KTT IMF Bali: Kebijakan tarif AS, 'dunia kian berbahaya,' bagaimana posisi Indonesia?

US and China export containers Hak atas foto Getty Images

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang dagang antara AS dan Cina bisa membuat dunia jadi 'tempat yang lebih miskin dan lebih berbahaya.'

Hal itu disebutkan dalam kajian IMF paling baru terhadap ekonomi global, yang menetapkan prakiraan yang lebih rendah untuk pertumbuhan global tahun ini dan tahun depan.

IMF dan Bank Dunia mulai melangsungkan KTT di Bali, Jumat sampai Minggu (12-14/10) mendatang.

Menjelang KTT itu, para pejabat IMF sudah berdatangan di Indonesia dan melakukan serangkaian kegiatan tambahan. Direktur IMF Christine Lagarde, sempat mengunjungi kawasan terdampak gempa di Lombok, adapun kunjungan ke Palu masih belum dijadwalkan, kendati sekretaris IMF sudah berkunjung ke Palu sebelumnya.

"Semua orang di IMF sangat berduka cita yang mendalam terhadap jiwa-jiwa yang hilang dan kehancuran yang diakibatkan oleh bencana alam di Sulawesi dan sebelumnya, Lombok. Simpati kami bagi para penyintas, bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga dan bagi semua rakyat Indonesia," katanya.

Ia menyebut, KTT IMF nanti juga akan digunakan untuk melakukan penggalangan dana solidaritas.

Lagarde menyadari, di tengah bencana-bencana besar itu, KTT IMF yang sudah disiapkan sejak tiga tahun lalu, jadi mendapat sorotan khusus.

Namun katanya, mereka tidak mempertimbangkan pembatalannya, karena "akan menyia-nyiakan segala sumber daya yang sudah dikerahkan sejak tiga tahun, dan akan meluputkan kesempatan menunjukan potensi Indonesia kepada dunia, dan penciptaan berbagai kesempatan dan lapangan kerja di Indonesia."

Ia mengatakan juga bahwa IMF tak mempertimbangkan pemberian pinjaman kepada Indonesia,, "karena ekonomi Indonesia tidak membutuhkan pinjaman: ekonomi Indonesia telah dikelola dengan sangat baik oleh Presiden Jokowi, Menteri (Keuangan) Sri Mulyani ... dan para sejawatnya."

Hak atas foto Reuters

Dalam kesempatan terpisah, kepala tim ekonomi IMF, Maurice Obstfeld mengatakan bahwa perang dagang besar-besaran antara AS dan Cina akan membuat pemulihan ekonomi dunia mengalami hambatan besar.

Menurutnya, hambatan perdagangan lebih lanjut akan memukul rumah tangga, bisnis dan ekonomi yang lebih luas.

"Kebijakan perdagangan mencerminkan politik dan politik di banyak negara masih tidak stabil, karenanya menimbulkan risiko lebih jauh lagi," kata Maurice Obstfeld.

Belum lama ini, Cina mengumumkan tarif perdagangan baru sebesar $60 miliar (sekitar Rp900 triliun) untuk berbagai barang AS, termasuk produk-produk seperti gas alam cair, yang diproduksi di negara-negara bagian yang menjadi basis pendukung Presiden AS Donald Trump.

Dalam sebuah cuitan, Trump memperingatkan Beijing untuk tidak berusaha mempengaruhi pemilihan sela AS November datang.

"Akan ada pembalasan ekonomi yang cepat dan besar terhadap Cina jika petani kita, peternak dan/atau pekerja industri menjadi sasaran!" katanya.

Tarif AS yang baru atas impor dari Cina senilai $200 miliar (Rp3.000 triliun) mulai berlaku bulan lalu.

Apa risiko terhadap pertumbuhan global?

Dalam perkiraan terbaru, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mencapai 3,7% pada 2018 dan 2019, lebih rendah dari prediksi IMF Juli lalu, sebesar 3,9%.

Dikatakan bahwa risiko terhadap prospek jangka pendek telah 'bergeser' ke sisi buruknya.

Turunnya pertumbuhan global juga mencerminkan prediksi tentang melambatnya ekspansi di zona euro serta turbulensi ekonomi di sejumlah negara berkembang.

Venezuela yang dilanda krisis diperkirakan akan mengalami resesi lagi pada 2019, tahun keenam resesi berat mereka, dengan inflasi diprediksi mencapai sepuluh juta persen tahun depan.

Argentina, yang baru-baru ini menyetujui dana talangan IMF, juga diprediksi akan mengalami penyusutan ekonomi pada 2018 dan 2019.

Seberapa buruk perang dagang itu?

Eskalasi tarif perdagangan AS dan Cina diperkirakan akan memukul pertumbuhan di kedua negara pada 2019, ketika dampak dari kebijakan pemangkasan pajak Presiden Trump mulai berkurang.

Maurice Obstfeld mengatakan dunia akan menjadi "tempat yang lebih miskin dan lebih berbahaya" kecuali para pemimpin dunia bekerja sama untuk meningkatkan standar hidup, meningkatkan pendidikan dan mengurangi ketidaksetaraan.

IMF memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia menghadapi pukulan yang permanen jika AS menindaklanjuti ancaman untuk memaksakan penerapan cukai 25% pada semua mobil impor, dan tarif global akan memukul kepercayaan bisnis, investasi dan biaya pinjaman.

Dalam skenario terburuk ini, ekonomi AS akan menderita pukulan berat, sementara pertumbuhan ekonomi di Cina akan turun di bawah 5% pada 2019, dibandingkan dengan prediksi saat ini sebesar 6,2%.

Topik terkait

Berita terkait