Korea Utara sepakat tutup lokasi uji coba nuklir, sebut presiden Korsel

Korea Hak atas foto Reuters
Image caption Moon Jae-in dan Kim Jong-un meneken perjanjian yang mereka sebut langkah maju menuju denuklirisasi Korea.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, sepakat menutup salah satu lokasi utama pengujian dan peluncuran misil nuklir negaranya.

Informasi itu dikatakan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, setelah bertemu Kim untuk membahas program denuklirisasi Semenanjung Korea, Rabu (19/09).

Kim mendeskripsikan perjanjian itu sebagai 'lompatan maju' untuk menciptakan perdamaian di kawasan tersebut.

Kim juga menyebut keinginannya mengunjungi Seoul dalam waktu dekat. Jika itu terwujud, ia akan menjadi pemimpin Korut pertama yang menginjakkan kaki di Korsel.

Hasil pertemuan: denuklirisasi

Fokus utama dalam pertemuan Kim dan Moon adalah persoalan denuklirisasi. Walaupun Korut memiliki kerangka kerja bersama Amerika Serikat untuk mencapai denuklirisasi, proses itu terhenti.

Kini Korut berusaha untuk menyatakan kembali komitmen mereka terhadap tujuan itu.

Moon mengatakan, Kim setuju untuk secara permanen menutup Tongchang-ri, fasilitas uji mesin dan peluncuran misil.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Moon Jae-in mengundang Kim Jong-un berkunjung ke Seoul dalam waktu dekat.

Kim juga disebutnya mengakui pentingnya pelibatan ahli dari sejumlah negara yang dapat memastikan pusat uji coba misil nuklir tersebut benar-benar ditutup.

Moon berkata, Kim juga sepakat menutup fasilitas nuklir Yongbyon jika AS benar-benar menentang lokasi itu. Selama ini Yongbyon diyakini memproduksi material untuk uji coba nuklir.

Rencana penghentian aktivitas di Yongbyon tak dipaparkan secara rinci.

Korut menghancurkan pusat uji coba nuklir utama mereka di Punggye-ri sebelum Kim bertemu Presiden AS, Donald Trump, Juni lalu.

"Hasilnya adalah kemenangan besar bagi Moon Jae-in, yang telah menggali serangkaian berita besar positif dari Kim Jong-un terkait denuklirisasi," kata Ankit Panda, editor The Diplomat, kepada BBC.

"Tidak ada perjanjian yang benar-benar merugikan Kim dan tak mendorong Korut mencapai target perlucutan senjata dalam jangka pendek."

"Sebaliknya, konsesi itu menjadi dasar rasa saling percaya yang membuat negoisasi AS-Korut dapat melangkah lebih maju," ujar Panda.

Hasil pertemuan: Hubungan Korsel-Korut

Korsel dan Korut itu juga membuat kemajuan dalam hubungan antara dua Korea, dengan mengumumkan rencana menghubungkan jalur kereta api, yang dapat memungkinkan kerja sama kesehatan dan reuni keluarga yang terpisah karena perang.

Moon mengundang Kim mengunjungi Seoul dan berharap hal itu dapat terwujud sebelum pergantian tahun 2018.

Korsel dan Korut pun kini berupaya menjadi tuan rumah Olimpiade musim panas tahun 2032.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Korsel dan Korut berupaya menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Pada Asian Games 2018 di Indonesia, kedua negara itu tampil bersama dalam sejumlah cabang olahraga.

Menteri Pertahanan Korsel dan pimpinan Angkatan Darat Korut juga meneken perjanjian mengurangi tensi militer. Mereka menyekapati pembuatan zona penyangga di sepanjang perbatasan kedua negara untuk mencegah pertikaian tiba-tiba.

Perjanjian itu ditandatangani di tengah-tengah kunjungan tiga hari Moon ke Pyongyang.

Meski ini adalah kunjungan pertama ke ibu kota Korut dalam satu dekade terakhir oleh pimpinan Korsel, ini merupakan pertemuan ketiga Moon dan Kim usai perjumpaan bersejarah mereka April lalu.

Apa arti kesepakatan ini bagi AS?

Upaya denuklirisasi antara Korut dan AS belakangan ini menghadapi jalan buntu. Pertemuan Moon dan Kim ini diyakini akan menyokong Korsel untuk berperan sebagai mediator bagi Korut dan AS.

Trump pun menanggapi pertemuan melalui akun Twitter miliknya.

Hak atas foto Twitter

AS dan Korut menggelar pertemuan bersejarah, Juni lalu di Singapura. Kala itu Kim setuju pada kerangka acuan untuk menuntaskan denuklirisasi.

Sejak saat itu hanya muncul perkembangan kecil tanpa ada proses dan tenggat waktu yang jelas.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pertemuan Kim dan Trump di Singapura sejauh ini tak menunjukkan proses denuklirisasi yang berarti.

Banyak pengamat mengingatkan, sejauh ini Korut belum mengambil langkah nyata untuk menghentikan program senjata nuklir mereka yang kontroversial.

Pertemuan Kim dan Moon pun barangkali tak cukup kuat untuk mengubah pandangan tersebut.

"Misalnya, komitmen menutup komplek Yongbyon didasarkan pada keuntungan timbal balik AS, yang memunculkan beragam kerumitan," kata Panda dari The Diplomat.

"AS harus membantu menggerakan jarum tapi tak jelas, apakah pemerintah AS dapat melakukan itu."

Trump baru-baru ini menyebut bahwa ia dan Kim akan membuktikan penilaian seperti itu keliru. Ia mengatakan itu setelah menerima undangan dari Kim untuk menggelar pertemuan bilateral kedua.

AS dan Korut menyatakan mereka terus mengupayakan pertemuan lanjutan itu terlaksana.

Berita terkait