Remaja Palestina penampar tentara Israel bebas dari penjara, bertekad lanjutkan perlawanan

Ahed Tamimi Hak atas foto EPA
Image caption Ahed Tamimi mengatakan ingin mengambil jurusan hukum di perguruan tinggi dan menjadi pengacara.

Remaja perempuan Palestina, Ahed Tamimi, yang bebas setelah mendekam delapan bulan di penjara bertekad meneruskan perlawanan terhadap pendudukan Israel.

"Dari rumah jihad ini saya mengatakan bahwa perlawanan akan terus dilanjutkan, hingga pendudukan berakhir," kata Tamimi, saat berbicara kepada para wartawan di Desa Nabi Saleh, Tepi Barat, hari Minggu (29/07), setelah keluar dari penjara.

"Semua tahanan perempuan di penjara adalah perempuan yang hebat," katanya.

Tamimi mengatakan ia ingin menjadi pengacara yang mengadvokasi kepentingan Palestina.

"Saya akan kuliah di jurusan hukum sehingga saya bisa memperjuangkan kepentingan Palestina di foum-forum internasional dan menyuarakan para tahanan (Palestina yang berada di penjara Israel)," kata Tamimi.

"Penjara mengajarkan banyak hal. Saya sudah menyimpan pesan-pesan (untuk kepentingan Palestina) apa saja yang ingin saya sampaikan."

Tamimi dihukum ketika ia berusia 16 tahun atas dakwaan menampar dan menendang tentara Israel di Tepi Barat.

Hak atas foto AFP
Image caption Ahed Tamimi bebas setelah divonis delapan bulan penjara oleh pengadilan Israel.

Video yang memperlihatkan insiden Tamimi menampar tentara itu viral di media sosial tahun 2017. Peristiwa itu terjadi di dekat tempat tinggalnya, di Desa Nabi Saleh.

Maret lalu, Tamimi menghadapi 12 dakwaan. Dari jumlah tersebut, ia terbukti bersalah atas empat tuduhan, salah satunya tindak pidana penyerangan.

Badan lembaga pemasyarakatan Israel menyebut Tamimi saat ini dalam perjalanan menuju Tepi Barat.

Bagi masyarakat Palestina, ia merupakan simbol perlawanan mereka terhadap pendudukan Israel. Sebaliknya, Israel memandangnya sebagai pencari masalah yang mendambakan publisitas.

Videonya yang viral direkam oleh ibunya, Nariman Tamimi. Dalam rekaman itu ia berteriak dan mendorong dua tentara yang tengah memasuki pekarangan rumahnya.

Video tersebut lalu diunggah ke akun Facebook milik Nariman. Pada rekaman itu Tamimi terlihat menendang dan menampar seorang tentara. Ia juga mengancam akan melakukan hal itu pada tentara lainnya.

Hak atas foto EPA
Image caption Ahed Tamimi ketika hadir di pengadilan militer Israel pada akhir Desember 2017 untuk menghadapi 12 dakwaan.

Dalam persidangan, Ahed Tamimi menyebut melakukan serangan itu karena melihat dua tentara Israel tersebut menembakkan peluru karet ke kepala sepupunya, Mohammed. Ia mengklaim dua peristiwa itu berlangsung pada hari yang sama.

Otoritas militer Israel mengaku mengutus dua tentara ke rumahnya. Tujuannya, kata mereka, untuk meredam unjuk rasa para remaja Palestina yang diwarnai pelemparan batu.

Namun militer Israel membantah telah menembak Mohammed, yang mereka sebut mengaku memiliki luka di kepala setelah jatuh dari sepeda.

Hak atas foto YOUTUBE
Image caption Ahed Tamimi mengancam akan memukul tentara Israel pada usia 11 tahun.

Kasus Ahed Tamimi memunculkan pandangan saling bertolak belakang di antara komunitas Palestina dan Israel.

Menteri Pendidikan Isreal, Naftali Bennett, misalnya, menyebut Ahed layak menghabiskan sisa hidup di penjara.

Mayoritas warga Israel menganggapnya telah dieksploitasi oleh keluarganya untuk memprovokasi tentara dalam rekaman video.

Hak atas foto AFP
Image caption Warga Palestina di seluruh dunia menggelar aksi untuk mendukung Ahed Tamimi.

Ibunya, Nariman, didakwa atas hasutan di media sosial dan tindak pidana penyerangan. Nour, sepupu perempuan Tamimi, juga dituding melakukan serangan.

Di sisi lain, ia telah menjadi ikon nasional Palestina. Ia dianggap memperlihatkan keberanian berhadapan dengan tentara bersenjata di kawasan berpolemik.

Wajah Ahed digambar sebagai mural dan poster di jalanan Palestina.

Sementara petisi daring pembebasan Ahed Tamimi dari penjara yang dibuat ayahnya telah meraup 1,7 juta tanda tangan.

Berita terkait