Pembunuhan dalam 'perang Duterte melawan narkoba': Polisi dihukum 40 tahun penjara

A photo of Kian Delos Santos, 17, on top of the hearse during his funeral in Caloocan city, Philippines, 26 August Hak atas foto Getty Images
Image caption Pembunuhan Kian Delos Santos yang berusia 17 tahun merupakan kasus paling menghebohkan dalam kampanye anti narkoba Presiden Duterte.

Tiga perwira polisi Filipina dinyatakan bersalah atas pembunuhan menghebohkan terhadap seorang remaja, merupakan kasus pertama sejak 'perang melawan narkoba' dilancarkan Presiden Rodrigo Duterte.

Pengadilan menghukum mereka hingga 40 tahun penjara atas pembunuhan yang dilakukan pada 2017 terhadap Kian Delos Santos yang berusia 17 tahun.

Presiden Duterte meluncurkan operasi anti-narkotika pada tahun 2016, untuk menangani merajalelanya masalah narkoba di negeri itu.

Namun perang melawan narkoba itu diduga dilakukan dengan mengesampingkan asas hukum dan HAM, yang menurut catatan polisi, telah menewaskan 5.000 pengedar dan pengguna.

Presiden Duterte pun jadi sasaran kritik masyarakat internasional dan berbagai kelompok hak asasi manusia atas apa yang dianggap sebagai tindakan pembunuhan di luar hukum.

Duterte juga dikecam karena menjanjikan untuk mengampuni para petugas polisi yang dihukum untuk kasus pembunuhan dalam 'perang anti narkoba'.

Hak atas foto Getty Images
Image caption "Pembunuhan tak pernah bisa menjadi jalan penegakan hukum," kata hakim. Dan ketiga polisi terpidana polisi itu juga tidak berhak memperoleh pembebasan bersyarat.

"Tembak dulu, pikir belakangan, merupakan perilaku yang tidak bisa diterima dalam masyarakat yang beradab," kata Hakim Roldolfo Azucena saat membacakan keputusan, Kamis (29/11).

"Pembunuhan tak pernah bisa menjadi jalan penegakan hukum. Kedamaian masyarakat tidak pernah dibangun di atas nyawa manusia lain," tambahnya.

Pembunuhan Kian Delos Santos di ibu kota, Manila, telah menjadi salah satu kematian paling menghebohkan dalam aksi memerangi narkoba yang menjadi kebijakan Duterte.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Warga saat pemakaman Kian Delos Santos di Manila, 26 Agustus tahun lalu.

Dia ditemukan terbunuh di sebuah gang. Dia dituduh oleh polisi sebagai pengedar obat bius - namun pihak keluarga membantahnya. Polisi mengatakan mereka membunuhnya sebagai tindakan membela diri.

Namun muncul rekaman CCTV yang bertentangan dengan laporan resmi polisi, dan memicu kemarahan publik yang besar dan protes.

Dua bulan setelah pembunuhan itu, polisi diperintahkan untuk menghentikan operasi anti-narkoba. Namun operasi itu dilancarkan lagi pada Desember tahun lalu, karena, menurut Presiden Duterte situasi terkait narkoba di Filipina memburuk.

Tentang vonis terhadap tiga petugas polisi dalam pembunuhan Kian Delos Santos, Human Rights Watch menyebutnya sebagai 'kemenangan keadilan dan akuntabilitas.'

Lembaga itu juga mengatakan, putusan pengadilan itu merupakan "peringatan kepada para petugas Kepolisian Nasional Filipina untuk menghormati proses hukum dan hak-hak warga sipil saat mereka menjalankan tugas mereka".

Hak atas foto Santigao
Image caption Seorang tersangka pengedar narkoba, tewas dalam penggrebekan polisi.
Hak atas foto Santigao
Image caption Setiap waktu jasad tersangka pengedar narkoba terkapar di jalanan kota di seantero Filipina.

Ini pertama kalinya petugas negara yang terlibat dalam pembunuhan 'perang melawan narkoba' dinyatakan bersalah dan dihukum.

Ketiga polisi terpidana polisi itu juga tidak berhak memperoleh pembebasan bersyarat.

Berita terkait