Venezuela bakal menghadapi 'krisis pengungsi seperti di kawasan Laut Tengah'

Venezuela Hak atas foto MAURO PIMENTEL/AFP/Getty Images
Image caption Seorang pria warga Venezuela tengah menyuapi anaknya di salah satu ruas jalan di kota Boa Vista, negara bagian Roraima, Brasil, 23 Agustus 2018.

PBB telah memperingatkan Venezuela bahwa negara itu akan menghadapi "krisis pengungsi seperti yang terjadi di kawasan Laut Tengah" pada 2015.

Peringatan itu muncul saat negara-negara tetangga Venezuela mencoba membendung kedatangan warga Venezuela yang berusaha kabur dari negaranya akibat krisis ekonomi.

Peru telah memperketat akses di perbatasan pada Sabtu, sehari setelah pengadilan membatalkan upaya Ekuador untuk memperketat membanjirnya warga Venezuela ke negaranya.

Lebih dari dua juta orang warga Venezuela telah meninggalkan negara mereka sejak 2014.

Mereka memilih meninggalkan negaranya akibat krisis ekonomi yang ditandai persoalan masalah kekurangan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok.

Sebagian mereka memilih kabur lantaran tidak mendapatkan akses perawatan medis yang memadai.

Dan saat ini, ketika situasi krisis di dalam negeri belum teratasi, membuat semakin banyak warga Venezuela yang berbondong-bondong menuju perbatasan.

Lebih dari 2.500 orang telah melintasi kota kecil di perbatasan Peru pada Jumat, seperti dilaporkan Kantor berita AFP melaporkan, dan ribuan orang lainnya berusaha mencapai perbatasan Peru.

Mereka mencoba tiba di negara tujuan, sebelum pemberlakukan aturan baru pada Sabtu, yang mengharuskan mereka memiliki paspor untuk melintasi perbatasan.

Sejauh ini, warga Venezuela yang hendak ke Peru hanya cukup menunjukkan kartu identitas alias KTP mereka.

Hak atas foto LUIS ROBAYO/AFP/Getty Images
Image caption Sejumlah warga Venezuela menumpang mobil di sebuah ruas jalan antara kota Pasto dan IIpiales, Kolombia, 23 Agustus 2018.

Ekuador semula akan memberlakukan aturan serupa pada pekan lalu. Namun, pada Jumat, pengadilan setempat memutuskan bahwa keharusan membawa paspor dianggap melanggar kesepakatan regional tentang kebebasan bergerak.

Negara bagian Roraima, Brasil, yang letaknya di wilayah Amazon, juga membatalkan rencana penutupan perbatasan setelah pengadilan di negara itu menolaknya.

Joel Millman, juru bicara Organisasi Internasional untuk Migrasi, IOM, mengatakan adanya kebijakan pembatasan baru - serta adanya kasus kekerasan di perbatasan Brasil - merupakan peringatan dini bahwa persoalan di kawasan itu membutuhkan bantuan.

"Kita bakal menghadapi krisis seperti yang kita saksikan di belahan dunia lainnya, khususnya di kawasan Laut Tengah," katanya kepada wartawan.

"Situasi sulit seperti ini dapat berkembang sangat cepat menjadi krisis, sehingga kami harus siap," tambahnya.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres akan membentuk tim khusus PBB yang akan mengoordinasikan upaya penanganan krisis di Venezuela, sementara Ekuador akan menjadi tuan rumah pertemuan regional 13 negara pada bulan September nanti.

Berita terkait