Demonstrasi 'rompi kuning' menyebabkan 'bencana ekonomi' di Prancis

paris Hak atas foto AFP
Image caption Sedikitnya 50 kendaraan dibakar saat demonstrasi berlangsung di Paris, Sabtu (8/12).

Gelombang demonstrasi 'rompi kuning' telah menyebabkan "sebuah bencana" bagi ekonomi Prancis, kata Menteri Keuangan Bruno Le Maire.

Tak hanya itu, Le Maire menyebut situasi di Prancis sebagai "krisis" terhadap masyarakat dan demokrasi.

"Ini adalah bencana untuk bisnis, ini adalah bencana untuk ekonomi kami," ujarnya saat mengunjungi pertokoan di Paris yang dirusak selama unjuk rasa berlangsung.

Diperkirakan 125.000 demonstran turun ke jalanan di seluruh negeri pada Sabtu (8/12) siang, dan 10.000 di antaranya berunjuk rasa di Paris, yang juga mencatat kerusakan paling parah akibat bentrokan.

Di ibu kota Prancis itu, para penjarah menghancurkan etalase-etalase toko, dan membakar sejumlah mobil.

"Kerusakannya lebih parah kemarin daripada sepekan lalu karena demonstrasi lebih tersebar," papar wakil walikota Paris, Emmanuel Gregoire, kepada stasiun radio setempat.

Namun, tambahnya, korban cedera selama unjuk rasa pada Sabtu jauh jebih sedikit daripada seminggu lalu.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron—yang dituntut mundur oleh pengunjuk rasa—akan menyampaikan pidato nasional pada Senin (10/12). Dalam kesempatan itu dia diperkirakan akan mengumumkan langkah-langkah untuk meredam krisis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kaca-kaca sejumlah toko di Paris yang dipecahkan oleh para pengunjuk rasa.

Seberapa parah kerusakan ekonomi di Prancis?

Masih terlalu dini untuk menghitung secara luas dampak ekonomi dari gelombang unjuk rasa 'rompi kuning', namun jelas secara kasat mata bahwa kerusakan yang ditimbulkan cukup parah.

Surat kabar Le Parisien melaporkan, sedikitnya 50 kendaraan dibakar, puluhan toko dirusak, dan sebagian lainnya dijarah.

Beberapa pejabat kota mengatakan huru-hara di Paris menimbulkan kerusakan bernilai jutaan poundsterling.

Pada Jumat (7/12), federasi peritel Prancis mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa para peritel telah kehilangan sekitar satu miliar euro (Rp16,5 triliun) sejak demonstrasi dimulai pada 17 November.

Pekan lalu, Menteri Keuangan Bruno Le Maire mengatakan sebelum demonstrasi berlangsung pada akhir pekan, bisnis restoran menurun antara 20% hingga 50%.

Kemudian, Francois Asselin selaku kepala konfederasi usaha kecil dan menengah, memaparkan kepada surat kabar Journal du Dimanche bahwa rentetan demonstrasi ini bisa menyebabkan kerugian 10 miliar euro (Rp165 triliun).

Ada pula kecemasan bahwa gelombang demonstrasi ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah wisatawan. Sebagai catatan, menurut kantor pariwisata Paris, ibu kota Prancis itu dikunjungi lebih dari 40 juta turis pada 2017.

Image caption Peta penutupan kegiatan di Prancis

Apa yang dimaksud dengan gerakan rompi kuning?

Para pengunjuk rasa disebut demonstran 'gilets jaunes ' karena mereka mengenakan rompi kuning yang wajib ada di setiap kendaraan di Prancis.

Awalnya, mereka menggelar unjuk rasa menentang kenaikan pajak bahan bakar diesel.

Harga diesel telah naik 23% selama 12 bulan terakhir dan presiden menerapkan tambahan kenaikan pajak 6,5 sen pada diesel dan 2,9 sen pada bensin mulai 1 Januari.

Padahal, selama ini diesel banyak digunakan pengendara dan relatif lebih murah karena nilai pajaknya rendah dibanding jenis bahan bakar lain.

Macron beralasan pajak diesel perlu dinaikkan karena harga bahan bakar dunia melonjak. Lagipula, menurutnya, pajak bahan bakar fosil perlu ditingkatkan guna mendanai investasi energi terbarukan.

Setelah ditentang, pemerintah sepakat menunda kenaikan pajak bahan bakar sekaligus mematok harga gas dan listrik untuk 2019.

Akan tetapi, gerakan 'rompi kuning' tidak berhenti. Unjuk rasa kemudian melebar ke topik lainnya, seperti tuntutan kenaikan upah, penurunan pajak, fasilitas pensiun yang lebih baik, serta kemudahan kriteria masuk universitas.

Wartawan BBC Lucy Williamson di Paris mengatakan, tujuan utama demonstrasi itu adalah menyoroti frustrasi atas ekonomi dan ketidakpercayaan politik dari keluarga-keluarga pekerja miskin, yang masih memiliki dukungan luas.

Topik terkait

Berita terkait