AS klaim punya 'banyak bukti' Suriah bersiap gunakan senjata kimia

suriah Hak atas foto Reuters
Image caption Masker gas swadaya sedang dicoba di Idlib sebagai langkah antisipasi jika serangan senjata kimia terjadi.

Utusan baru Amerika Serikat untuk Suriah mengklaim punya "banyak bukti" bahwa pasukan pemerintah Suriah sedang bersiap menggunakan senjata kimia di Idlib.

Dalam wawancara pertamanya setelah ditunjuk menjadi utusan untuk Suriah, Jim Jeffrey menegaskan dirinya tidak asal bicara.

"Saya sangat yakin bahwa kami punya landasan yang sangat, sangat baik untuk bisa membuat peringatan ini," kata Jeffrey sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters.

"Bagi kami, setiap serangan dapat dilihat secara obyektif sebagai eskalasi yang sembrono. Ada banyak bukti senjata kimia sedang disiapkan," tambahnya.

Jeffrey tidak merinci bukti apa yang dia maksud.

Pemerintah Suriah berulang kali membantah pernah memakai senjata kimia.

Meski demikian, para pakar dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), mengaku yakin bahwa pasukan pemerintah Suriah berada di balik serangan yang melibatkan zat Sarin di kawasan kekuasaan pemberontak di bagian selatan Idlib pada April 2017 yang menewaskan lebih dari 80 orang.

Hak atas foto AFP
Image caption Serangan gas klorin ditengarai terjadi di wilayah Ghouta Timur dekat Damaskus, Suriah, pada Februari lalu.

Inisiatif diplomatik

Pernyataan Jeffrey mengemuka menjelang pertemuan antara para pemimpin Rusia, Iran, dan Turki, pada Jumat (7/9). Baik Rusia maupun Iran menyokong Presiden Suriah Bashar al-Assad, sedangkan Turki mendukung sejumlah faksi pemberontak.

Jeffrey mengatakan perlu "inisiatif diplomatik besar" guna mengakhiri perang sipil di Suriah yang berlangsung selama tujuh tahun terakhir.

Menurutnya, ada "komitmen baru" dari Presiden AS Donald Trump untuk tetap terlibat di Suriah sampai kelompok ISIS dikalahkan sekaligus memastikan para milisi dari Iran meninggalkan Suriah.

Jeffrey menilai Presiden Assad "tidak punya masa depan sebagai pemimpin" Suriah. Walau demikian, dia menyatakan bukan tugas Washington untuk melengserkannya.

Dia menambahkan, AS akan bekerja sama dengan Rusia untuk terciptanya transisi politik.

"Saat ini (pemerintah Suriah) adalah jasad yang duduk di puing-puing, mengingat hanya setengah dari wilayah Suriah yang berada di bawah kekuasaan rezim saat hari sedang bagus," ujar Jeffrey.

Pada Senin (3/9), Kementerian Luar Negeri AS memperingatkan bahwa Washington DC akan merespons serangan kimia apapun yang dilakukan pemerintah Suriah atau sekutu-sekutunya.

Hak atas foto AFP
Image caption Populasi asli Idlib sudah bercampur dengan para pengungsi dari sejumlah kawasan di Suriah.

Lantaran pasukan pemberontak sudah dikalahkan di sebagian besar wilayah Suriah, serangan ke Provinsi Idlib boleh jadi merupakan pertempuran besar terakhir dalam perang sipil selama tujuh tahun.

Diperkirakan ada sekitar 30.000 milisi pemberontak dan jihadis di Idlib.

Berdasarkan data PBB, wilayah itu dihuni 2,9 juta orang, termasuk sejuta anak-anak.

Lebh dari setengah dari seluruh warga sipil Suriah pernah mengungsi setidaknya satu kali. Adapun jumlah orang yang memerlukan pertolongan, menurut sejumlah pejabat PBB, bisa meningkat secara dramatis.

Topik terkait

Berita terkait