Diancam dibunuh, politisi gay Brasil menolak kembali ke negaranya

Jean Wyllys Hak atas foto AFP
Image caption Wyllys mengatakan rencananya meraih gelar doktor.

Seorang politisi gay Brasil mengatakan ia tidak akan kembali ke negaranya setelah menerima ancaman pembunuhan.

Jean Wyllys, satu dari segelintir anggota kongres yang mengaku secara terbuka sebagai seorang gay, mengungkapkan kepada sebuah surat kabar, ia tidak berdaya karena reputasinya "dihancurkan oleh kebohongan".

Ia mengatakan kekerasan di Brasil memburuk sejak pemilihan presiden sayap kanan Jair Bolsonaro tahun lalu.

Bolsonaro bukan hanya bersumpah untuk memberantas korupsi dan kejahatan, tetapi juga melontarkan pernyataan-pernyataan rasis dan homofobia.

Namun dalam pidato pelantikannya awal bulan ini ia berjanji akan membangun "masyarakat tanpa diskriminasi atau perpecahan".

Partai sayap kiri yang menaungi Wyllys, Partai Sosialisme dan Kebebasan (PSOL) menyebutkan posisi Wyllys di Kongres akan digantikan oleh David Miranda, anggota dewan kota Rio de Janeiro yang juga seorang gay dan menikah dengan wartawan AS pemenang hadiah Pulitzer, Glenn Greenwald.

Dalam wawancaranya dengan surat kabar Folha de Sao Paulo, Wyllys, 44 tahun, mengatakan ia menjadi sasaran fitnah di media sosial, dan ancaman kepadanya juga menyasar kepada anggota keluarganya.

Wyllys mengatakan pernah didorong ke jalan hingga jatuh meski didampingi para pengawalnya. Ia pun mengatakan lelah dengan hidupnya yang terus mendapat penjagaan sejak pembunuhan Marielle Franco, anggota PSOL lainnya.

Marielle Franco sendiri tewas ditembak di Rio de Janeiro pada Maret 2018.

"Itu bukan sekedar soal pemilihan Bolsonaro. Namun tingkat kekerasan yang telah meningkat sejak ia terpilih," katanya.

Dalam sebuah twit ia menulis,"Hidup dalam ancaman juga bisa menjadi strategi untuk berjuang menghadapi hari-hari yang lebih baik."

Wyllys - yang tenar setelah memenangkan acara televisi realitas Big Brother - memutuskan untuk pindah ke luar negeri setelah beredar laporan putra Bolsonaro, Flavio mempekerjakan kerabat seorang mantan polisi yang diduga terlibat dalam kematian Franco.

Saat ini ia tengah berkeliling Eropa dan mengatakan kepada Folha ia bermaksud mencari tempat untuk studi meraih gelar doktor.

"Saya pikir kekerasan politik di negara kita sekarang ini akan berlalu. Mungkin saya akan kembali ke sini di masa yang akan datang. Ada banyak cara lain untuk memperjuangkan tujuan yang tidak institusional," katanya.

Topik terkait

Berita terkait