang baru, dengan mengatakan, "Jika mereka lari dan kembali ke negara asal, siapa yang membayar kerugian? Jujur saja, saya tak setuju dengan UU ini. Saya tak ingin lagi punya PRT dari Filipina."

Video ini viral di Timur Tengah dan Filipina sejak diunggal pada 10 Juli.

Kecaman pun mengalir, antara lain dari pengguna YouTube, Lauren T, yang menulis, "Anda ini sampah. Saya ingin Anda bekerja penuh selama tujuh hari sepekan, dan saya ingin menahan paspor Anda."

Dennis Dutton menulis, "Oh, jadi dia (PRT) adalah budak Anda ... Satu hari dalam satu minggu, sehingga budak Anda bisa beristirahat dan merasa seperti manusia (pada umumnya). Permintaan yang tak muluk-muluk, kan."

"Anda mestinya malu. Ini jelas bukan cara Tuhan meminta kita bagaimana memperlakukan sesama manusia."

Ganggu hubungan diplomatik

Komentar keras juga dikeluarkan oleh Migrante Internasional, organisasi yang memperjuangan hak-hak pekerja Filipina, yang menggambarkan pernyataan Alqattan sebagai 'berasal dari abad kegelapan'.

Menghadapi berbagai kecaman, Alqattan mengunggah pernyataan di Instagram pada 23 Juli.

Ia antara lain mengatakan bahwa ia tidak pernah memperlakukan secara buruk pembantu rumah tangga baik di masa lalu maupun sekarang.

"Saya juga selalu memastikan semua pekerja mendapatkan semua hak-haknya," katanya.

Pemerintah Filipina menerapkan moratorium pengiriman tenaga kerja ke Kuwait sejak akhir April lalu setelah jenazah Joanna Demafelis -tenaga kerja wanita berusia 29 tahun dari Filipina- ditemukan di lemari pendingin di satu apartemen kosong dalam keadaan dimutilasi.

Hubungan diplomatik kedua negara tegang ketika Kementerian Luar Negeri Filipina merilis video penyelamatan beberapa warga Filipina yang dikatakan menjadi korban perlakuan buruk dari majikan mereka di Kuwait.

Kuwait mengusir duta besar Filipina dan menarik duta besar mereka dari Manila.

Ketegangan mereda pada Mei setelah kedua negara menyepakati perlindungan yang lebih besar bagi pekerja migran.

Menurut HRW, sekitar 660.000 dari empat juta penduduk Kuwait adalah pekerja migran yang menekuni profesi sebagai pembantu rumah tangga.

Berita terkait