Larang anak masuk sekolah yang campurkan murid lelaki dan perempuan, suaka pengungsi Suriah ditolak

Pendatang dari Suriah tiba di Pulau Lesbos, Yunani setelah menyeberang dari Turki. Hak atas foto AFP
Image caption Pengungsi dari Suriah tiba di Yunani setelah menyeberang dari Turki.

Belanda menolak permintaan suaka pengungsi Suriah yang dianggap berpandangan ekstrem, termasuk mereka yang tak izinkan anak-anak mereka masuk sekolah yang tak memisahkan murid lelaki dan perempuan.

Komandan polisi Belanda yang memantau masalah imigrasi mengatakan satu dari lima pengungsi Suriah yang diajukan PBB untuk mendapatkan suaka di Belanda ditolak karena pandangan yang sangat konservatif atau ekstrem.

Paul van Musscher mengatakan kepada koran Belanda, Volkskrant, para pencari suaka diperiksa di sejumlah kamp di Turki berdasarkan kesepakatan dengan Ankara pada tahun 2016 untuk mengontrol migrasi gelap ke Eropa.

Jika para pencari suaka tidak akan mengizinkan anak-anak mereka sekolah di kelas campuran laki dan perempuan atau berenang bersama, maka permintaan suaka mereka ditolak, kata Van Musscher.

"Jika Anda mengatakan anak-anak saya tidak akan masuk sekolah campuran ... maka dokumen Anda akan ditandai dan Anda tidak bisa masuk," kata van Musscher seperti dikutip media DutchNews.nl.

Kementerian kehakiman Belanda menyatakan sejumlah pengungsi telah mencabut pengajuan suaka mereka begitu mengetahui bagaimana pengaturan sekolah di Belanda.

Hak atas foto Reuters
Image caption Tahun 2017, 2.100 warga Suriah tiba di Belanda lewat perencanaan khusus dengan Turki.

Rencana beberapa tahun lalu

Berdasarkan kesepakatan dengan Turki, negara-negara Uni Eropa akan menerima satu orang pengungsi di kamp Turki yang dipulangkan Uni Eropa. Tetapi Uni Eropa masih jauh dalam memenuhi angka maksimum yang telah disepakati sebesar 72.000 orang per tahun.

Tahun 2017, sekitar 2.100 warga Suriah tiba di Belanda berdasarkan kesepakatan dengan Turki, tetapi pada akhir bulan Juli 2018 hanya 288 orang yang tiba.

Secara keseluruhan, terdapat 15.000 pengungsi yang pindah ke Uni Eropa lewat kesepakatan dengan Turki.

Pada tahun 2016, Belanda menyusun rencana di mana para imigran yang tiba di pulau-pulau Yunani akan segera dipulangkan dengan feri ke Turki.

Usulan yang diajukan pemimpin Partai Buruh Belanda, Diederik Samsom, menyebutkan sebagai imbalan maka Uni Eropa setiap tahunnya akan menerima 250.000 pengungsi yang saat ini berada di Turki.

Hak atas foto GETTY/DEAN MOUHTAROPOULOS
Image caption Pemimpin Partai untuk Kebebasan, Geert Wilders, yang secara terbuka menyatakan anti-Islam.

Topik politik

Pada pemilihan umum Belanda tahun 2017, salah satu isu yang menonjol dalam kampanye pemilu adalah soal imigran, yang diusung oleh Partai untuk Kebebasan atau PVV.

Pemimpin PVV, Geert Wilders, yang secara terbuka menyatakan anti-Islam, sudah dinyatakan bersalah oleh pengadilan karena menghina satu kelompok dan memicu diskriminasi walau tidak mendapat hukuman.

Tetapi jargon-jargon antipendatang yang didengungkan tampaknya tetap didukung sejumlah pemilih.

Sam Pormes, anggota Majelis Tinggi Parlemen Belanda mengatakan sentimen antipendatang memang sudah ada sejak dulu di Belanda.

"Kalau kita melihat mereka memegang koloni sampai tahun 1945 habis itu perang kolonial sampai tahun 1949, dari dulu penjajah. Kemudian waktu Nazi Jerman memegang Belanda, ternyata perlawanan terhadap rasisme Hitler tidak pernah besar," katanya.

Berita terkait