Ratusan media AS lancarkan kampanye kebebasan pers tanggapi serangan Trump

Donald Trump Hak atas foto AFP/Getty
Image caption President Trump dinilai meningkatkan risiko aksi kekerasan terhadap para wartawan.

Lebih dari 300 media di Amerika Serikat akan melancarkan kampanye kebebasan pers untuk menanggapi rangkaian serangan Presiden Donald Trump.

Kampanye itu bermula dari seruan harian the Boston Globe pekan lalu untuk mengecam 'perang kotor' presiden terhadap media dengan menggunakan tanda pagar #EnemyOfNone atau #BukanMusuhSiapapun.

Harian itu berikrar akan menulis editorial bertema "bahaya serangan pemerintah kepada pers" pada 16 Agustus dan menyeru kepada media-media lain untuk menempuh langkah serupa.

Sejak menjabat presiden, Trump berulang kali menyebut laporan media sebagai "berita palsu" dan menyebut wartawan sebagai "musuh rakyat".

Beberapa pakar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai pernyataan Trump telah meningkatkan risiko aksi kekerasan terhadap para wartawan.

Dalam sebuah pawai di Florida pada Juli lalu, CNN merekam para pendukung Trump meneriakkan makian dan kata-kata hinaan kepada para wartawan yang meliput acara itu.

Hak atas foto AFP/Getty

Mendapat respons

Seruan the Boston Globe rupanya mendapat respons dari berbagai surat kabar nasional AS dan media asing, seperti harian Inggris, the Guardian.

Editorial surat kabar yang berbasis di London itu menyebut Trump sebagai presiden pertama "yang tampaknya punya kebijakan konsisten dan penuh perhitungan untuk mengabaikan, mendelegitimasi, bahkan membahayakan kerja pers".

Kemudian harian the New York Times merilis editorial berjudul "Pers yang bebas memerlukan Anda". Isinya, antara lain menyebut serangan-serangan Trump "berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi".

Adapun the Boston Globe menulis editorial bertajuk "Wartawan bukanlah musuh". Harian itu mengingatkan bahwa kebebasan pers merupakan inti dari prinsip Amerika Serikat selama lebih dari 200 tahun.

Kebebasan itu "kini berada dalam ancaman serius," tulis surat kabar tersebut. Akibat perlakuan Trump terhadap pers, lanjutnya, "mengirim sinyal kepada para diktator" di seantero dunia.

Dari Gedung Putih, sekretaris pers Sarah Sanders menolak mengatakan media bukanlah musuh rakyat.

Berita terkait