Kerusuhan di penjara gara-gara milisi bertempur, ratusan napi berhasil kabur

Warga sipil terjebak dalam bentrokan antara para anggota milisi yang berseteru di Libya. Hak atas foto Getty Images
Image caption Warga sipil terjebak dalam bentrokan antara para anggota milisi yang berseteru di Libya.

Sekitar 400 tahanan meloloskan diri dari sebuah fasilitas penjara di dekat ibukota Libya, Tripoli, ketika kelompok-kelompok milisi di kota itu terlibat bentrokan sengit, yang menewaskan sejumlah orang.

"Para tahanan berhasil menjebol pintu-pintu dan gerbang untuk keluar penjara Ain Zara," kata polisi setempat.

Kerusuhan pecah di dalam penjara, dan para sipir yang merasa nyawa mereka terancam, tidak dapat mencegah kaburnya para tahanan, sebut polisi lagi.

Bentrokan antara berbagai milisi di kota itu, memaksa pemerintah Libya yang didukung PBB, memberlakukan keadaan darurat.

Pada hari Minggu (2/9) itu, kekerasan bersenjata antara berbagai faksi berlangsung di sekitar penjara yang khusus menampung tahanan laki-laki itu.

Banyak dari tahanan di penjara Ain Zara di tenggara Tripoli itu dilaporkan merupakan pendukung mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dan mereka telah dinyatakan bersalah atas berbagai pembunuhan selama terjadinya perlawanan terhadap pemerintahan Gadaffi, pada tahun 2011.

Dalam peristiwa lain, di hari yang sama, dilaporkan dua orang tewas dan beberapa lainnya terluka, ketika roket menghantam sebuah kamp penampungan ratusan pengungsi di Tripoli.

Hak atas foto Reuters
Image caption Setidaknya 39 orang tewas dalam rangkaian kekerasan di Tripoli beberapa hari terakhir ini.

Kementerian Kesehatan Libya melaporkan, dalam bentrokan antar milisi di Tripoli selama seminggu terakhir, sekitar 47 orang tewas, termasuk warga sipil. Sementara, puluhan lainnya terluka.

Pemerintah yang didukung PBB menguasai ibukota, tetapi milisi menduduki sebagian besar wilayah lain negara itu.

Mengapa terjadi kekerasan?

Kekerasan meletus pekan lalu ketika milisi dari sebuah kota di sebelah selatan Tripoli menyerang wilayah selatan, yang berakibat pada meletusnya pertempuran dengan milisi-milisi lokal yang mendukung pemerintah yang diakui secara internasional, Government of National Accord (GNA).

GNA menyebut bentrokan itu adalah "upaya untuk menggagalkan transisi politik yang damai" di negara itu, dan menambahkan bahwa mereka "tidak bisa tinggal diam atas serangan di Tripoli dan sekitarnya, yang merupakan gangguan keamanan di ibukota dan mengancam keselamatan warga negara."

Apa kata komunitas internasional?

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan "penggunaan kekuatan yang sembarangan merupakan pelanggaran hukum kemanusiaan internasional dan hak asasi manusia" dan mendesak "semua pihak untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan".

Sementara AS, Inggris, Prancis dan Italia, Sabtu lalu, menyerukan semua pihak segera mengakhiri kekerasan yang menelan banyak korban jiwa di ibukota Libya.

Pernyataan bersama mereka mengatakan, upaya "untuk melemahkan otoritas Libya yang sah dan menghambat proses politik yang sedang berlangsung merupakan hal yang tidak dapat diterima".

"Kami menyerukan kelompok-kelompok bersenjata untuk segera menghentikan semua aksi militer dan memperingatkan mereka yang berupaya merusak stabilitas, baik di Tripoli atau wilayah Libya lainnya, bahwa mereka harus mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka," kata pernyataan bersama itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pasukan Libya berpatroli sekitar Tripoli kota yang dikuasai tentara pemerintah sementara sebagian besar wilayah dikuasai milisi bersenjata.

Di sisi lain, berbagai upaya gencatan senjata sejauh ini gagal menghentikan pertempuran sengit antara berbagai milisi.

Human Rights Watch juga mengutuk kekerasan, menambahkan bahwa setidaknya 18 warga sipil tewas, di antaranya empat anak-anak.

Ratusan pendatang asing yang terperangkap dalam pertempuran telah dipindahkan ke berbagai fasilitas lainnya, sementara bandara kota itu ditutup selama dua hari sejak Jumat.

Libya menderita kekacauan yang tak kunjung henti sejak pasukan milisi yang didukung NATO -beberapa di antaranya saling berseteru satu sama lain- berhasil menggulingkan pemerintahan Kolonel Gaddafi pada Oktober 2011.

Berita terkait