Krisis Zimbabwe: Pengalaman warga Indonesia siasati kenaikan harga dan kelangkaan kebutuhan pokok

Warga Zimbabwe Hak atas foto Reuters
Image caption Seorang pedagang menghitung surat utang logam di tempat penukaran uang di Harare, Rabu (23/01).

Harga-harga kebutuhan pokok di Zimbabwe selama sekitar satu pekan terakhir melonjak tajam menyusul kenaikan bahan bakar minyak (BBM) lebih dari dua kali lipat.

Harga beras rata-rata sekarang Rp53.000 per kilogram, padahal pekan lalu harganya masih Rp26.000. Harga gula melonjak dari Rp28.000 per kilogram menjadi Rp52.000.

Kenaikan harga ini tentu memberikan pukulan lebih lanjut kepada rakyat Zimbabwe yang telah mengalami krisis ekonomi selama bertahun-tahun.

Tidak saja mereka harus membelanjakan uang lebih besar lagi, mereka pun harus berjuang untuk mendapatkan barang-barang itu karena belum tentu tersedia di pasar atau toko.

Berikut pengalaman Adi, seorang warga negara Indonesia yang telah bekerja di Zimbabwe selama hampir 14 tahun terakhir, sebagaimana dituturkannya kepada wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, Rabu (23/01).

Adi tinggal di Bulawayo, kota terbesar kedua di Zimbabwe, sekitar 433 km ke arah selatan dari ibu kota Harare.

Harga sembako naik drastis, harus antre

Untuk harga-harga sembako memang naik drastis setelah harga bahan bakar minyak dinaikkan seminggu lalu. Harga-harga melonjak dua hingga lima kali setelah kenaikan, malah ada yang lebih parah, roti yang dulu U$1 (sekitar Rp14.000) menjadi U$5-10 (Rp70.000-140.000), tidak terkontrol.

Hak atas foto Reuters
Image caption Seorang pedagang menghitung surat utang sebagai ganti dari uang tunai di pasar Harare.

Itupun antre panjang untuk mendapatkannya, tapi itu saat toko-toko dan supermarket baru buka sekitar tanggal 18 Januari setelah shut down (penutupan sementara). Beberapa hari sesudahnya sudah mulai turun harganya, tapi minimal US$1.5 dari sebelumnya 80 sen atau U$1 untuk satu batang roti.

Menghemat uang, antre semalam

Kita sudah mengalami krisis parah tahun 2008 2009 saat Zimbabwe menggunakan mata uang dolar Zimbabwe dulu, lalu mulai berakhir setelah sekitar pertengahan 2009 mulai pakai dolar Amerika. Jadi kita secara mental tidak kaget dengan krisis yang sekarang.

Saya dengan istri dan anak tidak pernah sampai tidak bisa makan misalnya, paling jauh ya pilihan jadi berkurang. Kita bisa atur keuangan agar lebih irit. Sekolah anak juga lancar pembiayaannya, kecuali kita sedih minggu lalu selama empat hari ia tidak masuk sekolah karena ada shut down.

Mungkin bensin yang paling menyulitkan kita karena harus antre panjang dan lama. Saya dengan istri dua minggu lalu, di mobil berbeda, sempat semalam tidur di mobil agar mendapatkan bensin, tapi akhirnya tidak dapat juga.

Mobil pernah antri dua setengah hari, walau setengahmya dititipkan orang, tapi akhirnya gagal juga mendapatkan bensin.

Sebenarnya memang krisisnya bertahun-tahun tapi tidak separah beberapa bulan terakhir ini.

Kurangi daging dan tak belanja di supermarket

Untuk mensiasati kenaikan harga bahan-bahan makanan, kita berusaha untuk agak ngirit, tidak usah sering makan daging, cukup dengan ayam atau ikan. Kebetulan saya sendiri juga tidak makan daging merah. Kita juga lebih sering belanja di flea market (pasar pinggir jalan), dan tidak perlu gengsi harus belanja buah dan sayuran di supermarket. Saya dan istri punya prinsip yang sama dalam hal ini.

Hak atas foto ADI
Image caption Adi dan keluarga menanam buah-buahan dan sayur di kebun sebagai salah satu cara mengatasi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Memang kesannya kualitas buah dan kebersihan tidak sebagus di supermarket tapi saya dan istri menikmati saja belanja sayur dan buah di flea market, di rumah kita bersihkan, dimasak yang baik dan sama saja rasanya dengan yang dibeli di supermarket, tapi harga di flea market jauh lebih murah.

Beruntunglah saya, sebelum krisis dengan inflasi tinggi ini saya sudah punya stok untuk beberapa sembako seperti beras, gula, minyak dan lain-lain.

Jadi ketika orang-orang antre membeli sembako di supermarket, istri dan anak saya yang sedang belanja hanya membeli bahan makanan lain seperti ayam, sosis yang ternyata kenaikannya tidak begitu tinggi.

Menanam sayur, membuat tempe

Saya dan istri juga punya rencana untuk lebih menghemat uang, yaitu belanja sembako dan barang lain-lain yang diperlukan dari Afrika Selatan yang jauh lebih murah, kadang beli melalui runner, yaitu orang-orang yang punya usaha jasa membelikan dan membawakan barang-barang terutama dari Afrika Selatan, dan dibawa ke Zimbabwe.

Hak atas foto ADI
Image caption Surat utang diterbitkan bank sentral Zimbabwe sebagai ganti uang tunai dolar AS.

Umumnya mereka minta komisi 25-30%, ini masih jauh lebih murah daripada membeli di Zimbabwe. Istri saya dengan anak, Desember lalu dan juga hari Jumat sampai Selasa depan akan ke Afrika Selatan untuk belanja bahan makanan, naik bus pulang pergi.

Hak atas foto ADI
Image caption Tempe, yang bukan merupakan produk Zimbabwe, harus dibuat sendiri.

Jarak Bulawayo ke perbatasan Afrika Selatan hanya sekitar 350km, jadi kalau cuma belanja di kota kecil Musina di Afrika Selatan akan cepat, tapi kita ingin terus ke kota besar Johannesburg yang supermarketnya lengkap, masih 520km dari perbatasan, jadi perlu waktu lebih lama.

Selain itu saya juga bertanam sayuran di rumah seperti kangkung, bayam, singkong, cabai dan lain-lain, jadi ketika memasak sayur maka sayurnya dari kebun sendiri. Saya juga punya ragi tempe untuk membuat tempe sendiri.

Secara umum, saya merasa aman, apalagi saya dan keluarga sudah diperhatikan juga oleh pihak KBRI di Harare. Mereka terus menanyakan situasi keamanan kita, mereka menawarkan bantuan jika ada yang kita perlukan, termasuk evakuasi jika ada situasi darurat.

Topik terkait

Berita terkait